Saturday, May 4, 2013

My Girl #2


@rumah shilla.

“shilla!!”

“shill, ada yang manggil” kata alvin.

“tolong suruh masuk kak, itu sepupu aku” kata shilla yang sedang ada di dapur mecuci piring bekas makannya tadi.

Alvin malas-malasan, dan berjalan menuju depan rumah shilla yang cukup besar itu. Dilihatnya gadis seumuran dengannya dan shilla.

“lo sepupunya shilla?” tanya alvin basa basi.

“iya” gadis itu memperhatikan alvin, mirip sekali dia dengan masa lalunya yang sudah ia lupakan itu.

“hey” alvin melambaikan tangannya didepan wajah gadis itu.

“eh iya”

“ayok masuk” kata alvin cuek lalu ingin berjalan masuk.

“woy” teriak gadis itu, alvin menoleh tanpa berkata apapun.

“bantuin gue kek, gak liat apa ini bawaan gua banyak” kata gadis itu menunjuk koper dan belanjaan shoppingnya. Alvin mendengus kesal dan membantu gadis itu. ia tak suka dengan gadis ini, seenaknya dan tidak sopan

“agni!!” pekik shilla lalu memeluk gadis itu –agni-

“hai shill, maaf baru dateng. Em, gue turut berduka ya shill” kata agni melepas pelukan shilla. Shilla hanya mengangguk.

Alvin tau pasti dia akan dicuekin, dia berniat untuk pulang. Alvin meletakkan barang-barang agni. “aku pulang shill” kata alvin langsung pergi.

“eh, kak! Yah keburu pulang”

“pacar shill?” tanya agni duduk di sofa.

“bukan ag, dia kakaknya sahabat gue” katanya. Agni hanya membulatkan mulutnya. Shilla melirik barang bawaan agni.

“ag, lo habis belanja ya?” agni mengangguk, matanya terpejam-pejam. Shilla yang mengerti mengantarkan agni ke kamar.

***

Alvin memasuki rumahnya, dilihatnya ada ify dan dea sedang bergurau. Ify sadar akan kedatangan alvin. “woy vin, lesu amat muka” alvin tak menanggapinya. Ia langsung naik ke kamarnya yang dilantai atas.

“alvin kenapa de?” tanya ify

“gaktau, galau mungkin” jawab dea sekenanya.

“galau? Serius? Alvin bisa galau? Makhluk cuek bebek kayak dia galau?” tanya ify rombongan.

“alvin juga manusia~ hahaha” nyanyi dea.
Tak lama rio masuk kerumah nya tanpa permisi pada ify dan dea.

“heh, heh, heh. Main masuk aja lo. Ngapain? Maling?” dea menghampiri rio.

“gua kira gak ada orang, mana alvin?” tanya rio.

“sial, lo kira kita setan. Di kamar.” Kata dea kembali duduk. Ify hanya diam melihatnya.

“pangeran lo tuh,” ify hanya senyum.

@Sekolah.

Mobil alvin sampai ke parkiran sekolah, kini penumpangnya bertambah dua orang. Shilla dan agni sepupunya. Kedatangan alvin selalu menjadi sensasi bagi kaum wanita di pagi hari, fans fans alvin yang suka caper.

Gabriel menghampiri dea, “hai de” dea hanya tersenyum.

“ke kelas bareng yuk” ajaknya, butuh keberanian untuk mengajak dea, pasalnya ini awal pdkt nya dengan dea. Dea tak heran, karna dea cukup dekat juga dengan gabriel.

“vin, shill, ag, gue duluan ya”

“oke”

Alvin, shilla dan agni jalan berjejer di koridol sekolah. Shilla yang diapit oleh agni dan alvin melihat tatapan sinis dari teman-teman yang ia lewati.

“ganjen banget sih shilla deket-deket alvin”

“siapa tuh? Cewek apa cowo?”

“anak baru ya?”

Shilla makin sebal dengan semua bisikan sinis yang terdengar di telinganya. Akhirnya mereka sampai juga dikelas, dan bertepatan juga dengan guru yang masuk. Alvin dan shilla masuk duluan. Agni masih berdiri di depan kelas yang pandangannya tertuju pada cowok putih yang duduk di paling depan. Kenapa gua harus ketemu lo lagi, batinnya.

