Saturday, February 9, 2013

Better Than You

Ini cerbung gua yang kesekian dari cerbung-cerbung gue yang gak pernah tamat sebelumnya, maklum gua mood2an kalo bikin cerbung. biasanya gue bikin cerbung tokohnya anak IC (IdolaCilik) tapi sekarang gua bikin dengan tokoh teman-teman sekolah gue kelas 9.1 dan 9.2 ! kalo ada peran yang gaenak jangan ngira kalo gue ngarep sama mereka. itu cuma buat bagus-bagusin cerita aja, oke? bagus atau enggaknya sih gue gaktau.


HOPE YOU LIKE IT



disebuah restaurant, dua anak muda sedang asik berbincang. tapi tidak dengan temannya yang satu ini.
alvi melihat daritadi vando hanya terdiam melihat foto yang ada di dompetnya.
“udahlah van, gausah disesali. Dia gakbakal balik lagi sama lo” kata alvi.
Vando mendongak dan menghadap alvian “tapi vi…”


“udah deh van, sampe kapan lo mau gini terus Cuma gara2 tuh cewe?! Sampe kapan lo mau jadi pribadi yg cuek?! Pendiam?! Dan gakmau buka hati lo buat cewe lain Cuma grgr tuh cewe?! Hey van, banyak diluar sana cewe yg ngejar2 lo, lo keren, perfect, most wanted lo gampang cari cewe” kata alvian panjang lebar.

BRAKK.. “heh, vi. Lo bawel banget ya, masalah buat lo kalo gue cuek?! Ini hidup gue. Terserah gue mau buka hati lagi apa gak. Jangan hanya dengan menyandang status Most Wanted di SMA Pelita Bangsa, lo seenak jidat ngomong gue gampang nyari cewe. Sampai kapan pun gue gakbakal lupain dia!!” marah vando langsung pergi.

Semua pengunjung restaurant mendapat tontonan gratis, alvian hanya melongo tak menyangka vando akan marah, niatnya dia hanya bercanda. Ya, memang vando adalah most wanted di SMAnya dan alvian hanya cowo yg mendapat beasiswa, tapi vando tak menggunakan statusnya itu untuk membuka hatinya dan mencari cewe lain.

++++++++

Sesampainya dirumah, vando merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya. Ia melipat kedua tangannya dibawah kepala.

“bener juga sih kata alvi, gue terlalu terpuruk sama masalalu gue, dan sekarang?! Beginilah gue, hufftt” tak lama kemudian vando tertidur. Tak sampai 20menit terdengar suara ketukan pintu kamarnya.

Tok..tok..tok.. “van..vando bangun sayang”
Vando terbangun “ahh.. mama ganggu aja, iya mah tunggu sebentar”

Vando membuka pintu kamarnya “apaan sih mah?!”
“ini, mama Cuma mau ngasih tau. Temen mama sama papa yg dari Amerika pindah ke sebelah rumah, kamu bantuin gih, ada papa juga disana” kata mama vando


“ah mamah, vando males mah. Vando mau tidur. Kan ada Dhena mah” katanya ogah2an
“heeh, kok kamu gitu sih sayang, Dhena lagi dirumah temennya. ayo ah” kata mamanya menarik tangan vando keluar, vando hanya pasrah.

++

Sesampainya dirumah tetangga baru itu, vando dan mamanya menghampiri si pemilik rumah, yg sudah selesai dari beres2 rumahnya. Sudah ada papahnya, om joe dan tante winda disana.

Vando malas jika sudah ada reuni mendadak teman2 orangtuanya, ia lebih memilih keliling2 melihat isi rumah itu. Sampai disebuah ruangan yg sangat megah yg ditengahnya hanya ada sebuah Grand White Piano, vando melihat seorang gadis bermain piano dengan indahnya, tangannya sangat lihai memencet setiap tuts yang ditekannya. Sampai permainan itu selesai, vando tepuk tangan. Prok..prok..prok

Gadis itupun melihat ke arah vando dan tersenyum lalu menghampiri vando, “em, lo siapa?! Ngapain dirumah gue?!”

“gue anaknya temen orangtua lo yg disebelah rumah lo, gue tadi Cuma pengen liat2 rumah lo daripada liat reuni mendadak orangtua kita. Eh, permainan lo bagus tadi, gue suka” kata vando menjelaskan kedatangannya dan memuji gadis itu

“hehe thanks :) oh lo anaknya om Joe sama tante Winda?! Lo vando?!”

“iya, lo taudarimana?!”

“oh, nyokap gue suka cerita”

“oh ya, na….”

“vando, disini kamu rupanya. Ayo pulang” kata mama vando.
Vando pun pulang tanpa mengetahui nama gadis itu karna mamanya sudah memanggil.







Besoknya di SMA PB. Vando masuk ke kelasnya langsung dihampiri alvi “van, gue minta maaf ya soal yg kemaren, gue bener2 gatau lo bakal marah” ucap alvi

Vando hanya tersenyum “slow aja kali, gue yg salah terlalu emosi kemaren”

Taklama, guru datang. “pagi anak-anak, hari ini kita akan kedatangan murid baru, silahkan masuk”
Murid baru itu pun masuk.

Anak itu pun masuk, vando kaget. “hah?! Dia?!”
“napa van?! Lo kenal?!” tanya alvi yg duduk di kursi sebelahnya.
“iya, dia tetangga baru gue”

“perkenalkan nama kamu”
“hey, kenalin gue Brenda, gue pindahan dari ………”

“Bu, dia orangkaya bukan bu?!” tanya tiara sekenanya
“mobil lo apa?! Ferari, sport atau apa?!” sambar wulan
“rumah lo tingkat ga?! Mewah ga?!” lanjut tiara

‘oh namanya Brenda, tapi keliatannya dia agak aneh dari yg kemaren gua liat’ batin vando.

“Tiara!! Wulan!! Diam kalian” seru Mrs. Anik
“baik Brenda, lanjutkan” kata Mrs. Anik

Brenda hanya menghela nafas “saya Brenda, Pindahan dari Amerika. Mohon bantuannya”

‘wow amerika, dia pasti kaya. Harus jadi temen gue’ batin tiara

“baik Brenda kamu duduk di kursi sebelah kanan vando” kata Mrs. Anik, karna memang duduknya sendiri2

Istirahat pun tiba, kelas mulai sepi dan hanya ada beberapa murid saja. Brenda sedang mendengarkan lagu dari Iphone nya. seorang anak perempuan menghampirinya. “em, hey bren. Kenaliin gue Alifia, panggil aja fia”



“oh, hai fi” sahut Brenda dengan senyum
“mau ke kantin ga?!” ajak fia
“yuk, drpd gue sendiri lama2 disini”

“HEH fia. Ngapain lo?! Brenda temen gue, dia ke kantin bareng gue sama wulan!!” bentak tiara tiba2
“Iya, minggir lo.” Sahut wulan

“heh tir, apa2an lo!” kata fia mendorong bahu tiara
“ngapain temen gue lo hah?!” kata wulan

“UDAH.. STOP!! Heh tir, lo gak akan jadi temen gue!! Yuk fi ke kantin” kata Brenda menarik tangan alifia

@KANTIN

“alvian, plis terima gue, udah 27 kali gue nembak lo, emg lo gak kasian apa sama gue?”

“dan yg ke 27 kalinya jug ague nolak lo, rahma!!” ucap alvian penuh penekanan.

“HAHAHA, udah deh vi, lo terima aja deh tuh si Rahma, kasian tuh :D” tawa vando

“kalo kasian kenapa gak lo aja yg macarin van” ucap alvian kesal

“haha, udah deh rahma. Lo pergi aja deh, udah kesel tuh alvi sama lo” kata vando

“yah..yah bahaya gue dateng” kata vando
Taklama Tiara dan wulan menghampiri vando dan alvi

“hai van, makan bareng gue yuk” kata tiara manja sambil menggandeng lengan vando.
“Ih apaan sih lo. Males ah gue sama lo, pergi sana” usir vando.
“ih vando mah” kata tiara
“HAHA ngakak gua van” tawa alvian





Resky dan France datang, “eh van, ngapain lo deket2 tiara hah?! Caper lo” kata france.
“heh france, lo kalo mau ngambil tiara ambil aja, OGAH jug ague sama dia, cewe genit. cih” ucap vando seenaknya.

“apa lo bilang?!” kata france.
“CEWE GENIT” kata Alvian
“eh cowo miskin, gausah ikut campur” kata Resky

“eh van, lo mau aja sih temenan sama alvian?! Cowo miskin, lo kan anak donator tetap sekolah kita dan Most wanted disekolah kita, mending lo temenan sama Ketua Osis kaya gue.” ejek france.
Alvian hanya terdiam

“gue lebih baik berteman sama alvian daripada sama lo, NGERTI”

“van, betul tuh kata france, lo kan kaya, perfect. Ngapain lo temenan sama cowo miskin” kata wulan

“masalah buat lo kalo vando temenan sama cowo yg Cuma dapet beasiswa kaya alvian?!” kata Brenda tbtb datang dan diikuti fia.

“eh siapa lo ikut campur hah?!” kata France.
Brenda mendekati France dan berdiri di depannya
“lo gak tau siapa gue?!” kata Brenda menaikkan satu alis mata nya,

“heh, gue gak perlu kenal sama orang yg gak penting kaya lo” kata France menunjuk wajah Brenda dengan jarinya.

Brenda menyingkirkan jari France dari hadapannya.

‘berani banget nih cewe, masih baru udh sok berani sama France batin vando








@LAP. BASKET

“oh jadi lo pindahan dari amerika, dan lo anak pemilik sekolah ini tam?” tanya Hadi.

“yoi bro” kata tama lalu meminum aquanya
“terus kakak lo juga sekolah disini dong?! Siapa namanya?!” tanya yolanda
“iya, namanya kak Brenda, dia di kelas XI IPA 2” jawab tama

“XI IPA 2 ?! sekelas sama kakak gue dong, kak vando. Tapi gak sekelas Sama kakaknya Tyas, Kak France” dhena
“em, mungkin” jawab tama.

“berarti bokap lo bakal kesekolah ini dong?!” tanya Tyas
“iya Yas, udah 1tahun bokap gue gak ngeliat keadaan sekolah”

Sebenarnya Tyas sangat senang karna tama satu sekolah dengannya.


@KANTIN

“oh jadi lo gaktau ya gue siapa?! Masa ketua Osis gaktau gue siapa?!” kata Brenda agak meremehkan. Seluruh penjuru kantin sudah mengerubungi mereka. Sebenarnya Brenda sudah cukup lama kenal dgn france karna adiknya, hanya saja france yang tidak mengenalinya, dia tidak tau siapa itu Brenda.

‘emg Brenda siapa?! Kaya udh berkuasa banget disekolah ini’ batin vando dan alvian

Taklama kemudian Ibu dan Bapak pemilik kepala sekolah SMA PB serta pak kepala sekolah datang melihat keributan di kantin dan menghampirinya, Mereka melihat ada Vando, Brenda dan France disana.

“hei ada apa ini ribut2 hah?! Begini ya selama 1tahun saya tidak menge-check keadaan sekolah langsung pada ribut2 begini” kata Pak Duta.





“Kamu juga France, kamu Ketua Osis masa ribut2 ?! mau bapak lepas jabatan kamu sbg Ketua Osis hah?!” kata Pak Kepsek

“memang ada apa ini? Hah? Brenda? Vando? Kenapa ribut2 ini?” tanya Bu Ucie.

“lah? Ibu kenal Brenda sama Vando?!” tanya france kaget.
Wulan, Tiara, Alvian, Resky, Alifia makin bingung dengan apa yang sedang terjadi.

“France, masa kamu ketua osis tidak tau. Brenda itu Anak Pak Duta dan Bu Ucie, sedangkan Vando adalah anak dari sahabat Bu Ucie dan Pak Duta” jelas pak kepsek

“APA?!” ucap, France, Alvian, Alifia, Wulan, Resky dan Tiara
“ja..jadi ?” France tak percaya.

‘ooh pantes Brenda berani banget sama france’ batin vando


@RUMAH BRENDA

“kak, emang tadi kata mama papa lo ribut disekolah?! Kenapa?!” tanya tama sambil mengganti-ganti channel TV. Brenda sedang duduk di sofa dengan Tama sambil membaca-baca majalah.

“ya biasalah, ketua osis gak tau siapa anak pemilik sekolah sok cari ribut sama gue” ucap Brenda

“lo kali yg mulai duluan” kata Tama.
“hmm”
“eh kak, lo kenal kak vando sama hmm... kak france?!” tanya tama yang menyudahi acara mengganti2 channel tv nya.

Mendengar nama france pun Brenda langsung menutup majalahnya.
“lah lo ngapa? Gua tanya kok gitu” tama heran.
“lo apaan sih bawa2 nama france? Dia yg ribut sama gue tadi” kata Brenda melipat kedua tangannya diatas dada.





“oh jadi dia ketua osisnya, kalo kak vando?”
‘adek gue bawel bgt’ batin Brenda
“lo bego apa oon? Itu vando tetangga kita hadoohhh”
‘tetangga? Berartii tetanggaan sama dhena dong? oalah’
“tam? Lo sehat? Kok jadi bengong? Udah ah gue keluar aja”

@RUMAH FRANCE

“aarrgghh sial sial sial. Nambah 1 lagi musuh gue” ucap france sambil mengacak acak rambutnya.

“siapa? Brenda?” tanya Resky  yg sedang mainin ps france.
“iyalah si murid baru itu sekaligus anaknya yg punya sekolah kita!!”

“slow aja, tenang..tenang pasti kita bisa bales si Brenda Brenda itu”
“adduuuhhh, lo berdua ya. Kakak kakak yang ganteng sekalian, kalo mau berisik diluar aja sanaa” kata tyas.

“yee mbak tyas iki knopo toh?” tanya Resky  dengan logat jawa.
“ah gua ga ngerti bahasa arab” katanya sambil berlalu. -____-

____________

Ting..tong..

“buka dhen” suruh vando
“lo gak liat apa gue lagi ngapain?” jawab dhena
“lo aja gih, ketimbang majalah doang” kata vando malas, dia sedang tiduran di sofa.
“lo aja ah lo kan ga ngapa2in” jawab dhena

Ting...tong..

“vandoo, bukain pintunya, mama lagi repot” teriak mamanya dari dapur
“tuh kan lo yg disuruh” kata dhena
“huh, iya mah iya”



Vando bangkit dari sofa nya dengan ogah2an, seperti tidak rela badannya lepas dari sofa, dia berjalan menuju pintu sambil merutuki org yg memencet bell rumahnya, menggangu istirahatnya saja.

Vando membuka pintu, cklek…
“Brenda?” kata vando.
“hai van” senyumnya.
‘ini Brenda kenapa? Kok beda bgt kaya disekolah’ batin vando.
“van? Van? Vando?” Brenda melambaikan tangannya di depan wajah vando.

“hah iya kenapa bren? Eh tumben kerumah gue, adaapa?” kata vando.
Tanpa menjawab pertanyaan vando, Brenda asal nyelonong masuk aja.
Vando jadi semakin bingung.

