Ini cerbung gua yang kesekian dari cerbung-cerbung gue yang gak pernah tamat sebelumnya, maklum gua mood2an kalo bikin cerbung. biasanya gue bikin cerbung tokohnya anak IC (IdolaCilik) tapi sekarang gua bikin dengan tokoh teman-teman sekolah gue kelas 9.1 dan 9.2 ! kalo ada peran yang gaenak jangan ngira kalo gue ngarep sama mereka. itu cuma buat bagus-bagusin cerita aja, oke? bagus atau enggaknya sih gue gaktau.
HOPE YOU LIKE IT
disebuah
restaurant, dua anak muda sedang asik berbincang. tapi tidak dengan temannya
yang satu ini.
alvi
melihat daritadi vando hanya terdiam melihat foto yang ada di dompetnya.
“udahlah van, gausah
disesali. Dia gakbakal balik lagi sama lo” kata alvi.
Vando mendongak dan
menghadap alvian “tapi vi…”
“udah deh van, sampe kapan
lo mau gini terus Cuma gara2 tuh cewe?! Sampe kapan lo mau jadi pribadi yg
cuek?! Pendiam?! Dan gakmau buka hati lo buat cewe lain Cuma grgr tuh cewe?!
Hey van, banyak diluar sana cewe yg ngejar2 lo, lo keren, perfect, most wanted
lo gampang cari cewe” kata alvian panjang lebar.
BRAKK.. “heh, vi. Lo bawel
banget ya, masalah buat lo kalo gue cuek?! Ini hidup gue. Terserah gue mau buka
hati lagi apa gak. Jangan hanya dengan menyandang status Most Wanted di SMA
Pelita Bangsa, lo seenak jidat ngomong gue gampang nyari cewe. Sampai kapan pun
gue gakbakal lupain dia!!” marah vando langsung pergi.
Semua pengunjung
restaurant mendapat tontonan gratis, alvian hanya melongo tak menyangka vando
akan marah, niatnya dia hanya bercanda. Ya, memang vando adalah most wanted di
SMAnya dan alvian hanya cowo yg mendapat beasiswa, tapi vando tak menggunakan
statusnya itu untuk membuka hatinya dan mencari cewe lain.
++++++++
Sesampainya dirumah, vando
merebahkan tubuhnya di kasur kamarnya. Ia melipat kedua tangannya dibawah
kepala.
“bener juga sih kata alvi,
gue terlalu terpuruk sama masalalu gue, dan sekarang?! Beginilah gue, hufftt”
tak lama kemudian vando tertidur. Tak sampai 20menit terdengar suara ketukan
pintu kamarnya.
Tok..tok..tok..
“van..vando bangun sayang”
Vando terbangun “ahh..
mama ganggu aja, iya mah tunggu sebentar”
Vando membuka pintu
kamarnya “apaan sih mah?!”
“ini, mama Cuma mau ngasih
tau. Temen mama sama papa yg dari Amerika pindah ke sebelah rumah, kamu bantuin
gih, ada papa juga disana” kata mama vando
“ah mamah, vando males
mah. Vando mau tidur. Kan ada Dhena mah” katanya ogah2an
“heeh, kok kamu gitu sih
sayang, Dhena lagi dirumah temennya. ayo ah” kata mamanya menarik tangan vando
keluar, vando hanya pasrah.
++
Sesampainya dirumah
tetangga baru itu, vando dan mamanya menghampiri si pemilik rumah, yg sudah
selesai dari beres2 rumahnya. Sudah ada papahnya, om joe dan tante winda
disana.
Vando malas jika sudah ada
reuni mendadak teman2 orangtuanya, ia lebih memilih keliling2 melihat isi rumah
itu. Sampai disebuah ruangan yg sangat megah yg ditengahnya hanya ada sebuah
Grand White Piano, vando melihat seorang gadis bermain piano dengan indahnya,
tangannya sangat lihai memencet setiap tuts yang ditekannya. Sampai permainan
itu selesai, vando tepuk tangan. Prok..prok..prok
Gadis itupun melihat ke
arah vando dan tersenyum lalu menghampiri vando, “em, lo siapa?! Ngapain
dirumah gue?!”