“perkenalkan nama kamu” tegas pak joe.

“nama saya agni tri nabuwati, pindahan dari bandung. Senang bertemu kalian” ucap agni.

“kamu duduk disebelah alvin”

Alvin menghela nafas, ia mempersilahkan agni melewatinya dan duduk di dekat tembok.
30menit pelajaran, cakka terlihat gelisah. Ingin sekali menengok ke belakang tapi rasanya lehernya sangat sulit iya gerakkan. Iel yang menyadarinya berbisik pada cakka.

“lo tenang kka, seperti biasa aja” cakka mengangguk pelan.

Istirahat tiba, alvin dan rio berjalan ke kantin.

“shill, sepupu lo?” tanya ify yang sudah berada di samping shilla.

“eh iya, kenapa fy? Mau kenalan?” ify mengangguk. Shilla memukul pundak agni pelan. Agni menoleh.

“ag, kenalin ini ify temen gue, kalo dea lo udah tau kan.”

“agni” dia menjulurkan tangannya.

“alyssa, panggil ify aja” senyum ify menyambut tangan agni.

“mau ke kantin gak ag?” tawar dea. Agni menggeleng.

“yaudah, duluan ya ag. Yuk fy, de” kata shilla.

Gabriel juga berjalan keluar kelas, membiarkan cakka dan agni berdua di kelas yang memang sudah sepi ini. Dia menyamai langkahnya dengan dea dan merangkulnya dari belakang “bareng ya de,” dea hanya tersenyum.

“cieee” sorak shilla dan ify.

Suara ify, dea, shilla dan gabriel sudah tak terdengar lagi. Cakka memberanikan diri menyapa agni.

“ag”

“langsung ngomong aja” katanya dingin.

“lo kenapa pergi gak bilang gua ag?” tanya cakka lirih.

“buat apa? Udah lah kka, lo sama gua udah berakhir” kata agni berdiri ingin meninggalkan cakka. Cakka menahan tangan agni.

“lepas!” tepis agni.

“ag! Jelasin ke gua kenapa lo dulu gak kasih kabar saat lo pergi ke bandung? Dan kenapa lo bersikap gini ke gua?!” kata cakka dengan penuh penekanan.

Agni menatap tajam cakka “dulu gua emang cinta sama lo kka, gua pergi karna gua gak mau lo sedih atas kepergian gua kebandung. Dan lo tanya kenapa sikap gua begini? Gua pengen lupain elo kka, plis ngertiin gua!” agni pun keluar kelas menyusul teman-temannya.

***

“Hai rio sayang” oik menghampiri rio yang sedang berbincang dengan alvin, ia menggandeng mesra tangan rio.

“lo apasih ik, lepas ah” kata rio, risih rasanya di gandeng dengan wanita ini.

“ih rio mah”

“pergi ah sana!” usir rio pelan. Alvin hanya tersenyum tipis melihat temannya yang satu ini.

“apa lo vin senyum-senyum!” sinis oik. Alvin hanya menaikkan alis.

“aku gak bakal nyerah buat dapetin kamu rio, remember it!” kata oik mantap sambil berlalu.

“kekeuh banget si oik yo” kata alvin terperangah.

“biarin lah vin semau dia aja”
Agni memasuki kantin yang sebenarnya lebih mirip cafe itu, dicarinya meja shilla dan teman-temannya. Tapi yang dilihat malah meja rio dan alvin. Ia berniat menghampirinya.

“hai vin” sapa agni

“ngapain?” tanya alvin cuek.

“cuek amat sih, gue boleh duduk sini gak?”

“duduk aja ag” sahut rio.

“shilla dimana ya vin?” tanya agni lagi. Alvin hanya mengankat bahunya. Ia mengeluarkan ponselnya dan memainkannya. Agni bingung mengapa alvin ketus padanya. Apa yang salah darinya.

***

Alvin merapikan buku-bukunya kedalam tas. Ingin cepat-cepat pulang rasanya.

“vin, gue pulang sama iel ya, mau ke toko buku sekalian” kata dea senyum-senyum. Alvin hanya mengangguk menanggapi saudara kembarnya ini.