“hai dhen” sapa Brenda
Dhena menengok kearah Brenda, ‘siapa?’
“gausah bingung kali dhen, gue kakak nya tama” kata Brenda seakan menjawab kebingungan dhena, Brenda menyalakan TV.

“oh kak brenda” dhena manggut2. Brenda hanya tersenyum
Datang2 vando langsung duduk disebelah Brenda dan merebut remote langsung mengganti channel nya. “ish van, lo ngapain sih” Brenda merebut remotenya lagi.

“lo yg ngapain tiba2 masuk rumah gue?” mereka rebutan remote. Sampe gak tau kalo tama dateng.
“dhen, mreka kenapa?” tanya tama menunjuk kakak nya dan vando.
“gatau gue”
“jalan aja yok, naik sepedah” ajak tama. Mereka berdua pun pergi.

“ih biarin, vandoo remotenya” vando menyembunyikan remotenya di dekat pinggang sebelah kanannya, Brenda yang posisinya disebelah kiri vando susah untuk meraih remote nya. Alhasil Brenda seperti memeluk vando, Brenda masih belum sadar akan aksinya, dia masih sibuk meraih remote tv itu. Tapi vando menyadarinya, dilihatnya Brenda dengan posisi Mreka sekarang. ‘ini cewek nyebelin tapi manis’ ditatapnya terus gadis itu.




“YESS, dapet. wlekk” Brenda menjulurkan lidahnya. Vando membalasnya. :D

“eh ada brenda” kata tante ucie
“eh iya tante, Cuma main doang” kata Brenda senyum
“oh yaudah tante tinggal masak lagi ya, sering2 main kesini”

______

“emm tam, lo sering sepedaan ya?” tanya dhena sambil menggowes sepedanya
“iya dhen, biasanya di amrik gue sore2 gini sepedaan di taman. Seru kan?” kata tama
“haha iya tam, eh gimana kalo besok kesekolah kita naik sepedah? Kan asik juga tuh” tawar dhen
“wah ide bagus tuh, yuk yuk” kata tama

_______

Besoknya, Brenda berangkat dengan vando menggunakan ferari ff silver milik vando. Tama dan dhena lebih memilih naik sepedah. Di mobil pun mereka masih adu mulut.

“aduuh ndut, kenapa sih gue harus berangkat sama lo” kata vando sambil menyetir.
“dat dut dat dut, udeh lo bawel nyetir aja, lo kira gue mau berangkat sama lo. Kalo bukan karna nyokap gue juga males, hah kutu” kata Brenda

“iyalah liat pipi lo tembem gitu, ih gemes gue hahaha” tawa vando sambil mencubit pipi Brenda. Brenda hanya diam merutuki vando.

“haha yaelah ndut gausah ngambek” kata vando menoel dagu Brenda
“iihh vandoo, dasar kutu” Brenda.

Sesampainya disekolah, sekolah cukup ramai karna vando berangkat berdua dengan Brenda. Jelas iya, vando yang dikenal begitu cuek dan tak pernah kena gossip pacaran dengan perempuan apalagi jalan berdua dengan perempuan selain mamanya sekarang secara live vando berangkat sekolah dengan Brenda anak pemilik sekolah.





“eh kutu, kok pada liatin kita gt?” tanya Brenda heran
Brenda tidak sadar tangannya menggandeng vando

“iyalah gue ganteng” jawab vando sekenanya.
Plak.. “gak nyambung” toyor Brenda.


@KELAS X1

“caelah berangkat bareng :D” kata Yolanda
“haha apasih yol, kan rumah kita deketan” jawab dhena
“dhen gua rasa tama suka sama lo hahahaha” tawa hadi
“eh sipit lo bawel ya” tambah tama

Tyas hanya tersenyum tipis mendengarnya
“yas knapa? Kok diem aja?” tegur dhena
“ah gapapa dhen :D” katanya berusaha tertawa

‘asal lo tau dhen, gue masih cinta sama tama. Dan mungkin bener kalo tama suka sama lo, dia udh berhasil move on dari gue’ batin tyas.

Iya tyas adalah cinta masalalu tama, tama mengakhiri hubungannya dengan tyas karna dia tak bisa longdistance dengan tyas.

“oh ya guys mumpung besok minggu, main yuk kerumah gue kan kalian pada belom tau tuh rumah gue hehe” ajak Tama.

“hem iyasih, boleh deh gua ikut tam” kata Yolanda
“gue juga” kata tyas,
“gue ikuuttt” seru hadi
“biasa kaleeee” kata semuanya tertawa







[bel istirahat]

Brenda merenggangkan tubuhnya, “haaaahh selesai juga nih pelajaran”
Fia yang duduknya di depan Brenda menegok ke belakang, “iyanih bosen banget gua belajar history”
“tau ngapain coba kita nengok sejarah tapi Negara kita sekarang gabener gini apalagi generasi2 mudanya” kata Brenda
“iya generasi muda kaya lo ya gabener”

Dengan cepat Brenda menengok ke sumber suara, Brenda menyipitkan matanya, “kaya lo bener aja, kutu”
Vando hanya memutar bola mata nya, Brenda berdiri dari kursinya dan menarik tangan vando, karna kaget vando menahan tangan Brenda yang menarik tangannya, Brenda yang merasa di tahan tangannya pun menoleh “apa?”

“harusnya gua yang tanya, mau ngapain lo?” tanya vando
“ayo kantin” Brenda lanjut menarik tangan vando, vando ikut saja
Alvian yang bingung langsung menoleh ke alifia, fia hanya mengangkat bahu. Lalu mereka berdua nyusul aja dari pada diem.

Dari kursi paling belakang tiara mendengus kesal, “tajir sih iya, bisa kita manfaatin. Tapi kenapa mesti vando, awas aja lo bren gue gabakal ngincer lo lagi buat jadi temen gue, tapi lo jadi rival gue” tiara kesal.
“udah tir entar kita bales dia” sahut wulan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sepanjang koridor sekolah menuju kantin Brenda merasa diperhatikan banyak orang, semua mata memandangnya sinis, apalagi kaum perempuan, lama2 brenda ngeri juga kaya mau di terkam aja. ‘jangan2 mereka semua alien?’ batin Brenda ngaco. Tangannya mengeratkan genggamannya pada tangan vando, vando yang merasakan genggaman tangan Brenda makin kuat pun bertanya. “bren..” Brenda tak merespon, dia masih ngeri melihat sekelilingnya.
“Brenda!”





“hah?” katanya setengah kaget
“lo kenapa?” tanya vando
“itu kenapa van kok pada liatin gue sinis gitu? Ngeri ah gue”
“oh hahaha, sini ikut gue”

Sampai lah mereka di sebuah madding. “tuh baca” vando menunjuk suatu bacaan.
Brenda membacanya “The Most Wanted of SMA Pelita Bangsa : Rivando Aviarezky”
Setelah membacanya Brenda menghela nafas dan langsung menghadap vando, Brenda memegang wajah vando dan membolak balikkan wajah vando, “tampang madesu gini jadi most wanted?”.

“lepas dut, gue ganteng tau, udah ah ayo kantin”

@KANTIN

“lama lo berdua” keluah alvian
“sorry vi, gua abis ngasih tau anak tengil siapa most wanted sekolah kita” tawa vando sambil menarik kursinya lalu duduk. Brenda hanya merutuki vando dalam hati. Baru saja Brenda akan duduk.. BRUUKKK “aww”

1 detik..2detik..3detik..
HAHAHAHA seluruh penjuru kantin menertawai Brenda

Brenda P.O.V

“aduhh, siapa sih yang narik kursi gue? Hah?” gue berusaha berdiri tapi sial kaki gue terkilir, gue nengok ke belakang gue. ‘france?’ fia pun bantu gue berdiri.

“HAHA, gimana rasanya princess di ketawain banyak orang? Malu lo?” tawa france diikuti resky
“rasain lo bren, ini balasan lo udah malu2in france kemaren, mampus lo” tambah resky

Gue hanya menatap france geram, dengan di bantu alifia berdiri, sekuat tenaga gue, gue angkat kaki gue dan PLAKKK kaki gue mendarat mulus di pipi france, france jatoh. Gue nyengir, “sekarang siapa yang malu pangeran? Lo atau gue? You…………………LOSER”





Dan itu semua cukup membuat vando, alvi, fia resky dan semua orang yang melihat menganga akan aksi gue hahaha. “udah2 bubar lo semua, atau lo pada mau nasib lo kaya pecundang ini” kata gue sambil nunjuk france, sekejap semua langsung duduk ke meja masing2, france dan resky pun pergi. Ada yang bisik2 tentang aksi gue tadi, ada yang ngomongin france.

Normal P.O.V

Vando, Brenda, Alvi dan Fia duduk kembali. “ajib lo bren, belom ada sebelum nya yang permalukan france kaya gitu hahaha” kata alvi muji Brenda.
“sumpah bren, berani banget lo” kata fia
“keren sih, ckck dasar cewe aneh” tawa vando.

Brenda menatap vando, “heh kutu, harusnya dengan aksi gue tadi, status lo sebagai most wanted di gantikan sama gua hahaha” tawa Brenda puas. Vando hanya memutar bola matanya.

Bruk bruk bruk..

“kak, lo gapapa?” kata tama yang nyamperin Brenda sama temen2nya
“hahaha gue gapapa lah tam, kakak lo kan jagoan” kata Brenda
“lo berantem lagi ya?” tanya tama mastiin
“iya tam, kakak lo berantem lagi sama…..” kata alvi terpotong

“kakak gue” sambung tyas
“maaf ya tyas, kakak lo duluan sih” ucap Brenda cepat
“gapapa kok kak bren, gue ga begitu peduli sama dia, dia emang gitu anaknya. Sebel gue sama dia” sahut tyas

Sebenarnya semua bingung kenapa Brenda dan tyas sudah saling kenal?

“ckck, sampe adeknya aja gak peduliin dia, sedih amat si france” kata fia
“tapikan dia kakak lo yas” sambung tama agak sinis
“suka2 idup dia apa tam wkwk” kata hadi

-----------------------


Tiara dan wulan sedang jalan berdua, saat melewati depan UKS “lah tir, itu france kan?” kata wulan. Tiara menengok, “lah iya, samperin yuk”

Tiara nyamperin france, “lo knapa?”
“ah gapapa, biasa cowo abis berantem hehe” france gak mau jelasin kalo dia abis bonyok gara2 cewe.

“kalo berantem nya sama cowo sih gapapa, lo kalah sama cewe. Copo lo haha” tawa Brenda dari depan pintu UKS yang masih di bantu berdiri sama vando. Tiara, wulan, resky dan france melihat ke arah pintu. “maksud lo?” tanya tiara bingung.
“lo tanya aja tuh sama temen lo yang copo, bayyy” kata alifia lalu pergi bersama yang lain.

@UKS WANITA

Vando P.O.V

Gue bantuin Brenda tiduran di kasur UKS.
“vando care bgt ya sama brenda, lo tau kan vando itu gimana aslinya?” bisik alvi kepada fia, fia mengangguk setuju.
Gue nengok ke alvian, “gue denger vi” alvi hanya nyengir lalu memberi isyarat pada fia untuk keluar. “em, bren gue ke kelas duluan ya sekalian ijinin lo okey” kata fia
“iya gua juga ya bren, van” kata alvi menyusul.

“lah lah, terus gue?” kata Brenda
“kan ada gue bren” kata gue
“huuhhh”

“bren, kaki lo luka ya? Oh mungkin ke pentok kali ya tadi?”
“…”
“bren,”
Brenda menutup matanya sambil menggeleng, “gue phobia darah van”
gue hanya tertawa kecil, “jagoan sih iya, tapi phobia darah”






Brenda mukulin gue pake bantal, dia gak tau kalo kasur di UKS roda kaki pada kasurnya sensitive dengan gerakan yang cukup kuat alhasil kasur UKS itu terdorong dan Brenda jatuh.

“aaa, vandoo”

BRUUGHH

Brenda P.O.V

Gue jatoh, malu banget pasti kalo vando liat gue jatoh gini, eh tapi gue kok gak ngerasa sakit ya? Kaya ada yang nahan tubuh gue? . Gue coba buka mata gue perlahan. HAH gua bener2 kaget sama apa yang ada di depan mata gue, vando? Posisi gue persis di atas vando dengan kedua tangan vando nahan bahu gue dan gue bertumpu pada sikut gue yang nahan tubuh gue di lantai.

“VANDO? BRENDA?” gue sama vando nengok ke sumber suara. Tiara? Dia habis dar UKS pria, Buru2 gue bangun.
“lo berdua?” wulan nunjuk gue sama vando bergantian. “gue…emm”
“tadi Brenda jatoh terus gue nahan dia, eh gue ikutan jatoh. Lo jangan mikir yang macem2 ah” jelas vando. Tiara langsung nyamperin vando, “lo gapapa kan van? Lo ga dia apa2in kan sama cewe itu? Tar lo kaya france lagi”

Gue hanya menatap sinis tiara, tiara pun keluar dengan vando dan diikuti wulan. Sedangkan gue kembali pada posisi gue, istirahat di UKS.


Normal P.O.V

@KELAS X1

“ah bête gue sama guru kaya dia” keluh tama
“sst diem tam, tuh guru galak” sahut tyas yang di sebelahnya
“tapi gua bosen yas, dia jelasin udah kaya dongeng tau” tama melipat kedua tangannya dan menyenderkan tubuhnya di kursi.
“iyasih haha”



“TYAS, TAMA KENAPA KALIAN BERISIK HAH?” kata sang guru, pak suardi
Tyas menepuk dahi nya, “mati lah gue”
“berisik amat sih” kata tama

“KALIAN BERDUA, HORMAT PADA BENDERA SAMPAI BEL ISTIRAHAT KE DUA”
“HAH??” tama dan tyas terkejut
“IYA CEPATT” seru pak suardi sangar

“ciyuss? Enelan?” katanya barengan lagi
“CEPAAATTT”

“hahaha, sukur lo tam, pingsan pingsan lo” tawa hadi
“yee temen kesusahan juga lo malah di ketawain” bela Yolanda


@UKS WANITA

Fia menghampiri Brenda di UKS, di lihatnya Brenda hanya menatap langit2 dengan tatapan kososng, Brenda tak menyadari kedatangan alifia. Tak lama vando datang diikuti alvian,
“Brenda kenapa?” tanya alvi pada fia, fia hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti.

Vando berjalan mendekati Brenda, “bren..!”
Brenda sadar dari lamunannya “hah? Eh vando, fia, alvi. Kapan dateng?”
“daritadi kali, lo aja yang ngelamun, lamunin apasih bren?” tanya fia mendekati Brenda.
“ah gapapa” kata Brenda mendudukkan posisinya.
“lo udah bisa jalan bren?” tanya vando. Brenda mengangguk.
“gue mau keluar ah, bosen disini” kata Brenda.

Akhirnya mereka pergi dari UKS, saat berjalan dikoridor…
“itu adek gua bukan sih?” kata Brenda menunjuk seseorang di dekat tiang bendera.
“lah iya itu adek lo bren ama tyas, ck sama si ketua osis. Samperin yuk”




______


“yas, lo tuh malu2in gue aja tau gak di hukum kaya gini!” bentak france
“suka2 gue! Masalah buat lo?! Lo aja sering tuh ribut disekolah, berantem sama kak Brenda, dan parah nya lo cari ribut tapi lo yang malu kena tendang cewe! Lo kira tingkah lo gak malu2in gue sebagai adek lo?! Ketua osis macam apa lo?! Sampah!!” caci tyas.