“gue anaknya temen
orangtua lo yg disebelah rumah lo, gue tadi Cuma pengen liat2 rumah lo daripada
liat reuni mendadak orangtua kita. Eh, permainan lo bagus tadi, gue suka” kata
vando menjelaskan kedatangannya dan memuji gadis itu
“hehe thanks :) oh lo
anaknya om Joe sama tante Winda?! Lo vando?!”
“iya, lo taudarimana?!”
“oh, nyokap gue suka
cerita”
“oh ya, na….”
“vando, disini kamu
rupanya. Ayo pulang” kata mama vando.
Vando pun pulang tanpa
mengetahui nama gadis itu karna mamanya sudah memanggil.
Besoknya di SMA PB. Vando
masuk ke kelasnya langsung dihampiri alvi “van, gue minta maaf ya soal yg
kemaren, gue bener2 gatau lo bakal marah” ucap alvi
Vando hanya tersenyum
“slow aja kali, gue yg salah terlalu emosi kemaren”
Taklama, guru datang.
“pagi anak-anak, hari ini kita akan kedatangan murid baru, silahkan masuk”
Murid baru itu pun masuk.
Anak itu pun masuk, vando
kaget. “hah?! Dia?!”
“napa van?! Lo kenal?!”
tanya alvi yg duduk di kursi sebelahnya.
“iya, dia tetangga baru
gue”
“perkenalkan nama kamu”
“hey, kenalin gue Brenda,
gue pindahan dari ………”
“Bu, dia orangkaya bukan
bu?!” tanya tiara sekenanya
“mobil lo apa?! Ferari,
sport atau apa?!” sambar wulan
“rumah lo tingkat ga?!
Mewah ga?!” lanjut tiara
‘oh namanya Brenda, tapi
keliatannya dia agak aneh dari yg kemaren gua liat’ batin vando.
“Tiara!! Wulan!! Diam
kalian” seru Mrs. Anik
“baik Brenda, lanjutkan”
kata Mrs. Anik
Brenda hanya menghela
nafas “saya Brenda, Pindahan dari Amerika. Mohon bantuannya”
‘wow amerika, dia pasti
kaya. Harus jadi temen gue’ batin tiara
“baik Brenda kamu duduk di
kursi sebelah kanan vando” kata Mrs. Anik, karna memang duduknya sendiri2
Istirahat pun tiba, kelas
mulai sepi dan hanya ada beberapa murid saja. Brenda sedang mendengarkan lagu
dari Iphone nya. seorang anak perempuan menghampirinya. “em, hey bren. Kenaliin
gue Alifia, panggil aja fia”
“oh, hai fi” sahut Brenda
dengan senyum
“mau ke kantin ga?!” ajak
fia
“yuk, drpd gue sendiri
lama2 disini”
“HEH fia. Ngapain lo?!
Brenda temen gue, dia ke kantin bareng gue sama wulan!!” bentak tiara tiba2
“Iya, minggir lo.” Sahut
wulan
“heh tir, apa2an lo!” kata
fia mendorong bahu tiara
“ngapain temen gue lo
hah?!” kata wulan
“UDAH.. STOP!! Heh tir, lo
gak akan jadi temen gue!! Yuk fi ke kantin” kata Brenda menarik tangan alifia
@KANTIN
“alvian, plis terima gue,
udah 27 kali gue nembak lo, emg lo gak kasian apa sama gue?”
“dan yg ke 27 kalinya jug
ague nolak lo, rahma!!” ucap alvian penuh penekanan.
