@rumah shilla.
“shilla!!”
“shill, ada
yang manggil” kata alvin.
“tolong
suruh masuk kak, itu sepupu aku” kata shilla yang sedang ada di dapur mecuci
piring bekas makannya tadi.
Alvin
malas-malasan, dan berjalan menuju depan rumah shilla yang cukup besar itu.
Dilihatnya gadis seumuran dengannya dan shilla.
“iya” gadis
itu memperhatikan alvin, mirip sekali dia dengan masa lalunya yang sudah ia
lupakan itu.
“hey” alvin
melambaikan tangannya didepan wajah gadis itu.
“eh iya”
“ayok masuk”
kata alvin cuek lalu ingin berjalan masuk.
“woy” teriak
gadis itu, alvin menoleh tanpa berkata apapun.
“bantuin gue
kek, gak liat apa ini bawaan gua banyak” kata gadis itu menunjuk koper dan
belanjaan shoppingnya. Alvin mendengus kesal dan membantu gadis itu. ia tak suka dengan gadis ini, seenaknya dan tidak sopan
“agni!!”
pekik shilla lalu memeluk gadis itu –agni-
“hai shill,
maaf baru dateng. Em, gue turut berduka ya shill” kata agni melepas pelukan
shilla. Shilla hanya mengangguk.
Alvin tau
pasti dia akan dicuekin, dia berniat untuk pulang. Alvin meletakkan
barang-barang agni. “aku pulang shill” kata alvin langsung pergi.
“eh, kak!
Yah keburu pulang”
“pacar
shill?” tanya agni duduk di sofa.
“bukan ag,
dia kakaknya sahabat gue” katanya. Agni hanya membulatkan mulutnya. Shilla
melirik barang bawaan agni.
“ag, lo
habis belanja ya?” agni mengangguk, matanya terpejam-pejam. Shilla yang
mengerti mengantarkan agni ke kamar.
***
Alvin memasuki
rumahnya, dilihatnya ada ify dan dea sedang bergurau. Ify sadar akan kedatangan
alvin. “woy vin, lesu amat muka” alvin tak menanggapinya. Ia langsung naik ke
kamarnya yang dilantai atas.
“alvin
kenapa de?” tanya ify
“gaktau,
galau mungkin” jawab dea sekenanya.
“galau?
Serius? Alvin bisa galau? Makhluk cuek bebek kayak dia galau?” tanya ify
rombongan.
“alvin juga
manusia~ hahaha” nyanyi dea.
Tak lama rio
masuk kerumah nya tanpa permisi pada ify dan dea.
“heh, heh,
heh. Main masuk aja lo. Ngapain? Maling?” dea menghampiri rio.
“gua kira
gak ada orang, mana alvin?” tanya rio.
“sial, lo
kira kita setan. Di kamar.” Kata dea kembali duduk. Ify hanya diam melihatnya.
“pangeran lo
tuh,” ify hanya senyum.
@Sekolah.
Mobil alvin
sampai ke parkiran sekolah, kini penumpangnya bertambah dua orang. Shilla dan
agni sepupunya. Kedatangan alvin selalu menjadi sensasi bagi kaum wanita di
pagi hari, fans fans alvin yang suka caper.
Gabriel
menghampiri dea, “hai de” dea hanya tersenyum.
“ke kelas
bareng yuk” ajaknya, butuh keberanian untuk mengajak dea, pasalnya ini awal
pdkt nya dengan dea. Dea tak heran, karna dea cukup dekat juga dengan gabriel.
“vin, shill,
ag, gue duluan ya”
“oke”
Alvin,
shilla dan agni jalan berjejer di koridol sekolah. Shilla yang diapit oleh agni
dan alvin melihat tatapan sinis dari teman-teman yang ia lewati.
“ganjen
banget sih shilla deket-deket alvin”
“siapa tuh?
Cewek apa cowo?”
“anak baru
ya?”
Shilla makin
sebal dengan semua bisikan sinis yang terdengar di telinganya. Akhirnya mereka
sampai juga dikelas, dan bertepatan juga dengan guru yang masuk. Alvin dan
shilla masuk duluan. Agni masih berdiri di depan kelas yang pandangannya
tertuju pada cowok putih yang duduk di paling depan. Kenapa gua harus ketemu lo
lagi, batinnya.