France geram dengan perkataan adiknya, jelas malu, banyak siswa memperhatikan mereka karna suara tyas cukup keras tadi.
“berani ya lo ngomong gitu sama gue” tangan france siap menampar tyas.
“CUKUP KAK!!” tama menahan tangan france
“heh apa lo ikut campur urusan gue?! Mau sok2an belain tyas hah? Lo inget, dulu lo yang nyakitin tyas Cuma2 gara2 hal sepele? Lo gak bisa berhubungan lama sama tyas Cuma gara2 lo harus pindah ke luar negri hah? Dan….” bentak france,

Tidak Cuma tama, tyas dan Brenda yang kaget, kaget karna france akan bilang seperti itu. Semua orang yang melihat, termasuk dhena, Yolanda, hadi, vando, alvi dan fia kaget.
“ja..jadi selama ini kalian berdua udah saling kenal? Hah tama? Tyas?” ucap dhena tak percaya, matanya sudah berkaca2. Yolanda yang memang peka’ terhadap temannya yang satu ini menyadari bahwa dhena menyukai tama.

-flashback 2tahun lalu-

Disebuah taman
“hmm, tyas”
“iya, knapa tam?”
“a..aku” kata tama gugup sambil memegang kedua tanga tyas
“iya kamu knapa tam?”
“aku, mau kita……putus”

DUAARRRR










Seketika tyas membelakkan matanya, hatinya? Cur..hancur berkeping2.
“maafin aku yas, aku hari ini harus pergi ke amrik, ada tugas orang tuaku disana, aku sama kak Brenda juga harus ikut. Hubungan kita gak bisa terus berjalan yas kalo begini, maafin aku. Mungkin saat ini aku orang paling jahat yang udah nyakitin perasaan kamu, di tanggal 29 ini. Anniversary 1year, tapi Happy Failed Anniv yas. Maafin aku, aku harus pergi. Aku sayang kamu”

Tama mengecup kening tyas, lalu ia pergi meninggalkan tyas. Tyas diam seribu bahasa. Perlahan sungai kecil mengalir di pipinya. Cuaca yang tidak mendukung mengawali harinya tanpa tama, Hujan membanjiri kota Jakarta. Wajah tyas terbasahi oleh air hujan, air mata sudah tak terlihat lagi di wajahnya karna hujan yang membasahi dirinya.
“TAMA KAMU JAHATTTT” teriak tyas.

~~
Semenjak saat itu tyas menjadi anak yang agak pemurung dan suka melawan kata2 kakak nya yang selalu membujuk dan menghiburnya. Kakak nya sungguh prihatin dengan keadaan tyas karna hancur di putuskan oleh tama, itu pun juga merubah sifat kakak nya menjadi seorang yang seperti sekarang ini, untuk menunjukkan kepada tyas, jangan menjadi orang yang lemah! Tapi kakak nya salah!!

-flashback off-

“CUKUP FRANCE!! JANGAN DI TERUSIN” Brenda angkat suara.
“bren, udah lo jangan cari masalah lagi” kata fia. Brenda tak mengubris kata2 fia
“apa lo ikut2 hah? Ini gak ada urusannya sama lo, lo anak pemilik sekolah. Gausah sok2 jagoan deh, siapa sih lo ikut campur aja? oh, lo mau ngadu ya ke nyokap bokap lo, kalo gue ribut lagi disekolah hah?” kata france

“gue gak loser ya yang bisanya ngadu!! Lo dalam masalah kalo lo berurusan sama tama!” kata Brenda dgn tatapan tajam.
“emang dia siapa lo hah?” balas france dgn tatapan tajam.
“dia adek gue!!”






“oh, dia adek lo? Pantes sama nyolotnya kaya lo!” kata france nyolot.
“gua bisa ya cabut predikat lo sbg ketua osis!”
“wow! Silahkan kalo itu mau lo mah, gua udah gak peduli, yuk ky cabut, males gua disini” kata france mengakhiri perdebatan.


“tyas, sorry” kata tama spontan memeluk tyas
“yas, jujur gue belum bisa lupain lo, nama lo masih ada di hati gue” kata tama dalam.
Tyas hanya bisa diam, ini yang dia rindukan, tama.

Dhena hanya bisa berpura2 tegar melihatnya. Sesungguhnya hati gadis ini cukup perih melihatnya, tapi apa yang arus dia lakukan? Marah, menangis? Sudah tak ada gunanya.

Lama2 murid2 pada bubar, “Brenda kemana?” tanya alifia.
“hah? Bukannya tadi masih disini?” kata alvian.
“gua cari brenda” kata vando langsung pergi

“fi.. lo ngerasa gak sih ada yang berubah dari vando?” tanya alvian
“iya vi, vando care banget sama Brenda, setau gue vando itu dingin banget sama cewe, tapi semenjak Brenda dateng……”
“gua rasa dia suka sama brenda”
“hmm, gue gatau lah, kita liat aja nanti”

___

Tiara dan wulan hanya memperhatikan semua kejadian dari jauh, “gausah gue bertindak, si Brenda juga udah ancur tuh haha” tawa tiara
“lo benci banget ya tir sama Brenda?” tanya wulan
“ya, sangat benci. Dia udah ngambil perhatian vando” kata tiara








Vando masih mencari Brenda ke seluruh penjuru sekolah, sampai akhirnya ia lelah dan menuju kantin. Dia lihatnya seorang gadis menunduk di meja kantin “tuh dia” vando menghampiri Brenda.

“bren” kata vando duduk disamping Brenda
“ya?” kata Brenda mendongakkan kepalanya
“lo kenapa? Kok ngilang gak bilang2?” tanya vando
“gua capek…”
“capek kenapa?”
“capek sama masalah yang terus menerus dateng ke gue, dan itu semua gara2 ketua osis sialan” kata Brenda tanpa ekspresi.

“AWW, vando! Lo kok nyubit gue sih?!” kata Brenda mengelus tangannya yang dicubit vando
“lo jelek kalo lagi kaya gitu, dan gua gak suka liatnya. Udahlah bren, masalah kaya gitu dibawa santai aja, kan ada gua, alvian sama alifia. Let yourself flow oke?”

Brenda pun memeluk vando. “jangan tinggalin gue sendirian”
Vando membalas pelukan Brenda, perlahan airmata Brenda pun mengalir.
‘vando, cara lo ngomong kaya tadi knapa mirip sama dia?’

“ekhm…” sebuah suara yang membuat vando dan Brenda melepas pelukannya.
“anak pemilik sekolah main peluk2an ya di kantin? Haha bagus banget”
“masalah buat lo?” kata Brenda, Brenda pun langsung pergi.

“lo kenapa sih tir gangguin Brenda terus? Apa salah dia sama lo?” bentak vando.
“van, gua gak akan rela ya cewe manapun yang deket sama lo dan ngambil perhatian lo. Van gua masih sayang sama lo” matanya mulai berkaca2
“sayang sama gua? Kalo sayang kenapa lo dulu selingkuh dari gue? Itu yang namanya sayang? Lo juga berubah tir! Gua gak suka sama sifat lo yang sekarang!” vando pun beranjak pergi.

Tiara menangis, dia menyesal atas perbuatannya dulu.








-flashback 1tahun lalu-

Sudah 1jam vando menunggu tiara di taman, tapi tiara pun tak kunjung datang.
“tiara, lo kemana sih kok belum dateng?” gumam vando. Vando memilih untuk tetap menunggu.
Percuma, sudah 1jam dia menunggu lagi tiara pun tidak datang, akhirnya vando memutuskan untuk kerumah tiara.

Sesampainya dirumah tiara, vando masuk dan dia cukup kaget dengan apa yang dia lihat.
“jadi gini ya, 2jam aku nunggu kamu di taman, ternyata kamu lagi asik2an sama cowo lain, sampe pegang2an tangan lagi. haha”
Spontan tiara melepas tangannya dari laki2 lain itu. Dia langsug menghampiri vando.
“vando, kamu salah paham, dia…”
“udahlah tir, aku rasa hubungan kita sampe disini aja, makasih atas 6bulan hari2 kita. Permisi!” vando pergi dari hadapan tiara.
“van, van tunggu! Vando… rivando!” tiara tertunduk, dia menangis sejadi2nya.

Laki2 yang tadi bersama tiara pun menghampiri tiara, “tir..”
“pergi..pergi” kata tiara sambil terisak. Laki2 itu memeluk tiara. “maafin gue tir”
“enggak, gue yang salah! Hiks, vandoo”

-flashbackoff-

Bel pulang telah berbunyi, tama dkk segera pergi kerumah tama.
“yaudah lo bertiga duluan aja pake mobil hadi. Gua sama dhena naik sepedah aja.” kata tama
“tar kalo udah sampe rumah lo kita ngapain?” tanya Yolanda
“paling diusir sama kakak gue, wkwk ya lo pada masuk lah atau nunggu diluar oke?”
“yadeh”

Hadi, Yolanda dan tyas sudah jalan dengan mobil milik hadi. Tinggallah dhena dan tama.
“yuk dhen”







Selama diperjalanan pulang, tama dan dhena hanya diam2an.
“tam… emang dulu tyas itu pacar lo?” tanya dhena agak ragu.
“iya dhen, gue sayang banget sama tyas. Tapi karna keluarga gue harus pindah ke amerika ya gue terpaksa putusin tyas, gue gakbisa longdistance dhen. Waktu gue mutusin tyas itu rasanya berat banget dan gak rela. Tapi ya gitu deh”
“hmm, apa lo gak mau buka hati lo tam? Cari cewe lain gitu?” tanya dhena lagi
“gak dulu deh dhen, gue masih sayang banget sama tyas”
Dhena hanya mengangguk, dalam hatinya sedih karna tama belum bisa move on.


@RUMAH FRANCE

France membanting tubuhnya di sofa, dia mengacak acak rambutnya.
“HAH, kayaknya semenjak ada Brenda disekolah ini gua dapet masalah terus. Vando juga, tuh anak lama2 makin nyolotin! Tiara juga, masih aja ngejar2 vando. Apacoba bagusnya vando!” kata france ngomel sendiri.

Drrtdrrtdrrt… ‘yoga call’
“halo? Yoga? Weyy apa kabar bro? hha iya gue baik. Hah? Lo mau balik ke indo? Kapan? Besok? Wahh seru nih. Oke besok gua jemput ya pulang sekolah. bye”

@RUMAH BRENDA/TAMA

“kakak lo mana tam?” tanya hadi
“siapa?” tanya tama
“bego lo, ya ka Brenda lah” kata hadi sambil noyor kepala tama
“hehe, becanda. Napa lo nanyain kaka gua?” tanya nya jail
“suka kali” sahut dhena yang sedang asik mainin hp nya
“yee sembarangan, gue udah punya Yolanda nih. Hhe jangan marah ya beb” kata hadi
“iya gapapa” Yolanda
“iya ya, kok kakak gua belom balik ya?” kata tama
“yee dia balik nanya -_,-” kata hadi
“sama ka vando kali tam, biasanya kan mereka berdua. Atau sama ka alvi sama ka fia” ujar tyas





“hmm, bener juga sih kata lo”
“eh tam, ka Brenda sama ka vando kok deket ya? Emang mereka udah kenal lama?” tanya Yolanda
“kagak yol, mereka baru kenal pas ka Brenda baru pindah disini” sahut dhena lagi
“jangan-jangan………” kata hadi gantung
“apa?” sahut semuanya
“itu…”
“apaan?”
“mereka saling suka lagi”

“ah ga mungkin di, ka vando lo tau sendiri pribadinya gimana? Cuek bebek” kata dhena
“hati orang siapa yang tau dhen” sahut tama
“yasih”

Besoknya di Bandara

“mana yoga ya?” france celingukan nyariin yoga, tiba2 ada yg menepuk bahunya. Dia menengok
“sorry, are…”
“yoga??”
“france?” tanyanya sambil menaikka satu alis nya
“iya bro ini gua. Wes tambah ganteng lo hahah” tawa france
“iyalah gue gitu”
“eh udah yok masuk mobil”

Mobil..
“kemana nih kita?” tanya france
“kerumah gue aja lah langsung, eh france SMA Pelita Bangsa dimana?” tanya yoga
“SMA gue tuh bro, gak begitu jauh lah kalo dari komplek kita” jawab france
“ohh soalnya gue bakal sekolah disana, asik ga sekolahnya? Orang2nya?” tanya yoga lagi.
“asik sih, tapi yaa semenjak kedatangan sang pemilik sekolah hidup gue kacau mulu, belom lagi si pasukannya dia haahh ribut mulu idup gue” france curcol
“yee itu mah idup lo, mungkin idup gue bakal lebih indah disekolah dibanding elo wkwkwk” kata yoga.






Alvian sedang mencari2 buku, tapi bukan buku yang ia cari tapi komik.
Brenda yang sedang di gramedia juga pun melihat alvian, dan menghampirinya.
“weyy al, ngapain lo?” kata Brenda, dan melihat apa yang alvian cari ‘komik? Sejak kapan?’
“eh bren, haha engga lagi bosen aja gue nyari2 buku” katanya gelagapan
‘ada yang aneh, apa ya? Ah gapenting’
“ohh, emm eh al. gue mau nanya2 sama lo tapi gue tunggu di café green ya dahh” kata Brenda langsung pergi.


@Cafe Green

“maksud lo bren?” tanya alvian
“iya, vando tuh dulu pernah pacaran sama tiara apa engga?” tanya Brenda lagi
“lo knapa nanya2 gituan?” tanya alvian
“soalnya tiara gasuka bgt gitu gue deket sama vando, siapa tau aja karna masih sayang jadi gasuka kalo vando deket2 sama cewe lain kaya gue gitu” jelas Brenda
“iya, bren. Tapi dulu vando pacaran sama tiara Cuma buat yaa gitu lah” jelas alvian gantung dan bikin Brenda makin penasaran.
“gitu gimana al? ah lo yang jelas dong ngomongnya jangan stengah2” kata Brenda
“yaa, dulu waktu masih SMP vando pernah pacaran sama org, dan org itu ninggalin vando karna mesti ke Amerika sama keluarganya, kaya tama sama tyas gitu. Nah karna vando gamau sedih terus, dia mau cari penggantinya. Dan dia dapetin tiara, tapi ternyata walaupun udah berusaha keras buat sayang sama tiara ttep gabisa bren. Nah pas itu kira2 setahun lalu pas banget ada kejadian yg buat vando mutusin tiara, tiara ke-gep selingkuh. Jadi lah mreka berdua putus” jelas alvian panjang lebar

“tiara selingkuh? Sama siapa? Trus cewenya vando sblum tiara siapa?” tanya Brenda
“gue juga kurang tau deh bren, vando gamau ngungkit2 itu lagi, stiap gue tanya kaya gitu atau bahas tentang itu pasti dia marah” kata alvian

“ceritanya vando sama kaya gue, tapi posisi gue di ceweknya” kata Brenda
“ketauan selingkuh?” tanya alvi polos
“gak lah dodol”




“terus?._.”
“gue ninggalin cowo gue ke amerika” kata Brenda
“karna keluarga lo?”
“iya keluarga gue dan sodara gue pindah kesana”

Dari kejauhan, seseorang memperhatikan Brenda dan alvian.