“HAHAHA, udah deh vi, lo
terima aja deh tuh si Rahma, kasian tuh :D” tawa vando
“kalo kasian kenapa gak lo
aja yg macarin van” ucap alvian kesal
“haha, udah deh rahma. Lo
pergi aja deh, udah kesel tuh alvi sama lo” kata vando
“yah..yah bahaya gue
dateng” kata vando
Taklama Tiara dan wulan
menghampiri vando dan alvi
“hai van, makan bareng gue
yuk” kata tiara manja sambil menggandeng lengan vando.
“Ih apaan sih lo. Males ah
gue sama lo, pergi sana” usir vando.
“ih vando mah” kata tiara
“HAHA ngakak gua van” tawa
alvian
Resky dan France datang,
“eh van, ngapain lo deket2 tiara hah?! Caper lo” kata france.
“heh france, lo kalo mau
ngambil tiara ambil aja, OGAH jug ague sama dia, cewe genit. cih” ucap vando
seenaknya.
“apa lo bilang?!” kata
france.
“CEWE GENIT” kata Alvian
“eh cowo miskin, gausah
ikut campur” kata Resky
“eh van, lo mau aja sih
temenan sama alvian?! Cowo miskin, lo kan anak donator tetap sekolah kita dan
Most wanted disekolah kita, mending lo temenan sama Ketua Osis kaya gue.” ejek
france.
Alvian hanya terdiam
“gue lebih baik berteman
sama alvian daripada sama lo, NGERTI”
“van, betul tuh kata france,
lo kan kaya, perfect. Ngapain lo temenan sama cowo miskin” kata wulan
“masalah buat lo kalo
vando temenan sama cowo yg Cuma dapet beasiswa kaya alvian?!” kata Brenda tbtb
datang dan diikuti fia.
“eh siapa lo ikut campur
hah?!” kata France.
Brenda mendekati France
dan berdiri di depannya
“lo gak tau siapa gue?!”
kata Brenda menaikkan satu alis mata nya,
“heh, gue gak perlu kenal
sama orang yg gak penting kaya lo” kata France menunjuk wajah Brenda dengan
jarinya.
Brenda menyingkirkan jari France
dari hadapannya.
‘berani banget nih cewe,
masih baru udh sok berani sama France’ batin vando
@LAP. BASKET
“oh jadi lo pindahan dari
amerika, dan lo anak pemilik sekolah ini tam?” tanya Hadi.
“yoi bro” kata tama lalu
meminum aquanya
“terus kakak lo juga
sekolah disini dong?! Siapa namanya?!” tanya yolanda
“iya, namanya kak Brenda,
dia di kelas XI IPA 2” jawab tama
“XI IPA 2 ?! sekelas sama
kakak gue dong, kak vando. Tapi gak sekelas Sama kakaknya Tyas, Kak France”
dhena
“em, mungkin” jawab tama.
“berarti bokap lo bakal
kesekolah ini dong?!” tanya Tyas
“iya Yas, udah 1tahun
bokap gue gak ngeliat keadaan sekolah”
Sebenarnya Tyas sangat
senang karna tama satu sekolah dengannya.
@KANTIN
“oh jadi lo gaktau ya gue
siapa?! Masa ketua Osis gaktau gue siapa?!” kata Brenda agak meremehkan.
Seluruh penjuru kantin sudah mengerubungi mereka. Sebenarnya Brenda sudah cukup
lama kenal dgn france karna adiknya, hanya saja france yang tidak mengenalinya,
dia tidak tau siapa itu Brenda.
‘emg Brenda siapa?! Kaya
udh berkuasa banget disekolah ini’ batin vando dan alvian
Taklama kemudian Ibu dan
Bapak pemilik kepala sekolah SMA PB serta pak kepala sekolah datang melihat
keributan di kantin dan menghampirinya, Mereka melihat ada Vando, Brenda dan
France disana.
“hei ada apa ini ribut2
hah?! Begini ya selama 1tahun saya tidak menge-check keadaan sekolah langsung
pada ribut2 begini” kata Pak Duta.