“ayo shill” kata alvin melewati agni begitu saja. Agni mendengus kesal, mengapa ia selalu dicuekin sama alvin.

Selama berjalan ke parkiran alvin bergurau dengan shilla tanpa memperdulikan keberadaan agni.

Disisi lain, ify terlihat kebingungan “ih, kok gak bilang daritadi sih pak, yaudah deh ify pulang sendiri” ucap ify lalu mematikan sambungan telfonnya.

“gue pulang naik apa dong? Masa naik angkot? Kan gua gak tau”

Dari jauh rio melihat ify uring-uringan sendiri, dia memasang helm full face nya dan menghampiri ify dengan motor vixion birunya

“kenapa fy?” tanya rio membuka helm full face nya. Ify kaget, jangan bilang rio akan menawarinya pulang bareng.

“eh..itu.. em gue gak dijemput” katanya berharap.

“gak naik angkot?”

“gue gak tau naik yang mana”

“yaudah naik”

Hah, serius nih? Asikkk. Batin ify senang. Ia menaiki motor rio. Selama perjalanan ify hanya menutup mata dengan tangannya, ia takut karna rio membawa motor dengan cepat alias ngebut, mau pegangan tapi gengsi.

“pegangan fy kalo takut” kata rio yang seakan tau apa yang ify rasakan, dengan ragu ify melingkarkan tangan putihnya di pinggang rio. Wajahnya merona, rio dapat melihat jelas dari spionnya akan ekspresi wajah ify, dia hanya tersenyum.

***

Iel sedaritadi melihat gadis yang dicintainya ini memilih-milih buku. Wajahnya sangat serius saat memilih buku, tanpa sadar bibir iel membentuk senyuman. Mengapa dirinya bisa jatuh cinta pada wanita ini.

“iel, yuk bayar bukunya” kata dea menyadarkan lamunan iel. Iel sedikit kaget melihat buku 
yang dibawa dea.

“lo beli segini de? Lo suka banget baca ya?” tanya iel sambil berjalan menuju kasir pembayaran. Dea hanya mengangguk.

“semuanya 254.000”

“nih uangnya” iel menyodorkan uang 300.000

“eh iel, kok elo yang bayar sih. Ih gausah gue aja” dea merasa tak enak. Iel hanya tersenyum.

“gak papa kok de,” dea hanya manyun, iel mengacak-acak poni dea dan mengambil kembaliannya.

“yuk pulang,” tanpa sadar iel menggandeng tangan dea, untung iel tak melihat ekspresi dea, baru kali ini dea merasa nyaman didekat laki-laki kecuali alvin dan ayahnya.

***

“thanks ya kak, aku sama agni masuk dulu” kata shilla lalu masuk kerumahnya bersama agni.

Sesampainya di dalam, agni langsung menanyakan pada shilla tentang kecuekan alvin pada dirinya.

“em gue sih kurang tau ag kenapa ka alvin gitu sama lo, mungkin karna dia baru kenal elo ag, emang kenapa?”

“gapapa, gue kesel aja dicuekin mulu sama dia, serasa gak dianggep gue shill”

***

“thanks ya” kata ify turun dari motor rio. Rio hanya memamerkan senyumnya lalu pergi begitu saja. Ify kegirangan. Diboncengin? Sama rio? Seneng lah, siapa coba yang gak seneng dianter pulang sama sang pujaan hati.

Deva adik ify yang sedari tadi melihat kepulangan kakaknya hanya bergidik ngeri, ada apa dengan kakaknya? Senyum senyum sendiri. Masa iya kesurupan.

Ify pun yang akhirnya menyadari tatapan deva bertanya “kenapa dev?”

“harusnya gua yang tanya, lo kenapa senyum-senyum?”

“urusan anak gede, gue ke kamar dulu ya dep”

“terus aja masih anggep gua bocah”

Dikamarnya, tak henti-hentinya ify tersenyum. Apa rio menyukainya? Apa hanya kasihan melihat ify tidak dijemput tadi? Lama-lama ify terlelap. Semoga saja rio menyukainya.

Bersambung...

No comments:

Post a Comment