Besoknya disekolahan..

Kelas Brenda dan kawan2 sedang ribut karna akan kedatangan murid baru, benar saja taklama pun guru mereka Bu Dian membawa seorang murid.

“anak-anak diam!”
“YOGA?!?!?!” kaget Tiara, Brenda dan Rivando
“Tiara, Brenda, Rivando! Diam kalian”

‘brenda? Gue kangen banget sama lo bren. Akhirnya gue bisa liat lo. Tapi tiara? Vando? Knapa ada mreka juga?’ batin anak baru itu. Yoga.

“perkenalkan nama kamu”
“perkenalkan nama saya Yoga Achmad, mohon bantuannya”
“baik yoga kamu bisa duduk di sebelah kanan brenda”

Perasaan Brenda pun tak karuan, senang?
Begitupun tiara yang pernah punya masalalu pahit dengan Yoga.

[istirahat]

“bren, gue ke Perpus dulu ya sama alvian. Lo gapapa kan?” tanya alifia
“gapapa fi. Masih ada vando kok yg nemenin gue” senyum Brenda pada alifia
“ok, dah bren” alifia dan alvian pun pergi

“dih siapa yang mau nemenin lo? pede” kata vando





“hehe, canda kali van! Biasa dong muka lo. Udah yuk kantin” Brenda pun berdiri dari kursinya.
Namun saat ingin pergi dengan vando seseorang menahan tangannya

“bren..”
“yoga? Knapa?” perasaan Brenda semakin gak karuan. Deg2an rasanya

[perpustakaan]

Alifia lagi nyari2 buku sejarah.
“mana coba bukunya? Elahh.. hah? Apanih? Komik? Kok bisa? Conan lagi” alifia mengambilnya. Heran kenapa ada komik di perpustakaan? Dibukanya halaman pertama.

‘buat lo fi, liat ke sebelah kanan deh’

Alifia pun melihat kesebelah kanannya. Tampak alvian melambaikan tangan padanya dan tersenyum. Fia membalas senuman alvian dan menghapirinya.

“buat gue al? waah thanks ya :D”
“anytime fiJ, eh udah ketemu fi bukunya?”
“belom al, bantuin gue makanya”
“haha yaudah gue bantuin cari”

[kelas]

Yoga mendekati Brenda, memegang wajah Brenda dan jarinya menyusuri setiap lekuk di wajah Brenda.
“lo tau gak bren alasan gue balik ke Indonesia?” tanya yoga
Brenda hanya diam, menunggu jawaban laki2 yang ada di hadapannya itu. Sesungguhnya dia sangant rindu laki2 itu. Sekarang mereka ada dalam jarak yang sangat dekat.

“gue kangen sama lo bren, gue pengen cari lo. Tapi skarang kita udah bertemu bren” kata yoga.
Terdengar sangat berat suara yoga dan nafasnya sangat terdengar di telinga Brenda. Yoga memiringkan wajah nya dan…





“hett… apa2an nih!” vando memisahkan Brenda dan yoga.
Brenda baru tersadar. Dia menunduk
“yuk bren ke kantin” vando menarik tangan Brenda.

Tiara mengintip dari jendela, “bagus, kalo ternyata Brenda sama yoga udah saling kenal dan mereka berdua bisa deket lagi. Vando bisa jadi milik gue lagi. Siapa tau aja yoga bisa diajak kerjasama sama gue” senyum tiara licik

[kantin]

“nah jelasin bren!”
“gua gatau van, gue bingung van, bingung” Brenda menggeleng2kan kepalanya.
“knapa? Knapa yoga harus ada lagi dihidup gue?” kata Brenda matanya mulai berkaca2.
“bren? Kok lo? Lo knapa? Yoga emang siapa lo bren?” tanya vando makin bingung, apalgi melihat mata Brenda sudah mulai berkaca2 ingin menangis.

“yoga dulu cowo gue van waktu masih smp, dan gue ninggalin dia. Sama kaya tama van. Gue sayang banget sama dia. Gue gabisa lupain dia van, sampe sekarang. hiks” Brenda mulai menangis.

Vando memeluk gadis itu, cukup sakit hatinya mendengar perkataan spontan Brenda tadi.
‘jadi cowo yang lo maksud kmaren sama alvian itu yoga bren?’ batin vando.

Brenda melepas pelukan vando.
“sorry van. Oh ya, lo knapa tadi juga kenal sama yoga pas yoga dateng tadi?” Brenda menghapus airmatanya.

“selingkuhannya tiara dulu” jawab vando datar.
“HAH?? Jadi… tiara…”
“kenapa bren?”
“ah gapapa van, lupain”







“seandainya yoga ngajak lo balikan. Lo mau ga?” tanya vando, cukup sulit sebenarnya untuk menanyakan hal itu.
“gatau van. Sbenernya gue udah nemuin pengganti yoga van, tapi knapa yoga mesti hadir lagi di hidup gue? Bikin gue bingung van” Brenda menghela nafas.
“pengganti yoga? Siapa?” tanya vando makin penasaran.
“hmm…” Brenda memegang kepalanya.
‘kepala gue sakit banget’
“bren, muka lo pucet. Lo knapa?” vando panic
“gapapa, van…temenin gue ayo”

[kelas tama]

“sialan. Bikin gossip aja. siapa sih dia?” kata tama kesal
“ka tiara tam, ya gasuka gitudeh sama kakak lo” Yolanda
“gue tau ka yoga itu masalalunya kakak gue, yatapikan gak gitu lah gausah disebar2 gitu kalo kak yoga hampir nyium kakak gue. Ck ah” tama melipat kedua tangannya.
“udahlah tam” kata dhena
“sabar gimana hah?! Gua harus kerjain dia” senyum tama licik

[BEL MASUK]

“udah masuk, Brenda mana ya?” kata alifia
“vando juga mana coba” kata alvian.
“ilang kok kompakan” sahut tiara
“bacot lo ah” kata fia.

Drrt..drrt
From: Brenda
Fi, izinin gue sama vando ya hehe bilang gue sakit kek. Gue mau cabut, tar pulang skolah lo krumah gue aja sama alvian skalian bawain tas gue sama vando, oke? :D

“hhh kebiasaan” respon fia stelah membaca sms Brenda, dia hanya membalas  ‘iya, lo hati2 ya bren. Gue takut lo stress grgr gossip yg hampir kissing ama yoga wkwk trus bunuh diri lagi’





“knapa fi?” tanya alvian.
“gapapa, eh tar kita pulang skolah krumah Brenda ya”
“siip”

‘vando? Brenda? Mereka pacaran?’ batin yoga

[taman]

“bren…”
“ya van?”
“yg lo bilang tadi, cowo pengganti yoga di hati lo siapa?” tanya vando

Brenda diam, angin yang berhembus . rambut panjangnya pun ikut tertiup angin sore itu. Vando masih menunggu jawaban Brenda. Brenda tersenyum menghadap vando.

“elo van”
“gue?” vando mendelik
“iya van, perhatian lo ke gue itu yang buat gue merasa lo tepat buat gantiin yoga. Tapi van, skrg gue bener2 bingung sama perasaan gue” kata Brenda yang tadinya tersenyum langsung datar.
Brenda mengalihkan pandangannya dari vando, ia menghadap danau yang terbentang di taman itu. Perlahan Brenda menitikkan air matanya.

“van, gue sayang banget sama lo. Bukan sayang sebagai temen, lebih dari itu van. Tapi gue gabisa nebak hati lo van. Gatau knapa rasanya gue pengen banget ngungkapin ini smua ke elo.” Kata Brenda, tatapannya kosong.

Vando berdiri dibelakang Brenda, memeluknya dari belakang, meletakkan kepalanya di pundak Brenda.
“van..?” Brenda bingung
“hmm…” ucap vando sekenanya. Ia membelai rambut panjang brenda
“lo kenapa? Lo gapapa van?” tanya Brenda, tapi ia masih diam atas perlakuian vando itu
“hmm…” kini vando mencium tengkuk leher Brenda.
“geli ah van” ucap Brenda yang mulai merinding atas perlakuan vando, ia kini berbalik menatap Vando. Vando pun langsung mencium bibir Brenda. Awalnya Brenda hanya diam, tapi lama kelamaan dia membalas ciuman vando.



“gue juga sayang sama lo bren, semenjak gue liat lo main piano. Gue udah suka sama lo bren. Dan sekarang gue sayang sama lo bren.” Kata vando.
“makasih van, gue…” tiba2 brenda pingsan, vando menahan tubuh brenda.
“bren..bren.. brenda”

[depan rumah brenda]

“brenda belom pulang tam? Dia gak kabarin lo emang?” tanya fia pada tama
“enggak kak, gua juga khawatir sama dia takut penyakitnya kambuh” kata tama masih belom sadar
 Fia dan alvian melotot kaget
“a..apa tam? Penyakit?” kata alvian
“ups.. enggak kak maksud gua itu..”
“jelasin tam!” paksa fia

TIN TIN
Mobil vando datang, vando cepat2 keluar mobil dan membawa brenda
“kak vando, kakak gua kenapa?” tanya tama panik
“udah tar gua jelasin mending lo bantu gua, buka pintu tam” kata vando

“bren lo kenapa sih?” tanya vando sedih melihat brenda terbaring di sofa.

Well open up your mind..hp tama bunyi. Mama calling.

“Halo ma”
“Halo tama, tama sayang. Mama sama papa hari ini juga mau ke LA, kira2 bulan depan mama sama papa pulang, kamu bilang sama kakak kamu ya sayang, bilang vando sama dhena juga. Oh iya jaga kakak kamu jangan sampe kecapekan, mama gak mau denger kalo dia sakit.”

“Hah? Kok gak pulang dulu sih ma? Iya Kak brenda pasti baik2 aja, tapi mah...”
“Gak bisa sayang, ini urusan mendadak. (maaf bu tiketnya) oh iya ini, yaudah gitu aja ya tama, love you dear”

“Love you too, bye”

“ada apa?” tanya vando yang melihat raut wajah tama melas



“orang tua kita” kata tama membanting tubuhnya di sofa sebelah sofa tempat brenda
“hm kapan balik?” tanya vando yg sudah mulai mengerti
“bulan depan”

“eh iya van, brenda kenapa bisa gini?” tanya fia
“mungkin dia kecapekan, dia ngapain aja hari ini?” kata tama
“hm belajar, ribut sama france, trus tadi masuk uks karna jatoh, marah2 sama france dan terakhir pergi sama vando” kata alvian menghitung jarinya mengingat kegiatan brenda disekolah tadi

“dia ngajak lo kemana kak? Biar gua tebak, danau?” kata tama
“iya, lo kok tau?” tanya vando

“danau itu tempat favorite kakak gua, waktu kecil dia suka main sama gua disana, dan juga tempat favorite kakak gua sama kak  yoga dulu dan tempat gua mutusin tyas dulu di tamannya”

“yoga sama brenda ada hubungan apa?” tanya fia penasaran, alvian sudah melihat expresi vando saat tama menyebut nama yoga dan brenda.

“dulu mereka pacaran, dan berhenti pas keluarga besar gua pindah ke Amerika,” jelas tama.
“hampir sama kaya kisah gua sih? Gua ditinggal ke amerika”

“eh iya tam, lo sekarang jelasin maksud omongan lo tadi, brenda punya penyakit apa?” tagih fia
“pe..penyakit?” vando makin bertanya2.

“Leukimia” jawab tama datar
“lo serius tam? Stadium berapa?” vando panik sendiri
“...” tama diam
“sejak kapan?” tanya alvi
“sejak dia kelas 6SD ka”

Vando lemas, alvi dan fia tak menyangka. Di balik ke ceriaan brenda dan ke beranian brenda terhadap france, dia menyimpan beban seberat ini.






“hmm..” brenda terbangun memegang kepalanya yang pusing, semua langsung bersikap biasa.
Brenda membenarkan posisi dia duduk di sofa. Vando langsung duduk di sofa dan memeluk gadis itu. Semua bingung termasuk brenda yang baru sadar dari alam bawah sadarnya.

-=-=-=-=-

Yoga berjalan kearah rumah brenda, rumah mereka hanya berbeda 3 rumah, yoga sempat menanyakan alamat nya pada tama tadi. Dia membawa setangkai mawar merah, ia tersenyum dan memutar2 bunga itu dengan ibu jari dan telunjuk nya.

“gua pasti dapetin lo lagi bren”

Sesampainya didepan rumah brenda, yoga heran kenapa ada mobil dan itu bukan milik orangtua brenda, dan mengapa pagar rumah terbuka? Yoga masuk dan memasuki teras rumah brenda, 5 langkah sampai didepan pintu yoga kaget dengan apa yang dia lihat, vando dan brenda.

“vando?” brenda bingung, brenda menatap teman2 dan adiknya seolah bertanya –vando kenapa?- mereka hanya mengangkat bahu.

“gua sayang sama lo bren” suara vando agak serak.

Brenda membalas pelukan vando, “iya van gua juga sayang sama lo, lo kenapa? Lo nangis ya?”

Vando melihat banyangan dari arah pintu, dia melepas pelukan brenda, “ngapain lo?” itu yang terucap dari bibir vando saat melihat siapa yang datang

Semua berbalik arah kearah pintu termasuk brenda

“yoga?” kata brenda pelan lalu menunduk.

Yoga masuk dan menarik tangan brenda tapi vando menahannya
“mau apa lo?”



“gua pinjem bentar” kata yoga datar

“buat apa? Lepas!” vando berusaha menahan brenda.

“atas dasar apa lo larang2 gua? Lo siapanya brenda?” kata yoga

Vando langsung diam, tama juga diam saja. Dia tau kakaknya butuh waktu berdua dengan yoga.

Yoga mengajak brenda pergi ke danau.

“kenapa lo gak nahan brenda van?” tanya alvi

“bener kata yoga, gua bukan siapa2nya” katanya terduduk lemas di sofa.

“hak lo tuh lebih besar dari yoga, apa status yoga? Cuma mantan van. Elo? Elo gak sadar tadi apa yang lo ucapin berdua? Lo sama2 saling sayang van, brenda tau perasaan lo ke dia, pasti dia ngerti kenapa lo nahan dia” jelas fia.

“tapi kak, ka yoga sama kakak gua butuh waktu berdua. Mereka pernah menjalin hubungan, saling sayang dan susah dipisahin, sampe mereka pisah cukup lama, mereka butuh waktu kak” timpal tama.

Fia mendengarnya ikut duduk disebelah vando, alvi disebelah tama. Mereka berniat menunggu brenda sampai pulang, bahkan menginap. Besok libur dan mereka langsung izin pada orang tua, begitupun dhena, datang ke rumah brenda dan diberi kejelasan karna orangtuanya.

[danau]

“bren,” yoga memulai pembicaraan setelah beberapa menit mereka diam2an

“iya?” brenda menoleh kearah yoga yang duduk disebelahnya.

