Garis demi garis ia
goreskan pada kanvas didepannya, kebiasaan yang sering ia lakukan, karna itu
memang hobi nya. Ashilla Zahrantiara atau lebih akrab disapa shilla. Gadis
cantik berambut panjang ini memang memiliki banyak bakat, mulai dari bernyayi,
melukis dan alat musik. Dan tak jarang banyak orang yang kagum pada dirinya
terutama kaum lelaki, tapi tak sedikit juga yang tak suka dengannya –sirik-
tapi belum ada lelaki yang bisa menembus hatinya, bukan karna apa-apa, tapi
memang dia belum memiliki perasaan terhadap lawan jenis.
Sepasang mata
sedaritadi hanya memandang shilla dari depan pintu ruang lukis itu, ujung
bibirnya pun tertarik membuat sebuah senyuman, senyum tipis yang selalu membuat
heboh para kaum perempuan.
@Kelas XII-1
“shilla mana?” tanya
dea teman sebangku shilla pada ify yang duduk di belakangnya. Ify yang sedang
asik membaca buku menoleh ke arah dea yang pandangannya belom lepas dari ponsel
yang dipegangnya.
“hah? Gua gak liat de. Coba
tanya rio” kata ify melirik teman sebangkunya. Yang disebut namanya hanya
mendelik –kok nanya gua?-
“paling ruang musik
atau lukis,” jawabnya singkat lalu melanjutkan aktifitasnya –makan chitato-
Dea hanya menepuk
dahinya, kenapa tak terpikirkan olehnya. Dea berlari keluar kelas tanpa
mengucapkan sepatah kata pun. Rio melirik ify, ify hanya mengangkat bahu.
@kantin.
“kka, kelas yuk. Keburu
masuk” aja gabriel pada cakka.
“bu winda hari ini gak
masuk,” jawab cakka santai sambil melanjutkan makannya, dia memang ketua kelas.
Perasaan tadi dia sudah memberitahu teman-teman sekelasnya bahwa bu winda hari
ini tidak masuk, tapi mengapa temannya yang satu ini tidak tau?
“haahh, syukur lah”
“btw, kapan lo mau
nembak dea?” tanya cakka to the point aja.
“nembak..nembak..
neneklo salto, pdkt aja belom asal tembak aja” jawab iel menoyor kepala cakka.
“auhh.. iya iya sorry,
makanya lama amat lo mau pdkt aja, jangan nge-secret admirer mulu lo kayak
alvin, tar keburu diambil orang aja” jawab cakka agak emosi.
“ya jugasih, tapi lo
bantu gua ya?”
“pasti bro, asal pj
plus plus buat gua. haha” tawa cakka.
“sialah. Eh lo masih
nyari dia?” tanya iel.
“dia? Oh iya. Hm, pasti
lah gua nyari dia sampe saat ini” senyum cakka.
“hh, lo gak mau pindah
haluan bro? Udah 3 tahun semenjak lo smp lo gak ketemu-ketemu sama
dia, dia
juga yang ninggalin lo kan? Pergi gak bilang-bilang”
“gua rasa gak akan
pindah haluan, first love itu susah dulipain bro”
***
Alvin berjalan menuju
kelasnya, dilihatnya tidak ada teman-temannya kecuali rio yang masih asik makan
chitato ditempatnya. Ia menghampiri rio.
“cakka sama iel mana?”
tanyanya duduk ditempat shilla yang memang didepan rio.
“masih di kantin, lo
dari mana aja?”
“dari—“ belom sempat
alvin menjawab rio sudah menyelanya.
“oh ya gausah dijawab,
i know you so well vin. haha” tawa rio. Alvin hanya menatap sebal terhadap
sahabatnya ini. Sudah tau nanya.
“vin liat dea gak tadi
diluar?” tanya ify yang baru selesai membaca bukunya dan memukul-mukul pundak
rio pelan tanda ia ingin keluar karna ia duduk didekat tembok. Rio pun
mempersilahkan ify keluar.
“liat tadi lari-lari ke
arah ruang lukis. Kenapa?” jawab dan tanya alvin.
“gapapa, thanks vin. Gua
nyusul dea dulu” alvin hanya mengangguk heran.
@ruang lukis.
“shilla!”
Shilla menoleh,
dilihatnya dea sedang tergesa-gesa. Shilla menghampiri dea. “tarik nafas dulu
de, ada apa?” tanyanya.
“hah hah. Lo baca nih.”
Dea menunjukkan ponselnya pada shilla, shilla membulatkan matanya, ia menutup
mulutnya, perlahan airmata keluar dari sudut matatanya.
“gak mungkin de, ini
bohong kan?” shilla mengguncangkan bahu dea. Dea hanya bisa menunduk. Shilla berlari
menuju kelasnya. Dan bertemu ify.
“shill, shilla. Lo kenapa?”
tanya ify panik. Shilla tak menjawab dia terus berlari menuju kelasnya. Ify juga
melihat dea berlari melewatinya.
***
Alvin kin
berbincang-bincang dengan rio dan gabriel, cakka yang sudah kembali dari
kantin.
“kekenyangan lo kka? Drtd
megangin perut aja?” tanya rio yang melihat cakka memegangi perutnya.
“iya yo, makan 2
mangkok mie ayam” sahut iel.
“gila rakus lo, cakdut
haha” tawa alvin.
Tiba-tiba tawa mereka
di kagetkan oleh shilla yang masuk ke kelas dengan banjir air mata.
“misi kak, aku mau
ambil tas” kata shilla langsung mengambil tasnya yang sedikit terhalang alvin. Masih
dengan isak tangis yang sedikit tertahan
“lo kenapa shill?”
tanya alvin sedikit khawatir
“lo balik shill?” tanya
cakka heran.