“perkenalkan
nama kamu” tegas pak joe.
“nama saya
agni tri nabuwati, pindahan dari bandung. Senang bertemu kalian” ucap agni.
“kamu duduk
disebelah alvin”
Alvin
menghela nafas, ia mempersilahkan agni melewatinya dan duduk di dekat tembok.
30menit
pelajaran, cakka terlihat gelisah. Ingin sekali menengok ke belakang tapi
rasanya lehernya sangat sulit iya gerakkan. Iel yang menyadarinya berbisik pada
cakka.
“lo tenang
kka, seperti biasa aja” cakka mengangguk pelan.
Istirahat
tiba, alvin dan rio berjalan ke kantin.
“shill,
sepupu lo?” tanya ify yang sudah berada di samping shilla.
“eh iya,
kenapa fy? Mau kenalan?” ify mengangguk. Shilla memukul pundak agni pelan. Agni
menoleh.
“ag, kenalin
ini ify temen gue, kalo dea lo udah tau kan.”
“agni” dia
menjulurkan tangannya.
“alyssa,
panggil ify aja” senyum ify menyambut tangan agni.
“mau ke
kantin gak ag?” tawar dea. Agni menggeleng.
“yaudah,
duluan ya ag. Yuk fy, de” kata shilla.
Gabriel juga
berjalan keluar kelas, membiarkan cakka dan agni berdua di kelas yang memang
sudah sepi ini. Dia menyamai langkahnya dengan dea dan merangkulnya dari
belakang “bareng ya de,” dea hanya tersenyum.
“cieee”
sorak shilla dan ify.
Suara ify,
dea, shilla dan gabriel sudah tak terdengar lagi. Cakka memberanikan diri
menyapa agni.
“ag”
“langsung
ngomong aja” katanya dingin.
“lo kenapa
pergi gak bilang gua ag?” tanya cakka lirih.
“buat apa?
Udah lah kka, lo sama gua udah berakhir” kata agni berdiri ingin meninggalkan
cakka. Cakka menahan tangan agni.
“lepas!”
tepis agni.
“ag! Jelasin
ke gua kenapa lo dulu gak kasih kabar saat lo pergi ke bandung? Dan kenapa lo
bersikap gini ke gua?!” kata cakka dengan penuh penekanan.
Agni menatap
tajam cakka “dulu gua emang cinta sama lo kka, gua pergi karna gua gak mau lo
sedih atas kepergian gua kebandung. Dan lo tanya kenapa sikap gua begini? Gua pengen
lupain elo kka, plis ngertiin gua!” agni pun keluar kelas menyusul
teman-temannya.
***
“Hai rio
sayang” oik menghampiri rio yang sedang berbincang dengan alvin, ia menggandeng
mesra tangan rio.
“lo apasih
ik, lepas ah” kata rio, risih rasanya di gandeng dengan wanita ini.
“ih rio mah”
“pergi ah
sana!” usir rio pelan. Alvin hanya tersenyum tipis melihat temannya yang satu
ini.
“apa lo vin
senyum-senyum!” sinis oik. Alvin hanya menaikkan alis.
“aku gak
bakal nyerah buat dapetin kamu rio, remember it!” kata oik mantap sambil
berlalu.
“kekeuh
banget si oik yo” kata alvin terperangah.
“biarin lah
vin semau dia aja”
Agni memasuki
kantin yang sebenarnya lebih mirip cafe itu, dicarinya meja shilla dan
teman-temannya. Tapi yang dilihat malah meja rio dan alvin. Ia berniat
menghampirinya.
“hai vin”
sapa agni
“ngapain?”
tanya alvin cuek.
“cuek amat
sih, gue boleh duduk sini gak?”
“duduk aja
ag” sahut rio.
“shilla
dimana ya vin?” tanya agni lagi. Alvin hanya mengankat bahunya. Ia mengeluarkan
ponselnya dan memainkannya. Agni bingung mengapa alvin ketus padanya. Apa yang
salah darinya.
***
Alvin merapikan
buku-bukunya kedalam tas. Ingin cepat-cepat pulang rasanya.
“vin, gue
pulang sama iel ya, mau ke toko buku sekalian” kata dea senyum-senyum. Alvin hanya
mengangguk menanggapi saudara kembarnya ini.
