Friday, May 3, 2013

My Girl #1


Garis demi garis ia goreskan pada kanvas didepannya, kebiasaan yang sering ia lakukan, karna itu memang hobi nya. Ashilla Zahrantiara atau lebih akrab disapa shilla. Gadis cantik berambut panjang ini memang memiliki banyak bakat, mulai dari bernyayi, melukis dan alat musik. Dan tak jarang banyak orang yang kagum pada dirinya terutama kaum lelaki, tapi tak sedikit juga yang tak suka dengannya –sirik- tapi belum ada lelaki yang bisa menembus hatinya, bukan karna apa-apa, tapi memang dia belum memiliki perasaan terhadap lawan jenis.
Sepasang mata sedaritadi hanya memandang shilla dari depan pintu ruang lukis itu, ujung bibirnya pun tertarik membuat sebuah senyuman, senyum tipis yang selalu membuat heboh para kaum perempuan.

@Kelas XII-1

“shilla mana?” tanya dea teman sebangku shilla pada ify yang duduk di belakangnya. Ify yang sedang asik membaca buku menoleh ke arah dea yang pandangannya belom lepas dari ponsel yang dipegangnya.

“hah? Gua gak liat de. Coba tanya rio” kata ify melirik teman sebangkunya. Yang disebut namanya hanya mendelik –kok nanya gua?-

“paling ruang musik atau lukis,” jawabnya singkat lalu melanjutkan aktifitasnya –makan chitato-

Dea hanya menepuk dahinya, kenapa tak terpikirkan olehnya. Dea berlari keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Rio melirik ify, ify hanya mengangkat bahu.

@kantin.

“kka, kelas yuk. Keburu masuk” aja gabriel pada cakka.

“bu winda hari ini gak masuk,” jawab cakka santai sambil melanjutkan makannya, dia memang ketua kelas. Perasaan tadi dia sudah memberitahu teman-teman sekelasnya bahwa bu winda hari ini tidak masuk, tapi mengapa temannya yang satu ini tidak tau?

“haahh, syukur lah”

“btw, kapan lo mau nembak dea?” tanya cakka to the point aja.

“nembak..nembak.. neneklo salto, pdkt aja belom asal tembak aja” jawab iel menoyor kepala cakka.

“auhh.. iya iya sorry, makanya lama amat lo mau pdkt aja, jangan nge-secret admirer mulu lo kayak alvin, tar keburu diambil orang aja” jawab cakka agak emosi.

“ya jugasih, tapi lo bantu gua ya?”

“pasti bro, asal pj plus plus buat gua. haha” tawa cakka.

“sialah. Eh lo masih nyari dia?” tanya iel.

“dia? Oh iya. Hm, pasti lah gua nyari dia sampe saat ini” senyum cakka.

“hh, lo gak mau pindah haluan bro? Udah 3 tahun semenjak lo smp lo gak ketemu-ketemu sama 
dia, dia juga yang ninggalin lo kan? Pergi gak bilang-bilang”

“gua rasa gak akan pindah haluan, first love itu susah dulipain bro”

***

Alvin berjalan menuju kelasnya, dilihatnya tidak ada teman-temannya kecuali rio yang masih asik makan chitato ditempatnya. Ia menghampiri rio.

“cakka sama iel mana?” tanyanya duduk ditempat shilla yang memang didepan rio.

“masih di kantin, lo dari mana aja?”

“dari—“ belom sempat alvin menjawab rio sudah menyelanya.

“oh ya gausah dijawab, i know you so well vin. haha” tawa rio. Alvin hanya menatap sebal terhadap sahabatnya ini. Sudah tau nanya.

“vin liat dea gak tadi diluar?” tanya ify yang baru selesai membaca bukunya dan memukul-mukul pundak rio pelan tanda ia ingin keluar karna ia duduk didekat tembok. Rio pun mempersilahkan ify keluar.

“liat tadi lari-lari ke arah ruang lukis. Kenapa?” jawab dan tanya alvin.

“gapapa, thanks vin. Gua nyusul dea dulu” alvin hanya mengangguk heran.

@ruang lukis.

“shilla!”

Shilla menoleh, dilihatnya dea sedang tergesa-gesa. Shilla menghampiri dea. “tarik nafas dulu de, ada apa?” tanyanya.

“hah hah. Lo baca nih.” Dea menunjukkan ponselnya pada shilla, shilla membulatkan matanya, ia menutup mulutnya, perlahan airmata keluar dari sudut matatanya.

“gak mungkin de, ini bohong kan?” shilla mengguncangkan bahu dea. Dea hanya bisa menunduk. Shilla berlari menuju kelasnya. Dan bertemu ify.

“shill, shilla. Lo kenapa?” tanya ify panik. Shilla tak menjawab dia terus berlari menuju kelasnya. Ify juga melihat dea berlari melewatinya.

***

Alvin kin berbincang-bincang dengan rio dan gabriel, cakka yang sudah kembali dari kantin.

“kekenyangan lo kka? Drtd megangin perut aja?” tanya rio yang melihat cakka memegangi perutnya.

“iya yo, makan 2 mangkok mie ayam” sahut iel.

“gila rakus lo, cakdut haha” tawa alvin.
Tiba-tiba tawa mereka di kagetkan oleh shilla yang masuk ke kelas dengan banjir air mata.

“misi kak, aku mau ambil tas” kata shilla langsung mengambil tasnya yang sedikit terhalang alvin. Masih dengan isak tangis yang sedikit tertahan

“lo kenapa shill?” tanya alvin sedikit khawatir

“lo balik shill?” tanya cakka heran.