“Kamu juga France, kamu
Ketua Osis masa ribut2 ?! mau bapak lepas jabatan kamu sbg Ketua Osis hah?!”
kata Pak Kepsek
“memang ada apa ini? Hah?
Brenda? Vando? Kenapa ribut2 ini?” tanya Bu Ucie.
“lah? Ibu kenal Brenda
sama Vando?!” tanya france kaget.
Wulan, Tiara, Alvian,
Resky, Alifia makin bingung dengan apa yang sedang terjadi.
“France, masa kamu ketua
osis tidak tau. Brenda itu Anak Pak Duta dan Bu Ucie, sedangkan Vando adalah
anak dari sahabat Bu Ucie dan Pak Duta” jelas pak kepsek
“APA?!” ucap, France,
Alvian, Alifia, Wulan, Resky dan Tiara
“ja..jadi ?” France tak
percaya.
‘ooh pantes Brenda berani
banget sama france’ batin vando
@RUMAH BRENDA
“kak, emang tadi kata mama
papa lo ribut disekolah?! Kenapa?!” tanya tama sambil mengganti-ganti channel
TV. Brenda sedang duduk di sofa dengan Tama sambil membaca-baca majalah.
“ya biasalah, ketua osis
gak tau siapa anak pemilik sekolah sok cari ribut sama gue” ucap Brenda
“lo kali yg mulai duluan”
kata Tama.
“hmm”
“eh kak, lo kenal kak
vando sama hmm... kak france?!” tanya tama yang menyudahi acara mengganti2 channel tv nya.
Mendengar nama france pun
Brenda langsung menutup majalahnya.
“lah lo ngapa? Gua tanya
kok gitu” tama heran.
“lo apaan sih bawa2 nama
france? Dia yg ribut sama gue tadi” kata Brenda melipat kedua tangannya diatas
dada.
“oh jadi dia ketua
osisnya, kalo kak vando?”
‘adek gue bawel bgt’ batin
Brenda
“lo bego apa oon? Itu
vando tetangga kita hadoohhh”
‘tetangga? Berartii
tetanggaan sama dhena dong? oalah’
“tam? Lo sehat? Kok jadi
bengong? Udah ah gue keluar aja”
@RUMAH FRANCE
“aarrgghh sial sial sial.
Nambah 1 lagi musuh gue” ucap france sambil mengacak acak rambutnya.
“siapa? Brenda?” tanya Resky
yg sedang mainin ps france.
“iyalah si murid baru itu
sekaligus anaknya yg punya sekolah kita!!”
“slow aja, tenang..tenang
pasti kita bisa bales si Brenda Brenda itu”
“adduuuhhh, lo berdua ya.
Kakak kakak yang ganteng sekalian, kalo mau berisik diluar aja sanaa” kata
tyas.
“yee mbak tyas iki knopo
toh?” tanya Resky dengan logat jawa.
“ah gua ga ngerti bahasa
arab” katanya sambil berlalu. -____-
____________
Ting..tong..
“buka dhen” suruh vando
“lo gak liat apa gue lagi
ngapain?” jawab dhena
“lo aja gih, ketimbang
majalah doang” kata vando malas, dia sedang tiduran di sofa.
“lo aja ah lo kan ga
ngapa2in” jawab dhena
Ting...tong..
“vandoo, bukain pintunya,
mama lagi repot” teriak mamanya dari dapur
“tuh kan lo yg disuruh”
kata dhena
“huh, iya mah iya”
Vando bangkit dari sofa
nya dengan ogah2an, seperti tidak rela badannya lepas dari sofa, dia berjalan
menuju pintu sambil merutuki org yg memencet bell rumahnya, menggangu
istirahatnya saja.
Vando membuka pintu,
cklek…
“Brenda?” kata vando.
“hai van” senyumnya.