“ayo shill”
kata alvin melewati agni begitu saja. Agni mendengus kesal, mengapa ia selalu
dicuekin sama alvin.
Selama berjalan
ke parkiran alvin bergurau dengan shilla tanpa memperdulikan keberadaan agni.
Disisi lain,
ify terlihat kebingungan “ih, kok gak bilang daritadi sih pak, yaudah deh ify
pulang sendiri” ucap ify lalu mematikan sambungan telfonnya.
“gue pulang
naik apa dong? Masa naik angkot? Kan gua gak tau”
Dari jauh
rio melihat ify uring-uringan sendiri, dia memasang helm full face nya dan
menghampiri ify dengan motor vixion birunya
“kenapa fy?”
tanya rio membuka helm full face nya. Ify kaget, jangan bilang rio akan
menawarinya pulang bareng.
“eh..itu..
em gue gak dijemput” katanya berharap.
“gak naik
angkot?”
“gue gak tau
naik yang mana”
“yaudah naik”
Hah, serius
nih? Asikkk. Batin ify senang. Ia menaiki motor rio. Selama perjalanan ify
hanya menutup mata dengan tangannya, ia takut karna rio membawa motor dengan
cepat alias ngebut, mau pegangan tapi gengsi.
“pegangan fy
kalo takut” kata rio yang seakan tau apa yang ify rasakan, dengan ragu ify
melingkarkan tangan putihnya di pinggang rio. Wajahnya merona, rio dapat melihat
jelas dari spionnya akan ekspresi wajah ify, dia hanya tersenyum.
***
Iel sedaritadi
melihat gadis yang dicintainya ini memilih-milih buku. Wajahnya sangat serius
saat memilih buku, tanpa sadar bibir iel membentuk senyuman. Mengapa dirinya
bisa jatuh cinta pada wanita ini.
“iel, yuk
bayar bukunya” kata dea menyadarkan lamunan iel. Iel sedikit kaget melihat buku
yang dibawa dea.
“lo beli
segini de? Lo suka banget baca ya?” tanya iel sambil berjalan menuju kasir
pembayaran. Dea hanya mengangguk.
“semuanya
254.000”
“nih uangnya”
iel menyodorkan uang 300.000
“eh iel, kok
elo yang bayar sih. Ih gausah gue aja” dea merasa tak enak. Iel hanya
tersenyum.
“gak papa
kok de,” dea hanya manyun, iel mengacak-acak poni dea dan mengambil
kembaliannya.
“yuk pulang,”
tanpa sadar iel menggandeng tangan dea, untung iel tak melihat ekspresi dea,
baru kali ini dea merasa nyaman didekat laki-laki kecuali alvin dan ayahnya.
***
“thanks ya kak,
aku sama agni masuk dulu” kata shilla lalu masuk kerumahnya bersama agni.
Sesampainya di
dalam, agni langsung menanyakan pada shilla tentang kecuekan alvin pada
dirinya.
“em gue sih
kurang tau ag kenapa ka alvin gitu sama lo, mungkin karna dia baru kenal elo
ag, emang kenapa?”
“gapapa, gue
kesel aja dicuekin mulu sama dia, serasa gak dianggep gue shill”
***
“thanks ya”
kata ify turun dari motor rio. Rio hanya memamerkan senyumnya lalu pergi begitu
saja. Ify kegirangan. Diboncengin? Sama rio? Seneng lah, siapa coba yang gak
seneng dianter pulang sama sang pujaan hati.
Deva adik
ify yang sedari tadi melihat kepulangan kakaknya hanya bergidik ngeri, ada apa
dengan kakaknya? Senyum senyum sendiri. Masa iya kesurupan.
Ify pun yang
akhirnya menyadari tatapan deva bertanya “kenapa dev?”
“harusnya
gua yang tanya, lo kenapa senyum-senyum?”
“urusan anak
gede, gue ke kamar dulu ya dep”
“terus aja
masih anggep gua bocah”
Dikamarnya,
tak henti-hentinya ify tersenyum. Apa rio menyukainya? Apa hanya kasihan
melihat ify tidak dijemput tadi? Lama-lama ify terlelap. Semoga saja rio
menyukainya.
Bersambung...
No comments:
Post a Comment