“cakka, izinin gue pulang hari ini, terserah alasannya apa” katanya langsung pergi.

“loh.. loh. Shill! Shilla! Lo mau kemana, hey!” panggil cakka.
Dea dan ify baru saja datang. “vin tas gue vin tolong” pinta dea pada alvin yang duduk di tempat shilla karna tasnya ada di kursi pojok sebelahnya.

“de, shilla kenapa?” tanya rio

“hosh..hosh, iya de, lo hutang penjelasan sama gue, main lari-lari aja lo. Capek gue” kata ify.
Dea menarik nafas panjang “gini. Gue baru dapet kabar dari orang tua gue. Katanya...... orangtua shilla meningal akibat kecelakaan pesawat saat mau pulang dari paris” katanya miris. Semua kaget.

“yaampun de, lo serius? Ayo kita susul shilla. Rio tas gue” kata ify

“dea...” lirih alvin. Dea mengerti arti tatapan saudara kembarnya ini ingin sekali ikut untuk memberi ketengan pada shilla. Berhubung rumah mereka juga berdekatan apalagi dea juga sahabat ify, ia juga harus ikut.

Dea mengangguk “ayo”

Alvin bergerak mengambil tasnya. “bro, lo semua bisa nyusul, gak enak kalo kita pergi semua, kka, izini kita. Ayo de, fy”

@pemakaman

Pemakaman sudah berakhir. Shilla tak henti-hentinya menangis, shilla yang melihat dea, ify dan alvin datang langsung memeluk dea.

“shilla, sabar shill. Lo jangan nangis gini” kata dea mengelus rambut panjang shilla, shilla hanya mengangguk pelan menahan isak tangis nya.

“iya shill, lo jangan gini ya. Shilla kan strong” senyum ify. Shilla melepas pelukan dea, dia melihat alvin hanya diam saja.

“kak alvin, lo..lo disini?” tanyanya masih dengan sesenggukan. Shilla memang memanggil alvin dengan sebutan ‘kak’ karna alvin memang lebih tua 5 bulan dari shiilla. Tapi tidak untuk dea.

Alvin hanya mengangguk tersenyum. Shilla berjalan menghampiri alvin, dan memeluknya secara tiba-tiba. Alvin pun sangat kaget campur senang. Perlahan membalas pelukan gadis itu dan membelai rambut panjangnya.

“aku gak bisa rasain pelukan terakhir papa, hiks” alvin paham dengan ucapan shilla, ia ingin merasakan pelukan ayahnya, mungkin dengan memeluk alvin ia bisa sedikit tenang. Dea tersenyum melihatnya tapi ify malah heran.

“ayok fy, kita duluan. Vin, shill kita duluan ya” kata dea menarik lengan ify.

“kok pulang de, itu shilla? Alvin? De, dea” tapi dea terus menarik lengan ify. Alvin tersenyum terimakasih pada dea karna mengerti dirinya.

“shilla? Balik yuk, kamu mau disini terus apa?” tanya alvin melepas pelukannya. Shilla menghapus airmatanya. Shilla memang menganggap alvin kakaknya sediri, karna shilla memang anak tunggal dan sering ditinggal orangtua bertugas diluar negeri, tak jarang jika shilla suka manja pada alvin.

Perusahaan orangtua shilla pun diambil alih oleh tante dan om shilla, tapi dengan rasa bersalah mereka tidak bisa tinggal bersama shilla karna memang pekerjaan mereka bolak balik ke luar negeri. Tapi om dan tante shilla mennyuruh anaknya atau saudara shilla untuk tinggal bersama shilla.

@rumah shilla.

“ma, pa. Shilla kangen kalian, shilla pengen peluk mama sama papa, 1minggu mama papa gak pulang, kenapa gini sih ma, pa, hiks” shilla memeluk foto kedua orang tuanya di sofa ruang tengah.

Alvin yang baru datang kerumah shilla membawa rantang makanan untuk shilla dari mamanya terhenti melihat shilla yang menangis. Alvin menghampirinya dan duduk di sebelah shilla.

“shill...” shilla tak mendengarnya.

“shilla...” shilla masih menangis memeluk foto orangtuanya.

“ashilla...” posisi shilla yang memang membelakangi alvin tidak melihat kedatangan alvin, terdengar jelas isak tangis kesedihan shilla.

“sayang...” panggil alvin sekali lagi. Shilla menegok, ia menghapus air matanya. Ia tahu pasti alvin sudah daritadi memanggilnya, jika alvin sudah memanggil dengan sebutan sayang artinya alvin sudah memanggilnya daritadi.

“maaf kak”

“nangis mulu sih, ini dari mama, kamu makan gih dari siang belom makan” suruh alvin.

“suapin” katanya dengan nada manja. Alvin menaikkan alisnya.

“yaudah gak mau!”

“iyadeh”

***
“mana sih iel?” cakka celingukan mencari sosok gabriel di sebuah mall, niatnya ingin jalan-jalan saja sambil ngeceng dikit

seorang gadis berjalan terburu-buru menabrak cakka "auhh" rintih keduanya.

"maaf, gue lagi buru-buru. sekali lagi sorry" kata gadis itu tanpa melihat wajah cakka. tapi cakka....

"dia.. gak mungkin." batin cakka mengenal gadis tadi.

"woy" teriak gabriel menepuk pundak cakka.

"eh elo, lama amat" kata cakka menutupi kebingungannya akan gadis tadi. apa bener itu elo? lo kembali? batinnya lagi.

bersambung...

No comments:

Post a Comment