‘ini Brenda kenapa? Kok
beda bgt kaya disekolah’ batin vando.
“van? Van? Vando?” Brenda
melambaikan tangannya di depan wajah vando.
“hah iya kenapa bren? Eh
tumben kerumah gue, adaapa?” kata vando.
Tanpa menjawab pertanyaan
vando, Brenda asal nyelonong masuk aja.
Vando jadi semakin
bingung.
“hai dhen” sapa Brenda
Dhena menengok kearah
Brenda, ‘siapa?’
“gausah bingung kali dhen,
gue kakak nya tama” kata Brenda seakan menjawab kebingungan dhena, Brenda
menyalakan TV.
“oh kak brenda” dhena
manggut2. Brenda hanya tersenyum
Datang2 vando langsung
duduk disebelah Brenda dan merebut remote langsung mengganti channel nya. “ish
van, lo ngapain sih” Brenda merebut remotenya lagi.
“lo yg ngapain tiba2 masuk
rumah gue?” mereka rebutan remote. Sampe gak tau kalo tama dateng.
“dhen, mreka kenapa?”
tanya tama menunjuk kakak nya dan vando.
“gatau gue”
“jalan aja yok, naik
sepedah” ajak tama. Mereka berdua pun pergi.
“ih biarin, vandoo
remotenya” vando menyembunyikan remotenya di dekat pinggang sebelah kanannya,
Brenda yang posisinya disebelah kiri vando susah untuk meraih remote nya.
Alhasil Brenda seperti memeluk vando, Brenda masih belum sadar akan aksinya,
dia masih sibuk meraih remote tv itu. Tapi vando menyadarinya, dilihatnya
Brenda dengan posisi Mreka sekarang. ‘ini cewek nyebelin tapi manis’ ditatapnya
terus gadis itu.
“YESS, dapet. wlekk”
Brenda menjulurkan lidahnya. Vando membalasnya. :D
“eh ada brenda” kata tante
ucie
“eh iya tante, Cuma main
doang” kata Brenda senyum
“oh yaudah tante tinggal
masak lagi ya, sering2 main kesini”
______
“emm tam, lo sering
sepedaan ya?” tanya dhena sambil menggowes sepedanya
“iya dhen, biasanya di
amrik gue sore2 gini sepedaan di taman. Seru kan?” kata tama
“haha iya tam, eh gimana
kalo besok kesekolah kita naik sepedah? Kan asik juga tuh” tawar dhen
“wah ide bagus tuh, yuk
yuk” kata tama
_______
Besoknya, Brenda berangkat
dengan vando menggunakan ferari ff silver milik vando. Tama dan dhena lebih
memilih naik sepedah. Di mobil pun mereka masih adu mulut.
“aduuh ndut, kenapa sih
gue harus berangkat sama lo” kata vando sambil menyetir.
“dat dut dat dut, udeh lo
bawel nyetir aja, lo kira gue mau berangkat sama lo. Kalo bukan karna nyokap
gue juga males, hah kutu” kata Brenda
“iyalah liat pipi lo
tembem gitu, ih gemes gue hahaha” tawa vando sambil mencubit pipi Brenda.
Brenda hanya diam merutuki vando.
“haha yaelah ndut gausah
ngambek” kata vando menoel dagu Brenda
“iihh vandoo, dasar kutu”
Brenda.
Sesampainya disekolah,
sekolah cukup ramai karna vando berangkat berdua dengan Brenda. Jelas iya,
vando yang dikenal begitu cuek dan tak pernah kena gossip pacaran dengan
perempuan apalagi jalan berdua dengan perempuan selain mamanya sekarang secara
live vando berangkat sekolah dengan Brenda anak pemilik sekolah.
“eh kutu, kok pada liatin
kita gt?” tanya Brenda heran
Brenda tidak sadar
tangannya menggandeng vando
“iyalah gue ganteng” jawab
vando sekenanya.