“gimana keadaan lo sekarang?”

“masih sama kayak dulu Ga, penyakitan” katanya miris


“jangan ngomong gitu lah bren, lo pasti sembuh” kata yoga

“sembuh lo bilang? Udah lama Ga, dari gua SD dan sekarang gua udah SMA,  kalo bukan karna gua tegar dulu mungkin lo udah gakbisa liat gua lagi, tapi lama2 gua capek Ga begini mulu, bergantung sama obat, apalagi kalo gua udah drop. Gua mesti kemo berkali2, sembuh sebentar sakit lagi,” kata brenda sedih, siapapun yang melihatnya juga pasti akan menangis. Brenda mengeluarkan airmatanya

“gua iri Ga sama lo, lo sehat, bisa ngelakuin apapun. Gua juga iri sama Tama, dia bisa sepedahan bebas, main basket. Kadang gua sedih banget liatnya Ga” brenda menangis semakin menjadi, yoga mnyandarkan brenda di bahunya.

“justru gua iri jadi elo bren, lo kuat. Buktinya lo masih bisa bertahan kan sampai saat ini? Bren, tuhan udah rencanain sesuatu buat lo nanti. Banyak bren yang sayang sama lo. Ada tama, orangtua lo, sahabat2 lo, ada gua bren, dan...dan vando” kata yoga.

Brenda menghadap yoga, “kenapa bren?”

Brenda tertunduk, “maaf, maaf buat semuanya. Saat gua pergi dari lo, saat yang paling bikin gua terpuruk. Maaf banget Ga”

Yoga menghapus airmata brenda, di tatapnya mata gadis itu, tatapan sayu dari seorang brenda.
“selama lo pergi dari gua, Cuma satu yang gua harapkan bren. Berharap lo jadi milik gua lagi,”

Brenda menjauhkan wajahnya dari yoga, “entah Ga”

“kenapa? Apa lo gak mau sama gua lagi bren?”

“gua ragu”

“ragu kenapa? Sama cinta gua? Gua masih sayang banget bren sama lo.” Jelas yoga cepat

“gua ragu untuk memilih lo atau,..”

“Rivando”



Brenda terdiam, yoga menatapnya lagi. “gak sampai disini bren, gua bakal terus berusaha supaya lo ada sama gua lagi, dan bikin lo gak ragu lagi untuk milih gua” yoga tersenyum, dipeluknya gadis yang dicintainya itu.

Tapi yoga merasakan tubuh brenda bergetar, dilihatnya brenda. Wajahnya pucat, dia juga kedinginan, yoga melihat brenda masih memakai seragam sekolahnya, dipakaikannya jaket nya pada brenda dan mengantar brenda pulang.

[di rumah brenda]

“kak brenda kok belom pulang ya?” tanya dhena pada siapa saja yang mendengar. Tak ada yang menjawab. Alvi dan fia menonton TV tapi tidak konsen, begitupun tama dan vando yang daritadi hanya diam memikirkan hal yang sama, brenda.

Tok tok tok..
Dibukanya pintu.

“brenda?” vando menarik brenda kepadanya

“muka lo pucet bren, lo kenapa?” tanya fia.

Vando mentap yoga tajam, dan langsung menutup pintu tanpa berkata sepatah katapun. Vando membawa brenda ke kamarnya.

“kak lo udah minum obat?” tanya tama

“belum tam hehe”

“lo bren, masih aja nyengir. Gak tau apa kita khawatir” cibir alvi

“yaah, maaf deh alvi tayangg” kata brenda mencubit kedua pipi alvi bergaya anak kecil.

“jangan kelamaan kak, tar ada hati yang tersakiti” tawa tama melirik vando dan fia yang hanya memberi expresi diam dan menatap cuek brenda alvi. Dhena hanya terkikik melihat sang kakak.

HAHAHAHA


MINGGU PAGI.

Tiara lari pagi di jalan sekitar taman, dia melihat yoga sedang duduk sendirian di tepi danau dekat taman. Tiara menghampirinya.

“yoga”

“eh tir...”

“lo masih sayang sama brenda?” yoga hanya mengangguk

“brendanya?”

“mungkin”

“gini, maksud gua. gua mau nawarin lo kerjasama sama gua, biar lo dapetin brenda dan gua bisa dapetin vando” senyum tiara licik

“maksud lo?”

[dirumah brenda]

“van, bangun van” alvian membangunkan vando yang tidur di samping ranjang tempat brenda tidur. Ya, vando memang menemani brenda, takut brenda terjadi apa2.

Bukannya vando yang terbangun, tapi brenda. Brenda pun kaget, dia tidaktau semalam vando tidur di kursi seperti itu. Brenda mengisyaratkan alvian untuk keluar.
Brenda duduk dipinggir ranjangnya, disebelah kursi vando. Dia mengusap rambut vando.

“lo pasti capek banget ya van? Makasih ya lo udah nolongin gua sejauh ini, makasih udah sayang sama gue, gue sayang banget van sama lo. Walau belum sepenuhnya van, karna yoga.”
‘dan entah gua emang belum bisa melupakan yoga, gua harap lo bisa bantu gua’ Brenda mencium kening vando.

Vando memang memejamkan mata, tapi dia tidak lagi tertidur. Dia hanya malas bangun saat dibanguni oleh alvian tadi. Dia mendengar semua ucapan brenda, termasuk kalimat terakhirnya.


Brenda mengguncangkan tubuh vando pelan, vando hanya pura2 seperti orang baru bangun tidur.

“hmm bren, lo udah sehatan?” melihat brenda sudah tersenyum duduk disebelahnya.

Vando berdiri, begitupun brenda. Brenda melihat wajah vando yang penuh peluh entah karna saking capeknya atau apa.

lo keringetan tuh van ujar Brenda sambil mengelap keringat yang menetes di wajah Vando dengan tangannya. Vando pun menatap Brenda, ia pun memegang tangan Brenda yang sedang mengelap wajahnya.
“ I realy love you” ujar Vando sambil menatap Brenda dalam. Brenda hanya tersenyum. Vando pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Brenda. Tangan Vando menaruh tangan Brenda di pinggangnya, Saat ini dewi asmara pun sedang menghampiri kedua anak muda yang akhirnya berhasil mengenal kata cinta lagi dengan orang yang berbeda dari masalalunya. Brenda menutup matanya perlahan, perlahan rasa hangat itu pun hadir di bibir Brenda, Vando pun semakin mendekatkan Brenda kedalam pelukannya, Brenda pun membalas pelukan Vando, Vando mencium bibir Brenda, Brenda pun membalas ciuman Vando. Dirangkulnya leher Vando dengan kedua tangannya. Keduanya hanyut dalam suasana penuh cinta. Perlahan Brenda melepaskan bibirnya dari bibir Vando, ditatapnya Vando.
“ I love you too “ ucap Brenda, Vando hanya tersenyum dan mendekap Yolanda ke dalam pelukannya.
‘Yoga maaf, tapi kali ini aku rasa aku telah menemukan cintaku yang sebenarnya, walau aku masih bimbang untuk memilih, entah mengapa aku lebih nyaman dengan vando, walau aku masih menyayangimu juga, yoga’ batin Brenda. Mendapatkan pelukan hangat dari sesorang Vando, sekarang adalah hal yang paling diharapkan oleh Brenda. Karena cintanya telah kembali, hadir dalam sebuah cinta yang baru, cinta dengan masa depan yang lain, yang berbeda dari sebuah cinta di masa lalunya. Cinta Vando, ya Cinta seorang Rivando Aviaresky!
Rupanya Alvi, fia, tama dan dhena yang ingin melihat keadaan brenda pun tidak jadi masuk karena adegan tersebut.
“Astaga, kakak gua ckck” komentar dhena

“sumpah, kak bren...lo” tama pun menggeleng.




Tapi alvi dan fia hanya tersenyum melihat kedua temannya.

Mereka berempat pun tidak mau mengganggu acara vando dan brenda, mereka turun untuk sarapan pagi.

Tak lama brenda dan vando turun dari lantai atas, tiba-tiba terlintas sesuatu di fikiran brenda, dia memanggil alvian.

“al, alvi. Keluar bentar deh, berdua aja”

Vando, fia, tama dan dhena pun terheran-heran.

[diluar]

“lo serius bren? Dan lo tau darimana?” tanya alvian.

“iya, gua serius. Lo mau bantu gua kan? Gua tau gua ketemu lo di toko buku dan nyari-nyari komik dan besoknya dia cerita ke gua kalo dia dikasih komik dari lo. Jadi gimana? Ada untungnya juga buat lo”

“hm peka banget lo jadi cewe. Oke gua bantu lo” senyum alvian.

Semenjak kejadian itu, disekolah pun brenda tak mau menemui Yoga, walau sudah berkali2 yoga mendekatinya, membujuknya dan bertanya mengapa sikap brenda berubah seperti ini. Brenda tak ingin kembali kemasalalunya, walau dia belum melupakan yoga sepenuhnya. Dia takmau terus terpuruk dengan yoga, karna baginya, vando dan teman-temannya sudah cukup.

ISTIRAHAT.

“yas, kantin yuk” ajak tama pada tyas.

“tapi tam, gue belom selesai nyat...”

“udah ayok” tama langsung menarik tangan tyas.






Hadi, dhena dan yolanda hanya bingung melihat tingkah tama. Termasuk dhena, hatinya sakit melihat orang yang dicintainya bersama perempuan lain, tapi dia sadar akan status nya dengan tama, hanya sebatas teman. Wajar kalau tama baik kepada tyas, karna tyas pernah menjadi bagian dari masalalunya tama. Tapi tetap saja hati tak bisa di bohongi.

Yolanda yang melihat perubahan expresi dhena makin yakin kalau temannya ini menyukai tama.

...

Brenda dan fia melihat alvian dan vando latihan futsal. Fia hanya senyum2 sendiri, brenda menatap arah pandang mata fia, dan tertuju pada...

“alvian?” tanya brenda

“alvian kenapa?” fia langsung menengok kearah brenda.

“hha, lo suka sama alvian kan?” tanya brenda sok menyelidiki sambil menunjuk fia.

“ih brenda apaan sih enggak kok” alifia hanya tersenyum malu2.


“ahh bohong, mukalo merah fi serius deh haha”

Fia melihat bola yang ditendang alvi melesat cepat kearah...

“BRENDAA.......”

BRUuukk...

[UKS]

Alvian berada di sebelah ranjang brenda, dia merasa bersalah sekali. Jelas, alvi takut brenda kenapa2, dia tau brenda sedang sakit. Dia memegangi tangan brenda, mukanya sangat panik. Alvi juga takut vando menyalahkannya jika terjadi apa-apa dengan brenda, mengingat vando sangat menyayangi brenda.

“brenda maaf..” alvi terus mengulang-ulang kalimat itu

Tama datang karna dipanggil fia, vando izin fia, brenda, alvi dan dirinya untuk tidak ikut pelajaran. Mereka bertiga masuk bersamaan. Fia sedikit kaget, tapi berusaha biasa dan tetap masuk, begitupun tama yang benar2 panik, dia tak peduli dengan alvian. Tapi vando, dia berhenti diluar sejenak dan hanya masuk sampai dibelakang alvian. Alvian pun juga tak peduli dengan teman2nya yang masuk.

“ka alvi, kakak gua kenapa?” muka tama sudah memelas. Alvi hanya menggeleng.

Jemari brenda bergerak, “bren? Brenda? Lo gapapa?”

“kak?”

Brenda mendudukkan posisinya, dia menyadari alvian masih memegang tangan kanannya, brenda turun dari ranjang dibantu alvi “lo mau ngapain sih bren, lo jangan banyak gerak dulu apa” tangannya sambil memegangi brenda. Brenda belum menyadari kehadiran vando yang dibelakang alvian.

Tiba-tiba tama diam ‘he? Ka alvi kenapa? Cuma sekedar khawatir dan merasa bersalah apa gimana? Kagak sadar ada kak vando kali ya?’

Brenda merasakan kepalanya pusing, dan... tiba-diba brenda ambruk dipelukan alvian.

“BRENDA!”

Vando langsung mengambil alih brenda, membawanya pulang. Diikuti alvi dan fia. Tama tidak ikut.

Vando mengemudi dengan kecepatan tinggi, terlihat sekali raut wajah cemas pada vando. Rasa bersalah alvian semakin besar.

[kamar brenda]

“ahh, kepala gue. Alvian...” brenda tersadar, nama yang pertama disebut alvian.




Hati vando mencelos, tapi dia berusaha pisitive thinking.

“brenda, maafin gua bren. Gua gak tau. Maafin gua, gua takut lo kenapa-kenapa. Maaf bren maaf” mata alvian berkaca-kaca.

“alvian, alvian dengerin gue. Gue gak papa al, udah lo gausah merasa bersalah gitu. Lo gak salah, semua kejadian tadi tuh gak disengaja al, oke?” senyum brenda, alvi memeluk brenda dan membisikkan sesuatu “akting lo keren bren, gua yakin vando jealous banget. Lo sekarang udah yakin kan?”

“iya al, thanks ya. Dan gua juga yakin fia suka sama lo al,”

Alvi melepas pelukannya. Giliran vando mngambil alih. Vando membelai rambut brenda, tatapannya sayu. Alvi dan fia meninggalkan mereka berdua. Brenda mendudukkan posisinya.
Tiba-tiba saja vando memeluknya.

“ehh, van, vando?” brenda kebingungan

“gua khawatir sama lo bren, lo gapapa kan?” suara serak vando sangat terdengar

“maaf ya van” vando melepas pelukannya

“gua janji bren, gua bakal jagain lo” ucap vando mantap, brenda tersenyum dan mengangguk

--

Fia dan alvi menunggu diruang tengah.

“vando sama brenda sosweet banget ya, envy gue” ucap fia tak sadar.

“eh fi,”

“ya al?”

“lo jealous ya tadi liat gua sama brenda?” senyum alvi jahil



“eh, eh eng..enggak kok, apaan sih lo al” fia gelagapan.

“masa sih?”

“engga, eh kok lo tadi perhatian banget sama brenda?” tanya fia,

“tuh kan lo jealous”

“ihh serius alvian”

“ya jelas lah fi, brenda itu sakit dan dia sahabat gua, gua juga pasti merasa bersalah sama vando, vando kan sayang sama brenda, kalo brenda kenapa2 gara-gara gua, pasti vando juga marah sama gua, gua udh sahabatan sama kan fi? Gua juga gamau vando jadi dingin sama gua grgr itu” jelas alvi.

“iya, gua ngerti. hoam”

“lo ngantuk ya fi?” tanya alvi

“hmm ya” fia sudang ngantuk, lelah rasanya juga. Alvi menyandarkan kepala fia di bahunya.

BESOKNYA.

Vando melarang brenda sekolah dulu, alvi juga. Vando dan fia pun juga, mereka mengantar dhena dan tama dan membeli makanan untuk cadangan sebentar.

“bren, ini makanannya. Loh bren? Mana tuh anak? Ah nyusahin gua lo bren” alvi meletakkan makanannya dan mencari brenda di balkon kamar brenda, dibukanya pintu dan dilihat brenda sedang berdiam diri, alvi menghampirinya

“bren,”

“eh alvi,” kata brenda sedikit mengusap kepalanya

“kenapa bren?”