“cakka, izinin gue
pulang hari ini, terserah alasannya apa” katanya langsung pergi.
“loh.. loh. Shill! Shilla!
Lo mau kemana, hey!” panggil cakka.
Dea dan ify baru saja
datang. “vin tas gue vin tolong” pinta dea pada alvin yang duduk di tempat
shilla karna tasnya ada di kursi pojok sebelahnya.
“de, shilla kenapa?”
tanya rio
“hosh..hosh, iya de, lo
hutang penjelasan sama gue, main lari-lari aja lo. Capek gue” kata ify.
Dea menarik nafas
panjang “gini. Gue baru dapet kabar dari orang tua gue. Katanya...... orangtua
shilla meningal akibat kecelakaan pesawat saat mau pulang dari paris” katanya
miris. Semua kaget.
“yaampun de, lo serius?
Ayo kita susul shilla. Rio tas gue” kata ify
“dea...” lirih alvin. Dea
mengerti arti tatapan saudara kembarnya ini ingin sekali ikut untuk memberi
ketengan pada shilla. Berhubung rumah mereka juga berdekatan apalagi dea juga
sahabat ify, ia juga harus ikut.
Dea mengangguk “ayo”
Alvin bergerak
mengambil tasnya. “bro, lo semua bisa nyusul, gak enak kalo kita pergi semua,
kka, izini kita. Ayo de, fy”
@pemakaman
Pemakaman sudah
berakhir. Shilla tak henti-hentinya menangis, shilla yang melihat dea, ify dan
alvin datang langsung memeluk dea.
“shilla, sabar shill. Lo
jangan nangis gini” kata dea mengelus rambut panjang shilla, shilla hanya
mengangguk pelan menahan isak tangis nya.
“iya shill, lo jangan
gini ya. Shilla kan strong” senyum ify. Shilla melepas pelukan dea, dia melihat
alvin hanya diam saja.
“kak alvin, lo..lo
disini?” tanyanya masih dengan sesenggukan. Shilla memang memanggil alvin
dengan sebutan ‘kak’ karna alvin memang lebih tua 5 bulan dari shiilla. Tapi tidak
untuk dea.
Alvin hanya mengangguk
tersenyum. Shilla berjalan menghampiri alvin, dan memeluknya secara tiba-tiba. Alvin
pun sangat kaget campur senang. Perlahan membalas pelukan gadis itu dan
membelai rambut panjangnya.
“aku gak bisa rasain
pelukan terakhir papa, hiks” alvin paham dengan ucapan shilla, ia ingin
merasakan pelukan ayahnya, mungkin dengan memeluk alvin ia bisa sedikit tenang.
Dea tersenyum melihatnya tapi ify malah heran.
“ayok fy, kita duluan. Vin,
shill kita duluan ya” kata dea menarik lengan ify.
“kok pulang de, itu
shilla? Alvin? De, dea” tapi dea terus menarik lengan ify. Alvin tersenyum
terimakasih pada dea karna mengerti dirinya.
“shilla? Balik yuk,
kamu mau disini terus apa?” tanya alvin melepas pelukannya. Shilla menghapus
airmatanya. Shilla memang menganggap alvin kakaknya sediri, karna shilla memang
anak tunggal dan sering ditinggal orangtua bertugas diluar negeri, tak jarang
jika shilla suka manja pada alvin.
Perusahaan orangtua
shilla pun diambil alih oleh tante dan om shilla, tapi dengan rasa bersalah
mereka tidak bisa tinggal bersama shilla karna memang pekerjaan mereka bolak
balik ke luar negeri. Tapi om dan tante shilla mennyuruh anaknya atau saudara
shilla untuk tinggal bersama shilla.
@rumah shilla.
“ma, pa. Shilla kangen
kalian, shilla pengen peluk mama sama papa, 1minggu mama papa gak pulang,
kenapa gini sih ma, pa, hiks” shilla memeluk foto kedua orang tuanya di sofa
ruang tengah.
Alvin yang baru datang
kerumah shilla membawa rantang makanan untuk shilla dari mamanya terhenti
melihat shilla yang menangis. Alvin menghampirinya dan duduk di sebelah shilla.
“shill...” shilla tak
mendengarnya.
“shilla...” shilla masih
menangis memeluk foto orangtuanya.
“ashilla...” posisi
shilla yang memang membelakangi alvin tidak melihat kedatangan alvin, terdengar
jelas isak tangis kesedihan shilla.
“sayang...” panggil
alvin sekali lagi. Shilla menegok, ia menghapus air matanya. Ia tahu pasti
alvin sudah daritadi memanggilnya, jika alvin sudah memanggil dengan sebutan
sayang artinya alvin sudah memanggilnya daritadi.
“maaf kak”
“nangis mulu sih, ini
dari mama, kamu makan gih dari siang belom makan” suruh alvin.
“suapin” katanya dengan
nada manja. Alvin menaikkan alisnya.
“yaudah gak mau!”
“iyadeh”
***
“mana sih iel?” cakka celingukan mencari sosok gabriel
di sebuah mall, niatnya ingin jalan-jalan saja sambil ngeceng dikit
seorang gadis berjalan terburu-buru menabrak
cakka "auhh" rintih keduanya.
"maaf, gue lagi buru-buru. sekali lagi
sorry" kata gadis itu tanpa melihat wajah cakka. tapi cakka....
"dia.. gak mungkin." batin cakka
mengenal gadis tadi.
"woy" teriak gabriel menepuk pundak
cakka.
"eh elo, lama amat" kata cakka
menutupi kebingungannya akan gadis tadi. apa bener itu elo? lo kembali?
batinnya lagi.
bersambung...
No comments:
Post a Comment