Plak.. “gak nyambung”
toyor Brenda.
@KELAS X1
“caelah berangkat bareng
:D” kata Yolanda
“haha apasih yol, kan
rumah kita deketan” jawab dhena
“dhen gua rasa tama suka
sama lo hahahaha” tawa hadi
“eh sipit lo bawel ya”
tambah tama
Tyas hanya tersenyum tipis
mendengarnya
“yas knapa? Kok diem aja?”
tegur dhena
“ah gapapa dhen :D”
katanya berusaha tertawa
‘asal lo tau dhen, gue
masih cinta sama tama. Dan mungkin bener kalo tama suka sama lo, dia udh
berhasil move on dari gue’ batin tyas.
Iya tyas adalah cinta
masalalu tama, tama mengakhiri hubungannya dengan tyas karna dia tak bisa
longdistance dengan tyas.
“oh ya guys mumpung besok
minggu, main yuk kerumah gue kan kalian pada belom tau tuh rumah gue hehe” ajak
Tama.
“hem iyasih, boleh deh gua
ikut tam” kata Yolanda
“gue juga” kata tyas,
“gue ikuuttt” seru hadi
“biasa kaleeee” kata
semuanya tertawa
[bel istirahat]
Brenda merenggangkan
tubuhnya, “haaaahh selesai juga nih pelajaran”
Fia yang duduknya di depan
Brenda menegok ke belakang, “iyanih bosen banget gua belajar history”
“tau ngapain coba kita
nengok sejarah tapi Negara kita sekarang gabener gini apalagi generasi2
mudanya” kata Brenda
“iya generasi muda kaya lo
ya gabener”
Dengan cepat Brenda
menengok ke sumber suara, Brenda menyipitkan matanya, “kaya lo bener aja, kutu”
Vando hanya memutar bola
mata nya, Brenda berdiri dari kursinya dan menarik tangan vando, karna kaget
vando menahan tangan Brenda yang menarik tangannya, Brenda yang merasa di tahan
tangannya pun menoleh “apa?”
“harusnya gua yang tanya,
mau ngapain lo?” tanya vando
“ayo kantin” Brenda lanjut
menarik tangan vando, vando ikut saja
Alvian yang bingung
langsung menoleh ke alifia, fia hanya mengangkat bahu. Lalu mereka berdua
nyusul aja dari pada diem.
Dari kursi paling belakang
tiara mendengus kesal, “tajir sih iya, bisa kita manfaatin. Tapi kenapa mesti
vando, awas aja lo bren gue gabakal ngincer lo lagi buat jadi temen gue, tapi
lo jadi rival gue” tiara kesal.
“udah tir entar kita bales
dia” sahut wulan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sepanjang koridor sekolah
menuju kantin Brenda merasa diperhatikan banyak orang, semua mata memandangnya
sinis, apalagi kaum perempuan, lama2 brenda ngeri juga kaya mau di terkam aja.
‘jangan2 mereka semua alien?’ batin Brenda ngaco. Tangannya mengeratkan
genggamannya pada tangan vando, vando yang merasakan genggaman tangan Brenda
makin kuat pun bertanya. “bren..” Brenda tak merespon, dia masih ngeri melihat
sekelilingnya.
“Brenda!”
“hah?” katanya setengah
kaget
“lo kenapa?” tanya vando
“itu kenapa van kok pada
liatin gue sinis gitu? Ngeri ah gue”
“oh hahaha, sini ikut gue”
Sampai lah mereka di
sebuah madding. “tuh baca” vando menunjuk suatu bacaan.
Brenda membacanya “The
Most Wanted of SMA Pelita Bangsa : Rivando Aviarezky”
Setelah membacanya Brenda
menghela nafas dan langsung menghadap vando, Brenda memegang wajah vando dan
membolak balikkan wajah vando, “tampang madesu gini jadi most wanted?”.