“tendangan lo mantep juga ya kemaren”

“yah maaf deh bren gua gak tau kalo bakal kenceng, tapi bren kemaren itu gua beneran panik liat lo kaya gitu, sumpah bren takut banget gua” alvi sambil melihat kepala brenda, jarak mereka sangat dekat sekali.

Vando yang datang tak lama melihat dan mendengar perbincangan brenda dan alvi, ujung bibirnya ditarik membentuk senyuman ‘sekarang lo udah yakin kan bren kalo sayang gua tulus sama lo’ vando masih menyaksikan alvi dan brenda.

“sakit al, pelan dong lo”

“haha maaf bren, ah gak papa kok ini” alvi mengusap kencang kepala brenda yang terasa sakit.

“alviaaannn, lo.. ihhh” brenda memukul alvi pelan

“hehe udah bren udah, maaf deh”

“hmm, dingin yah al, ah mendung pantes aja anginnya dingin” brenda mengusap kedua lengannya.

“sini gua peluk sebagai ganti yang kemaren” alvi sudah memeluk brenda dari belakang.

“ahaha alvi, thanks ya”

Vando sudah malas melihatnya, dia menghampiri fia saja didapur. Jealous sih, tapi dia sudah tau alasan brenda sudah senang. Dia menghiraukan alvi dan brenda, dia yakin alvi hanya berusaha menjaga brenda sebagai sahabatnya.

“hm al, udahan ah peluk-peluknya tar fia liat aja” kata brenda.

“tar bren,” kata alvi singkat, brenda bingung dengan alvi tapi dia hanya diam saja.

‘tuhan, apa yang gua rasain. Gak mungkin kan kalo tiba-tiba gua jadi sayang sama brenda begini, ini freak banget. Tapi brenda emang cewe yang baik dan bikin orang yang disekitarnya nyaman, tapi gimana vando?’ batin alvi. Alvi menyandarkan kepalanya di pundak brenda.

“al?”

“gua pasti jagain lo bren” kata alvi

“iya al, thanks ya” brenda menghadap belakang, melihat alvi. Dia meng-iya-kan perkataan alvi, karna sebagai sahabat memang sudah harus saling menjaga.

Jarak alvi dan brenda sangat dekat, brenda masih belom menyadari, dia hanya biasa saja menatap alvi sambil tersenyum. Sedangkan alvi menatap brenda penuh perasaan, sayang.

Sorenya brenda jalan sore di danau, yang sebelumnya telah memohon-mohon pada vando untuk keluar rumah. Tiba-tiba yoga menghampirinya, tapi brenda menghindar.

“bren, plis bren tunggu” brenda pun diam

“ikut gue,” yoga mengajaknya ke bawah pohon rindang.

“mau apa lo Ga?” kata brenda jutek

“lo kenapa bren jauhin gua gitu? Apa salah gua?” yoga minta kejelasan brenda

“untuk apa Ga? Untuk apa lo kembali lagi?” ucap Brenda yang kini duduk dibawah pohon rindang bersama Yoga. Di taman ini, danau yang dulu pernah menjadikan tempat kenangan terindah untuk Yoga dan Brenda.
“ Gua masih sayang sama lo, selamanya.”
sayang?? Hahaha… lucu.” Tawa Brenda
Gua mohon kasih gua kesempatan. Gua  pengen kita bisa kaya dulu lagi“ ucap Yoga
gak mungkin bisa..” ucap Brenda pelan
“kenapa? Kenapa gak bisa? Lo masih sayang sama gua kan bren? Iya kan?” tatap Yoga berharap pada Brenda.
“maaf Ga, Gua gak bisa. Hubungan kita sudah selesai beberapa tahun yang lalu.” Ucap Brenda berdiri dan beranjak pergi.

Brenda… apa karena Vando?” ucap Yoga yang juga berdiri itu.
“ …………” Brenda terhenti, dan terdiam.
“apa karena lo menyayangi Vando? Apa lo lebih sayang Vando daripada gua? Kenapa? Kenapa diam Bren? Apa kata-kata gua benar?” Ucap Yoga begitu tegas dan menusuk hati Brenda. Perlahan mata Brenda mulai berkaca-kaca.
gua gak ngerti apa yang lo omongin” ucap Brenda pelan, ia mulai berjalan lagi meninggalkan Yoga..
“berarti kata-kata gua benar, iya kan? lo gak menyayangi Vando, lo hanya jadikan dia pengganti gua. Karena gua yakin lo sama seperti gua, selamanya kita hanya punya satu cinta.” ucap Yoga.
“CUKUP YOGA!! CUKUP!! gua benci lo!” ucap Brenda membalikkan badannya, ia menatap Yoga, airmatanya tak terbendung lagi.
“maaf Bren, maafin guaYoga menarik Brenda kedalam pelukkannya.
“kenapa? Kenapa lo harus kembali? Kenapa lo harus kembali saat gua sudah sedang berusaha melupakan lo? gua benci lo, gua ben….” isak tangis Brenda terhenti saat tiba-tiba Yoga mencium bibir Brenda. Brenda tak menolak ciuman itu, berlinang airmata Brenda merasakan kehangatan yang dulu pernah ia rasakan. Yoga memeluk erat Brenda, ditempat kenangan mereka.
“maafin gua bren, gua janji gua akan perbaiki semuanya. Gua mohon kasih gua kesempatan sekali lagi” ucap Yoga memeluk Brenda.
maaf… Vando maafin gua, gua gak tau apa yang sebenarnya ada dihati gua’ batin Brenda, kini Brenda berada dalam dekapan Yoga kembali

Orang yang sedari tadi mengikuti brenda pun langsung pergi, tak menyangka. Hancur, itu yang dirasakan. Dia hanya memilih untuk diam.

BESOKNYA DISEKOLAH





Tama sedang di kantin berdua dengan tyas.

“lo kok gak makan tam?” tanya tyas

“bisa gak kita kayak dulu lagi yas?” ucap tama pelan, tapi cukup terdengar di telinga tyas.

“sekali lagi tam?” tama menggenggam tangan tyas, dia memajukan tubuhnya. Tyas hanya bisa menutup matanya dan menunggu apa yang akan dilakukan tama, rasa hangat sudah terasa di bibir tyas, tama memiringkan kepalanya...

“WOYYY” yolanda, hadi dan dhena datang, tama dan tyas hanya salah tingkah. Dhena hanya pura-pura tegar.

“ah, ganggu aja lo berdua” tama kesal dan hanya melipat kedua tangannya.

“tar aja ditempat yang sepi, ini tempat umum tam, Bu batagor satu” kata hadi sambil duduk didekat tama dan meminum lemon tea milik tama.

“copet dasar” kata tama mengambil kasar lemon tea nya

“uhuk, weh pelan tam haha”

PERPUSTAKAAN

“nah tuh dia bukunya, ah daritadi kek,” barusaja brenda akan mengambil buku, ada tangan yang mengambilnya duluan.

“yah alvian..” brenda ngambek.

“haha gausah ngambek bren, nih bukunya” tawa alvi.

“ih rese” kata brenda pelan

“duduk yuk”




“hm, bren gua mau nanya deh”

“iya tanya aja”

“lo masih sayang sama Yoga?” tanyanya hati-hati, brenda pun berusaha biasa saja.

“kita omongin nanti pulang sekolah di cafe green”

[kelas]

Fia menghampiri meja vando dan menarik kursi brenda agar lebih dekat dgn vando

“van gua mau nanya deh, lo ngerasa gak sih alvi sekarang deket sama brenda?” tanya fia serius

“knapa? Lo jealous?” tanya vando biasa saja, vando masih berusaha menganggap kalau alvi masih berakting dengan brenda. Tapi hatinya juga bertanya-tanya.

“serius ah van,”

“iya gua juga ngerasa, tapi gua berusaha positive thinking, mereka berdua juga sahabatan kan fi, dan mungkin alvi juga masih merasa bersalah jadi pengen jagain brenda” jelas vando.

“tapi van, gue...” raut wajah fia murung. Vando mendekati fia dan berlutut didekat fia.

“iya fi gua ngerti, tapi fi lo jangan mikir yang macem-macem. Fi, lo pikir gua gak bertanya-tanya kenapa mereka deket? Gua juga jealous fi,” vando menenagkan sahabatnya yang hampir menangis. Fia memeluk vando, vando sudah tau lama fia mencintai alvi. Dia mengerti sekali perasaan fia. Fia melepas pelukannya

“thanks ya van” senyum fia

[cafe green]

“jadi bener?” brenda hanya mengangguk.




“lo Cuma jadiin vando pengganti yoga dong?” tanya alvian membuat brenda melotot.

“maksud lo al?”

“gua liat lo sama yoga pas di danau, gua disuruh vando jagain lo, ya gitulah gua liat dan denger semuanya” jawab alvi datar.

“gak, gak gitu al. Gua bener2 sayang sama vando, gua emang belom bisa lupain yoga sepenuhnya, tapi gua gak sejahat itu, gak mungkin gua jadiin vando pelampiasan” jawab brenda cepat, ia tak mau alvi salah paham.

“haha iya bren gua ngerti, gausah panik gitu.”

Vando, fia, tama dan dhena menunggu alvi dan brenda disekolah

“coba lo sms kakak lo tam”

To: Ka Brenda
Kak brendaaaaaaa, lo sama ka alvian dimana?

From: Ka Brenda
Lo berempat duluan aja, gua lagi sama alvian^^

“kita disuruh duluan aja”

Fia dan alvi sekarang juga ikut tinggal dirumah brenda,

“vandoooo” tiara datang menghampiri vando

“apasih tir”

“pulang bareng yuk”

“kagak, awas ah gua mau balik”




Tama melihat tali sepatu tiara sedikit melintang tak terikat, atak jahilnya kambuh. Dia injak sedikit ujung tali sepatu tiara yang tak terikat itu.

Vando masuk ke mobilnya, saat tiara ingin menyusul.

BRUKK

“HAHAHAHAA” tawa vando tama fia dan dhena pun meledak, wulan yang baru datang pun membantu tiara

“muka lo bagus tir, cantik banget haha” tawa fia, muka tiara terkena kubangan air. Tiara langsung menengok ke tama.

“lo...adek nya brenda. Sama aja lo kaya kakak lo” tiara menunjuk-nunjuk tama.

“awasin tuh tangan lo, jorok! Eh denger ya ka tiara, lo ada masalah sama kakak gua, itu problem juga buat gua. haha ayok ka vando, pulang”

[cafe green]

“eh bren ikut gua yuk”

“kemana?”

Alvi langsung menarik tangan brenda, mereka pergi menggunakan taxi. Taklama mereka sampai dirumah yang besar, hampir sama dengan rumah brenda dan vando. Brenda kebingungan mengapa alvi mengajaknya kesini. Rumah siapa ini?

“rumah siapa al?”

“rumah gua, ayo masuk”

‘rumah alvi? Bukannya alvi itu..’

Saat sampai di dalam brenda masih kebingungan.



“duduk bren”

“al, maaf sebelumnya. Bukannya lo orang...”

“iya, gua tau pasti lo bingung. Ini rumah asli gua bren, rumah yang selama ini gua tempatin itu rumah anak-anak pinggiran jalan yang kurang mampu. Gak ada yang tau kehidupan gua yang sebenarnya kecuali vando, fia dan sekarang elo.”

“tapi kenapa elo gak bilang ke orang-orang kalo lo sebenernya orang kaya al? Biar lo juga gak di ejek-ejek france lagi”

“gak bren, gua pengen jadi orang biasa aja hehe”

CTARRRR

“haaa alvian gua takut petir” brenda memeluk alvi.

“bren? Haha, lo jagoan tapi takut petir” alvi mengusap rambut brenda.

1 New Message, Rivando Ganteng

Brenda melihat layar HP alvi

“rivando ganteng?”

“iya itu vando sendiri yang ngasih namanya di contact gua haha”

From: Rivando Ganteng
Al, lo sama brenda ada dimana? Udah mau ujan ini.
Awas sampe brenda kenapa-kenapa

To: Rivando Ganteng
Di rumah gua, tenang bro dia gua jagain kok.

“bawa obat gak bren? Diminum gih”



“eh iya lupa.” Brenda meminum obatnya.

CTARRRR

“dasar petir, kenapa sih lo kenceng-kenceng banget kalo bunyi” kesal brenda. Alvi merangkul brenda.

“dasar penakut hahah”

“ih alvian apaan sih” brenda memukul alvi pelan, “udah ah gua ngantuk” brenda terlelap dalam pelukan alvi.

Vando dan fia menyusul alvi kerumahnya, mereka takmau membawa dhena dan tama. Saat sampai dirumah alvi mereka berdua kaget. Brenda terlelap diplukan alvi, begitupun alvi yang terlihat sangat lelah.

“be pisitive thinking” senyum vando, dia membangunkan brenda.

“emm, van” jawab brenda masih terlihat ngantuk, vando mengankatnya, meletakkan tangan kanan brenda melingkar di lehernya dan membawa brenda ke mobil.

“al, alvi bangun” fia membangunkan alvi.

“kenapa bren? Eh, fia. Sorry sorry gua kira brenda. Brenda mana?” dia kaget yang dihadapannya ini fia. Dengan cepat alvi memeluk fia, fia kaget setengah mati, dia membalas pelukan alvi. ‘fia maafin gua, gua gak mau lo tau kalo gua sayang banget sama brenda, maaf gua bikin lo berharap banget sama gua gini, maaf fi maaf’

“ehm..” vando berdehem, niatnya ingin memanggil fia dan alvi, vando tersenyum ‘ya, alvi emang sayangnya sama fia, gak mungkin beneran suka sama brenda’

--

“tam, menurut lo lebih baik jujur apa bohong?” tanya dhena yang sedang mengganti-ganti channel tv pada tama yang sedang asik main psp nya.



“ya jujur lah dhen” jawab tama

“walaupun soal perasaan?” tanya dhena meyakinkan, pandangannya beralih pada tama.

“iya”

“tam,”

“hmm”

“gua suka sama lo”

-GAME OVER- game yang di mainkan tama pun bersamaan dengan omongan dhena.
Tama diam sejenak,

“dhen? Lo bercanda kan?” dhena menggeleng.

“lo tau kan gua masih sayang banget sama tyas, gua..gua gak bisa bales perasaan lo” tama langsung pergi ke kamarnya meninggalkan dhena.

‘gua berusaha jujur tam’

BESOK PAGI

“bi, bikinin aku susu dong” kata brenda,

“tumben bren” kata alvi. Brenda hanya nyengir

“iya non”

Vando, alvi, fia, brenda dan dhena sedang memakan sarapan mereka.

“tama mana bren?” tanya vando.

“gak tau, gak biasanya dia kesiangan” sahut brenda menggigit roti terakhirnya. Tak lama tama turun dari atas dan melewati mereka semua dengan cepat.

“tam, gak bareng?” tanya alvi, tama hanya diam dan memakai sepatunya.

“lo gak sarapan?” tanya brenda, tama masih diam.

“ini non susunya” kata bibi.

“gak jadi bi, buat bibi aja” brenda langsung bangkit dari kursinya, menarik tas nya dan menyusul tama yang sudah selesai memakai sepatunya. Buru-buru brenda memakai sepatu dan menyamai langkahnya dengan tama.

“tama kenapa dhen?” tanya fia yang tau kalau dhena teman tama, dhena mengangkat bahu.

“tam,”

“apa?”

“gua tau lo ada masalah” kata brenda sambil tetap berjalan menuju halte

“gak” brenda berhenti dan memegang bahu adiknya, tama tak menatap brenda.

“tam, gua kakak lo. Gua yang jagain lo dari kecil kalo mama papa pergi. Gua tau persis lo lagi ada masalah. Sekarang cerita sama gue”

[SEKOLAH]

“tama kok belom dateng dhen?” tanya hadi

“kenapa nanya ke gua, bisa ke tyas” jawab dhena datar.

“maksud lo dhen? Kenapa harus gua? kan lo yang tinggal serumah sama dia”

Dhena mendekati tyas dan menunjuknya “lo kan cinta masalalunya!” ucapnya penuh penekanan.

“bener” ucap yolan

“bener apanya yol?” tanya hadi

“dhena emang suka sama tama, setiap tama sama tyas berdua, dan pas tama nolongin tyas dari kakak nya, gua liat tatapan dhena kaya tatapan kesal dan jealous” jelas yolan

[KEDAI ICE CREAM]

“ya gua kan bingung kak, nih ya. Lo sama ka vando aja deket, saling cinta saling sayang. Lo kalo kawin sama ka vando, apa iya gua sama dhena nyusul juga? Kan freak banget” jawab tanya sambil memakan ice cream cokelat nya

“trus apa yang mau lo lakuin? Diemin si dhena? Jauhin dia?” tanya brenda, mereka memutuskan untuk tidak sekolah hari ini.

“gua gak mau php, jauhin sih engga. Cuma gamau terlalu care banget” jawab tama

“arrgh”

“kak lo kenapa? Hah?” tama mendekati kakak nya.

‘ya tuhan jangan sekarang’

BRUKK

[RUMAH SAKIT]

Vando masih terjaga. Fia, dhena dan tama pulang kerumah. Alvi duduk di sofa memandang brenda dan vando. ‘lo sama vando kayaknya emang susah di pisahin ya bren’ alvi bangkit dari sofa dan memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. Dijalan ia bertemu Rahma ‘mati gua’

“hai alvian” sapa rahma

“mau apa lo?”

“santai dong al, gua bukan mau nembak lo lagi kok. Gue kan udh punya cowok” pamer rahma

“syukurlah, siapa? Emang ada yang mau sama lo? haha” ejek alvian sambil berjalan.




“ish alvi, adalah. Si resky. Oh ya lo mau kemana?”

“engga, tadi abis dari RS nganterin brenda. Lo sendiri?”

“gua baru balik dari sekolah grgr libur dadakan tadi. Brenda sakit apa al?” tanya rahma

“demam. Eh gua boleh cerita sama lo?” jawab alvi bohong

“anytime al”

Lalu mereka pergi

[RUMAH BRENDA]

“lo gimana sih tam, masa gitu aja lupa” kata fia.

“sorry kak, tadi gua abis kesel. Trus curhat sama dia, keterusan deh ampe lupa sama kesehatan dia. Makan ice cream lah dia” jelas tama sedikit menyesal

Dhena menuruni tangga dan melirik tama sebentar.

“kak, gua ke kamar dulu ya mau prepare jenguk ka brenda”

‘lo kenapa sih tam’

[CAFE GREEN]

“hah? Lo serius al? Brenda kan sahabat lo, trus vando?” respon rahma setelah mendengar cerita alvian.

“itu yang gua bingungin rahma”

“trus lo nyerah gitu aja al?” tanya rahma, alvi hanya diam.

“lo bisa al, mereka belom ada status. Lo bisa hadir di tengah tengah mereka dan rubah semuanya” kata rahma


“apa bisa? Mereka saling sayang rahma, dan sekarang vando selalu disamping brenda”

“lo cari cara kek supaya vando sibuk”

Alvi masih memikirkan perkataan rahma. Apa bisa? Vando sahabatnya. Haruskah alvi melakukan hal itu hanya karna seseorang yang baru hadir di kehidupan mereka.

BESOKNYA.

Alvi membangunkan Tama, dhena dan fia yang menginap dirumah sakit dan bergegas untuk sekolah. Tapi vando menyuruh alvi untuk menggantikan posisinya sementara untuk menjaga brenda, karna harus ada sedikit urusan yang harus ia kerjakan disekolah. Kesempatan bagus untuk alvian.

Alvi sedang berbincang-bincang dengan brenda, brenda belum lama sadar, dia juga tak terlalu banyak bicara dan tertawa, dokter memasuki ruangan brenda

“Brenda, bisa ikut saya keruangan? Kamu juga nak, ikut saya” kata dokter pada alvi dan brenda, dokter sengaja mengajak alvi supaya ada yang menemani brenda saat dia tau keadaannya

@ ruang dokter.

Dengan senyum ramah tapi maksa dokter menyambut Brenda dan Alvian.

“ silahkan duduk Brenda dan....!” suruh dokter dengan nada rada nggak enak.

“alvian dok” jawab alvi.

“akhirnya kenapa saya dok? nggak papa kan? dokter sih kebanyakan acara!” cerosos Brenda seenaknya tapi berhenti pas diliatin Alvian.” Hhe..maaf dok !” lanjut Brenda sambil nyengir. Liat ekspresi Brenda yang tetep ceria tapi seenaknya sendiri raut muka dokternya jadi tambah gak enak.

“gimana hasilnya dok ?” tanya Alvian yang mulai nggak enak liat ekspresi dokternya.






“silahkan anda baca!” kata dokter sambil ngulurin amplop coklat yang didepannya ada logo sama nama rumah sakit. Alvian buka pelan2 amplopnya, terus dia baca pelan2 dan
baca bukan Cuma sekali buat meyakinkan kalo yang dia baca itu bener. Setelah
baca raut muka Alvian berubah jadi sedih, kertas yang dia baca sedikit basah sama air mata.

“gak mungkin dok !” Kata Alvian

“saya juga berharap begitu, tapi hasil tes laboratorium di rumah sakit ini dijamin kevalitannya.” Jawab dokter. Brenda jadi bener2 bingung. ’Kok gue kaya liat sinetron ya?!’ pikirnya.

Al, lo kenapa? Gue kenapa al ?” Brenda ikutan kawatir. Tangan Alvian yang masih gemeteran ngasih kertas yang dia baca ke Brenda. Brenda baca kertas yang bertuliskan namanya itu pelan2. Brenda nunduk lemes baca kalimat terakhir leukimia stadium 4.

“ini beneran dokter ?” tanya Brenda pelan berusaha sekuat mungkin biar dia nggak down buat Alvian sahabatnya. Dokter ngangguk yakin.”Kok bisa?” lanjutnya masih belum bener2 percaya.

“sampai sekarang kami balum tau penyebab penyakit kamu, bisa saja karena gaya hidup yang kurang sehat, radiasi, atau faktor keturunan.”

“saya masih bisa sembuh kan dok ?”

“kesempatan sembuh itu pasti ada nak, kamu bisa malakukan kemoterapi dan pencangkokan sumsum tulang belakang, saya akan memberikan obat untuk menghambat pembentukan sel darah putih di tubuh kamu.” Jawab dokter datar.

“cangkok sumsum tulang belakang dok ?” tanya Alvian yang akhirnya buka mulut.

“iya ! kita bisa mengambil sumsum tulang belakang dari keluarga atau orang yang cocok dan kita transplantasikan ke sumsum Brenda.” Jelas dokter.

Brenda, ada beberapa pantangan buat kamu, jangan merokok, minum sembarang obat atau minum minuman keras, jaga makanan kamu dan yang paling penting kamu tidak boleh kecapekan, karena kalau kamu kecapekan sedikit kondisi kamu bisa langsung drop.”

“kalau soal rokok dan yang lain saya percaya Brenda bisa jaga dok, tapi urusan kedua Brenda orangnya gak bisa diem dok,” Jawab Alvi mengingat Brenda berantem dengan France

“ini buat kebaikan kamu sendiri Brenda, kondisi kamu sekarang tidak sekuat dulu.”





“saya usahain deh dok ! Masalah kemo, saya pikir2 dulu ya dok, masih mikir efek sampingnya.” Jawab Brenda sekenanya.

“ini resep yang harus ditebus, dan kalian bisa konsultasi kapan saja.”

“baik dok! kami permisi dulu.” pamit Brenda terus berdiri dari kursinya, Spontan Alvian peluk Brenda dan ngusap lembut kepala Brenda.

Brenda, Gua pasti jagain lo.” Ucap Alvian

Al, lo boleh sedih sepuas lo sekarang, tapi Gua minta setelah ini lo jangan sedih dan lo jangan bilang fia maupun vando soal ini, Cuma lo yang tau al dan tama , jadi Cuma lo dan tama yang bisa bener-bener suport gua saat ini” kata Brenda pelan.

“iya Bren, gua janji! tapi lo juga harus janji sama gua kalo lo bakal sembuh !”

“ pasti Gua bakal sembuh al

tapi bren, soal fia dan vando mereka punya hak buat tau.”

“tapi gua nggak mau mereka sedih dan nganggep gua gak bisa ngapa2in, gua gak bisa bayangin ancurnya mereka kalo mereka tau keadaan gua sekarang.” Jawab Brenda sambil nunduk.

“iya Gua janji! sekarang kita tebus obat lo dulu!” ajak Alvian sambil senyum.

“hayu..” jawab Brenda semangat.”Permisi lagi ya dok, maaf jadi tempat drama remaja deh ruangan dokter.” Kata Brenda sambil nyengir.

”Jangan kapok ketemu saya ya dok! Bakalan sering ketemu kayanya kita dok! hhe..” Alvian sama dokter yang tadinya tegang, senyum lagi denger kata2 Brenda barusan, walaupun senyum2 miris.

“jangan telat minum obat ! jangan kecapekan !” pesan dokter.

“siap dokter ! boleh jewer deh kalo saya sering kumat !” jawab Brenda seenaknya.








[RUMAH BRENDA]

@ kamar Brenda.

Brenda duduk di ujung tempat tidurnya sambil liatin bungkusan yang isisnya beberapa botol dan beberapa bungkus obat yang dia pegang di tangan kiri, tangan kanannya pegang amplop hasil cek labnya. Pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan,

tuhan apa salah kalo sebenernya saat ini saya takut banget sama penyakit ini yang bisa ngambil nyawa saya kapan saja? Apa salah kalo sekarang saya ngrasa kalo saya udah nggak ada artinya, saya bakal Cuma jadi orang yang ngrepotin banyak orang? Hal yang paling saya benci dari dulu! Ngrepotin orang lain! Mama, papa, Tama apa gue masih sanggup buat banggain dan bahagiain kalian? Buat jadi yang terbaik buat kalian?

Sesuatu yang dia tahan dari tadi akhirnya leleh juga.

‘minimal gak ada yang liat kalo gue lagi hancur apalagi nangis!’ pikir Brenda sambil usap air matanya. Dia liat jam diding kamar yang bentuknya Matahari, jam ½ 7 waktunya makan malam. Dia siap2 dan pastiin kalo matanya gak sembab, untungnya emang enggak. Dia turun bawa obatnya.’lama bener ya gue merenung?!’ pikirnya.

@ ruang makan.

Vando, alvi, fia, tama dan dhena udah siap di meja makan sambil nungguin Brenda. Mereka liatin Brenda yang tetep seperti biasanya, semangat, mereka liatin Brenda dengan tatapan yang susah diartikan.
                   
“kenapa? Kok liatinnya gitu banget? gua tambah keren ya? Atau tambah cantik malah?” tanya Brenda pura2 gak ngerti sambil duduk di kursinya dan naro obatnya di depannya.

“kepdan lo !” ceplos Tama.”Gue salut sama lo kak ! lo hebat !” lanjutnya.

“ hha..baru tau lo? Akhirnya lo sadar juga!”

“ emang urat pd lo kepanjangan ya? baru dipuji gitu aja kesenengan!” Tama sewot.

“ iya kali! Hehe”


Setelah selesai makan.

“Bren..” panggil alvi pelan, Brenda menghentikan kegiatannya, minum obat, dia liatin alvi.


hmm..” jawab Brenda pelan.

lo kemo ya” suruh alvi hati2. Brenda nunduk. gimana bren?”

Tama pun datang

Al, kasih gua waktu mikirin itu ya?” jawab Brenda pelan.

“kak,  gua tau lo udah dewasa buat nentuin jalan lo kak, kita bakal dukung semua keputusan lo, tapi ini buat lo juga kak! Penyakit lo gak main2, tadi kak alvi habis tes darah buat cari tau apa sumsum kita cocok buat lo, dan kalo gak bisa nggak ada jalan lain buat lo kecuali kemoterapi.”

“ heuhh..” Brenda menghela napas panjang. gua ijin keluar sebentar, cari angin.” Pamit Brenda pelan, “eh iya, mama papa jangan sampe tau kalo penyakit gua makin parah. Tadi di kamar gua di telpon mama, mereka balik belum tentu bulan depan, bisa lebih. So, waktu lama itu bisa gua gunain untuk berobat sampe sembuh sampai nereka pulang. Oke gua pergi” Brenda pun langsung pergi

“hati2 bren” pesen alvi.

Di taman langit tempat yang dituju Brenda.

Taman langit itu tempat pribadinya Brenda sama Yoga selain danau waktu mereka pacaran, dia sama yoga yang sering kesini, tempatnya gak jauh dari rumahnya.

Taman langit itu padang alang2, kalo siang angin bakal bertiup kenceng, tapi kalo malem malah nggak banyak angin, kenapa dibilang taman langit, itu nama kesepakatan Richard sama Yoga, soalnya waktu mereka pacaran, di tempat ini mereka bisa ngrasain kalo langit itu deket banget sama mereka.

Brenda juga gak ngerti kenapa perasaannya bawa dia ke tempat itu. Brenda tiduran di rumput sambil liat bintang dilangit yang lagi banyak2nya.

udah berapa lama gue gak kesini ya? Yoga masih inget tempat ini gak ya?” Brenda ngomong ke dirinya sendiri. Brenda atur napasnya biar dia tenang, dia stel lagu dari ipodnya, dia gak milih lagunya, asal main aja, dia merem minta jawaban dari tuhan. Macem2 lagu diputer, dan nggak sengaja semua lagu itu ngasih inspirasi ke Brenda. Hatinya makin yakin pas denger suaranya sendiri sama Yoga dulu, waktu Yoga lagi terpuruk2nya saat meu ditinggal Brenda ke USA, jangan menyerah. Brenda nyanyi2 kecil.





Tak ada manusia yang terlahir sempurna

Jangan kau sesali sgala yang telah terjadi

Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat

Seakan hidup ini tak ada artinya lagi

Syukuri apa yang ada hidup adalah anugrah

Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik

Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya

Bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa..

“ gue tau, gue bakal lanjutin hidup gue! Brenda bakal tetep jadi Brenda yang dulu! Gue bakal tetep berusaha jadi yang terbaik buat kalian semua yang gue sayang dan sayang sama
gue.” Tekat
Brenda mantab. Setelah itu Brenda pulang.

@ rumah Brenda.

Brenda langsung katemu Tama.

“bro, ada yang lupa gue omongin sama lo” kata Brenda samangat sambil duduk di kursi sebelah Tama.

“apaan ?”

lo jangan sampe ngomong kesiapapun tentang penyakit gue. Terutama sama Vando dan ke temen2 gue.”

“tadi ka alvi udah bilang! kenapa? Cepat atau lambat mereka juga pasti tau kak! Kalo mereka gak tau siapa yang bakal jagain lo kalo gak ada gue sama ka alvi? Mama papa gak dirumah kak

“gue bisa jaga diri gue. Gue juga tau cepat atau lambat mereka bakal tau, apalagi kalo gue udah kemo, pasti fisik gue bakal ada perubahan, tapi mudah2an gue tetep cantik deh! Eh, tapi pasti tetep cantik, gue mah diapain aja cantik! tapi buat saat ini gue belom mau ngasih tau mereka, ngerti nggak lo ?”

“lo mau kemoterapi kak ?” tanya Tama memastikan.



“iya! Gue juga belom bosen idup.” Jawab Brenda sekenanya.

“syukur deh kalo gitu” kata Tama agak seneng.

“gue tidur dulu bro! Lo jangan ngeluh ya kalo gue repotin !” Brenda jalan keluar kamar Tama.

“iya! Asal loe nggak sering2 aja ngrepotin gue!” jawab Tama sambil benerin tidurnya.

Keesokan harinya pas jam istirahat.

Brenda memang memaksakan untuk masuk sekolah. Dia tidak ikut vando fia dan alvi ke kantin, dia bawa makanan dari rumah. Setelah selesai, tiara menghampiri brenda.

“ngapain lo?”

“jangan harap dapetin vando ya bren! Vando Cuma punya gua, ngerti?”

“gak”

“nyolot lo,” tiara siap menampar brenda, tapi ditahan yoga

“jangan main kasar, pergi lo”

Tiara sewot dan pergi. Yoga menarik kursi vando mendekati brenda.

“gua tau bren,”

“tau apa?” Brenda berusaha biasa saja pada Yoga, masih ingat betul kejadian saat dengan yoga.

“penyakit lo semakin parah” ucap yoga pelan, “gua gak akan diam aja bren, gua bakal terus jagain lo”

“makasih”

“minum obat lo sana” yoga tau jam segini brenda harus minum obat, karna dulu dia juga sering mngingatkan brenda. Benar, brenda hampir saja lupa. Vando yang ingin masuk kelas terhenti diluar kelas, ‘gua kalah cepat sama yoga’







[PERPUSTAKAAN]

Fia minta ditemani alvi sehabis dari kantin tadi, alvi menurut saja. Alvi ikut membantu fia mencari buku fisika kelas 11. Tiba2 fia bertanya

“al, lo suka sama brenda”

BRUkk. Buku yang alvi pegang tejatuh, “kenapa al?”

“enggak, gapapa fi. Gak kok gua gak ada rasa apapun sama brenda”

“tapi gua liat semakin hari lo semakin care sama dia?”

“emang gak boleh? Diakan sahabat gua juga fi. Dia juga lagi sakit. Kalo gak ada vando, pasti gua jagain dia lah, eh fi gua kekelas duluan”

Tama dari tadi Cuma diem, gak bawel dan nyeplos aneh2 kaya biasanya, jam istirahat juga dia gak ke kantin, satu yang dia pikirin, Brenda. Tyas, dhena, hadi  sama yolan juga jadi bingung, kali ini tama ada masalah apa?

“lo kenapa lagi tam?” tanya Yolan mengintrogasi.

“gue gakpapajawab France.

“tapi kok lo dari tadi diem? Sakit gigi lo?” tambah Hadi yang niatnya membuat tama tertawa, tapi tak berpengaruh pada tama.

Pulang sekolah brenda pergi dengan alvi. Vando dan yang lainnya pulang duluan, yang sebelumnya alvi izin membawa brenda.

[mobil]

“makan es krim yuk! Biar adem pikiran gue, stres gua mikirin penyakit” Usul Brenda.

Tapi bren, lo kan....!"

sekali-kali al, plis. Mumpung si vando gak liat. Di depan ada kedai eskrim enak banget. Gua suka kesana sama tama” jawab brenda cepat

lo denger es krim semangat banget sih bren? Senengan mana denger kata es krim sama denger kata Alvian? haha



“enak tau! Cuma orang bego yang gak doyan es krim, em..buat lo sama es krim, tinggal mood gue aja! Sekarang gue lebih seneng dan lebih mood denger kata es krim.” Jawab Brenda yang udah kumat bawelnya.

“jadi mending es krim ni daripada gue?”

“untuk saat ini sih gitu al heheh!”

“rese loe! Aturan kalo lo anggep gua sahabat, gue salalu berarti dong buat lo, kapanpun, ini malah es krim lagi saingannya.” Alvi bercanda.

“aturan darimana tu? Kayanya gue belum teken kontrak buat tu aturan deh?”

“rese lo!”

“lo yang rese buat aturan gak jelas!”

“rese!”

“rese!”

“lo!”

“lo”

“lo!”

“terserah deh!”

“ udah nyampe, mau turun nggak lo?” tanya Alvi sambil buka pintu mobilnya.

Mereka masuk ke kedai es krim, bangunannya masih jadul banget. Setelah pesen Brenda sama Alvian duduk di meja deket stage kecil yang diatasnya ada piano.

“Al, loe tau gak cita2 gue?” tanya Brenda sambil liatin piano di meja.

“setau gue loe pengen jadi pianist terkenal, bener gak ?” tanggap Alvian sambil ikut liatin piano di meja.

“ kok lo tau?”

“tar gue bilang gue gak tau, lo ngambek sama gue.”



“ya lo tau dari mana?”

“banyak sumber, termasuk tama, kapan2 loe main buat gue ya!” pinta Alvian.

“iya deh.”

“lo kalo punya cita2 kejar yang bener, gue juga pengen liat loe konser pardana, dengan bintang tamu penyanyi muda yang sangat berbakat Alvian Riza Dwiantama.”

“tumben ceramah loe mutu? Tapi belakangnya tetep aja narsis!”

“hha..lo aja yang nggak pernah meresapi omongan gue

“Al gue boleh tanya sesuatu nggak sama lo?” tanya brenda

belom jadi Alvian jawab pembicaraan mereka dipotong sama pelayan yang nganterin pesenan. Setelah pelayannya pergi.

“ boleh.” Jawab Alvian disambung nyuap es krimnya.

“kalo seumpama gue jadi cewe penyakitan dan gak bisa diandalin, kalo gue gak secantik sekarang, gue jadi lebih jelek dari sekarang, lo masih mau temenan sama gue?” tanya Brenda becanda setengah serius.

“lo mau gue jawab jujur atau jawab yang bikin lo seneng?”

“kalo bisa yang jujur tapi nyenangin gue!”

“gue gak mau temenan sama lo.” Jawab Alvian becanda tapi nadanya serius. Brenda melotot.

”gak lah! Gue sayang sama lo bren, gue janji gue bakal tetep terima lo jadi temen gue gimanapun keadaan lo, kalo gue Cuma mau lo yang perfect dan gak mau terima kekurangan lo namanya gue gak Cuma obsesi dan itu artinya gue egois.”

“jawaban loe asik dah Al! terus apa yang bakal lo lakuin kalo seumpama gue udah penyakitan total dan gak bisa apa-apa ?”

“lo jangan ngomong gitu bren. pertanyaan lo aneh2 mulu?!”

“pengen tanya aja sekali2, lo jawab dong!”




“gue bakal tetep berusaha jadi temen yang terbaik buat lo, mungkin jawaban gue gak nyambung sama pertanyaan lo, tapi apa kita bakal tau apa yang bisa kita lakuin di depan?”
Brenda Cuma senyum denger jawaban Alvian. Alvian hanya nyengir.

“gak tau kenapa kalo gue liat lo gue pasti inget sapi.” Kata brenda spontan.

“eh, enak aja lo nyamain gue sama sapi?!”

“beneran deh! Apalagi kalo lo lagi cengar-cengir! Hhi..”

“mending gue kaya sapi daripada lo kaya kebo, suka pasang tapang bloon walopun aslinya emang bloon, malesan lagi!”

“enak aja loe katain gue kebo?! Dasar sapi jelek!!”

“kebo!”

“sapi!”

“kebo!”

“sapi!”

“bentar al! Kok lidah gue enak ya panggil lo sapi, gue panggil lo sapi ya? Itung2 panggilan gitu?!”

“ye..nama bagus2, Alvian, lo ganti sapi! Ogah! Dasar kebo!”

“ sapi..sapi..wleek..” ledek Brenda kaya anak kecil.

“ abisin yuk es krimnya keburu sore!”

[RUMAH BRENDA]

“arggghh” erang brenda.

“bren, lo kenapa?” tanya vando disebelahnya yang sedang nonton tv

“gakpapa kok van” brenda menahan sakitnya, dan menundukkan kepalanya.

“bren gapapa? Serius lo? Tadi lo kenapa ngerang gitu?”




Brenda melihat ke arah pintu masuk, Tama yang baru datang dr luar melihat mimik wajah brenda sudah memohon untuk membantunya. Tama mengerti.

“kak, ajarin gue dong. Gue ada PR fisika nih”

“eh yaudah, yuk ke kamar gue! Van gue ngajarin tama dulu ya” senyumnya

“tapi bren...”

“gue gakpapa van. Yuk tam”

[KAMAR BRENDA]

“tuh kan, coba tadi gak ada gue, abis lo ketauan kak vando! Kalo seandainya kak vando tau pasti kan dia bakal bantuin lo kalo gue atau ka alvi lagi gak ada” kata tama setelah memberi brenda obat.

“tapi nyatanya gue terselamatkan. Iyakan?” brenda nyengir

Tama salut dengan kakak nya, disaat seperti ini, dia masih bisa tertawa dan bercanda.

“kenapa sampe sekarang lo gak ngeluh sama sekali sih kak? gue pernah baca tentang penyakit lo dan itu kalo kambuh itu sakitnya luar biasa, kaya ditindes tronton, efek leukimia itu bisa kambuh dibagian tubuh manapun.”

“soalnya gue belom pernah ngrasain ditindih tronton, gimana gue bisa bilang kaya ditindih tronton, lo kok malah tau rasanya tam? Yang gue tau Cuma satu, gue gak bakal sembuh kalo gue ngeluh terus2an.” Jawab brenda.

“Apa lo nggak pernah ngrasain sakit?”

“sakit? Banget! Lo taukan kalo penyakit gue ini bisa kambuh dengan berbagai reaksi, kadang kepala gue kaya diremes2, kadang badan gue tiba2 lemes, perut gue mual banget, badan gue kaya pengen copot semua, paling ringan pegel2, tapi gak usah dipikirin! Kalo lo gak ngrasain juga gak bakal ngerti, tapi jangan sampe deh lo ngrasain!”

“sabar ya kak! gue yakin lo pasti sembuh!”

“amin.” Jawab brenda.




Keesokan siangnya.

[KANTIN]

Sedang diadakan penghitungan perolehan suara pemilihan ketua osis. Tama yang mencalonkan diri berusaha biasa. Tama ditemenin Hadi nunggu pengumuman dikantin sambil makan kacang dengan santainya tapi tetep ngarep kalo dia yang jadi. Dan..jeng..jeng.. diakhir perhitungan guru yang menjadi saksi memberikan pengumuman dari speaker.

“dan akhirnya ketua osis SMA Pelita Bangsa tahun ini adalah Harry Pratama, dan pelantikan akan dilaksanakan pada upacara bendera hari senin”

“siapa tadi bro?” tanya Tama yang bener2 nggak denger.

Harry Pratama.” jawab Hadi datar, masih nggak nyadar kalo yang dipanggil itu sohibnya.

“em..” tanggap Tama juga datar, gak nyadar kalo itu namanya.”Hah? Siapa tadi bro? Harry Pratama? Itu nama gue kan?” kata Tama girang setelah sadar kalo itu namanya.

“oh iya! Selamat bro!” kata Hadi girang juga setelah itu dia peluk Tama.

“ France mamen..loe jadi ketua osis bro!” sorak vando yangbaru dateng abis jadi saksi perhitungan, diikuti brenda, fia dan alvi Terus dia peluk Tama bergantian.

Hadi gue masukin kabinet gue ya!?” tawar Tama belagak kaya presiden.

“gaya lo bro!” kata Hadi, Vando sama Alvi sambil noyor Tama.

“ tapi boleh deh! Itung2 berbakti pada nusa dan bangsa.” Tambah Hadi.

“ heh! Lo mau jadi pengurus osis doang! Bukan mau jadi mentri.” Kata Tama.

“biarin! Siapa tau dari pengurus osis gue bisa jadi pengurus negara?!”

“gue amin aja dah! Sukur kalo tu mimpi kecapaian!” kata Tama.

Tyas, Dhena sama Yolanda dateng ke kantin nyariin Tama buat kasih selamat.

Tama, selamet ya! jaga tanggung jawab lo!” ucap Yolanda sambil nyalamin Tama.

“makasih yol..” jawab Tama sambil senyum.

“selamat ya Tam!” Tyas ngulurin tangannya.



“iya yas, makasih ya!” jawab Tama sambil jabat tangan tyas.

“jangan disalahgunakan kepercayaan yang dikasih buat lo ya Tam!” nasehat Tyas sambil senyum.

“beres cantik,.” Jawab Tama sambil mainin alisnya.

“hoek...hoek..” Hadi sama Dhena pura2 pengen muntah.

“apa loe berdua? Ngiri?”

“ najong dah omongan lo, jiwa playboy lo dasar!”

Setelah itu semua anak yang ditemui Tama ngucapin selamat.

“bro, pegel tangan gue, gue pinjem tangan lo dong?!” Bisik Tama ke Hadi.

“derita lo deh bro!” bisik Hadi sambil terkekeh

__

“kenapa bisa adeknya brenda ya yg jadi ketua osis?” tanya france pada resky

“gue gaktau, emang kenapa? Lo gak rela lepas jabatan?” tanya resky

“gimana rela, gua gakbisa nyuruh2 lagi dong”

“bukannya bagus? Coba aja lo pancing2 emosinya si Tama, kalo dia emosi fikirannya gak jernih dan bisa menjelekkan nama dia. Abis deh cacian dari temen2. Ta gak?”

“bener banget ide lo, haha high five bro” tos.

“hai sayang” rahma datang.

“yaelah kacang lagi deh gua” kata france.

“hmm haha, oke deh france dadah”



[taman sekolah]

“resky“ panggil rahma

“ya sayang?”

“kamu kenapa benci sama vando alvian fia dan brenda?” tanya rahma hati-hati

“kamu kenapa nanya gitu?” tanya resky

“gapapa, mereka kan orang-orang baik. Knapa kamu sama france suka jahatin mereka?”

“aku gaktau juga, setiap orang yg france benci, pasti rasa itu nular ke aku juga.”

bersambung

No comments:

Post a Comment