“lepas dut, gue ganteng
tau, udah ah ayo kantin”
@KANTIN
“lama lo berdua” keluah
alvian
“sorry vi, gua abis ngasih
tau anak tengil siapa most wanted sekolah kita” tawa vando sambil menarik
kursinya lalu duduk. Brenda hanya merutuki vando dalam hati. Baru saja Brenda
akan duduk.. BRUUKKK “aww”
1 detik..2detik..3detik..
HAHAHAHA seluruh penjuru
kantin menertawai Brenda
Brenda P.O.V
“aduhh, siapa sih yang
narik kursi gue? Hah?” gue berusaha berdiri tapi sial kaki gue terkilir, gue
nengok ke belakang gue. ‘france?’ fia pun bantu gue berdiri.
“HAHA, gimana rasanya
princess di ketawain banyak orang? Malu lo?” tawa france diikuti resky
“rasain lo bren, ini
balasan lo udah malu2in france kemaren, mampus lo” tambah resky
Gue hanya menatap france
geram, dengan di bantu alifia berdiri, sekuat tenaga gue, gue angkat kaki gue
dan PLAKKK kaki gue mendarat mulus di pipi france, france jatoh. Gue nyengir, “sekarang siapa
yang malu pangeran? Lo atau gue? You…………………LOSER”
Dan itu semua cukup
membuat vando, alvi, fia resky dan semua orang yang melihat menganga akan aksi
gue hahaha. “udah2 bubar lo semua, atau lo pada mau nasib lo kaya pecundang
ini” kata gue sambil nunjuk france, sekejap semua langsung duduk ke meja
masing2, france dan resky pun pergi. Ada yang bisik2 tentang aksi gue tadi, ada
yang ngomongin france.
Normal P.O.V
Vando, Brenda, Alvi dan
Fia duduk kembali. “ajib lo bren, belom ada sebelum nya yang permalukan france
kaya gitu hahaha” kata alvi muji Brenda.
“sumpah bren, berani
banget lo” kata fia
“keren sih, ckck dasar
cewe aneh” tawa vando.
Brenda menatap vando, “heh
kutu, harusnya dengan aksi gue tadi, status lo sebagai most wanted di gantikan
sama gua hahaha” tawa Brenda puas. Vando hanya memutar bola matanya.
Bruk bruk bruk..
“kak, lo gapapa?” kata
tama yang nyamperin Brenda sama temen2nya
“hahaha gue gapapa lah
tam, kakak lo kan jagoan” kata Brenda
“lo berantem lagi ya?”
tanya tama mastiin
“iya tam, kakak lo
berantem lagi sama…..” kata alvi terpotong
“kakak gue” sambung tyas
“maaf ya tyas, kakak lo
duluan sih” ucap Brenda cepat
“gapapa kok kak bren, gue
ga begitu peduli sama dia, dia emang gitu anaknya. Sebel gue sama dia” sahut
tyas
Sebenarnya semua bingung
kenapa Brenda dan tyas sudah saling kenal?
“ckck, sampe adeknya aja
gak peduliin dia, sedih amat si france” kata fia
“tapikan dia kakak lo yas”
sambung tama agak sinis
“suka2 idup dia apa tam
wkwk” kata hadi
-----------------------
Tiara dan wulan sedang
jalan berdua, saat melewati depan UKS “lah tir, itu france kan?” kata wulan.
Tiara menengok, “lah iya, samperin yuk”
Tiara nyamperin france,
“lo knapa?”
“ah gapapa, biasa cowo
abis berantem hehe” france gak mau jelasin kalo dia abis bonyok gara2 cewe.
“kalo berantem nya sama
cowo sih gapapa, lo kalah sama cewe. Copo lo haha” tawa Brenda dari depan pintu
UKS yang masih di bantu berdiri sama vando. Tiara, wulan, resky dan france
melihat ke arah pintu. “maksud lo?” tanya tiara bingung.
“lo tanya aja tuh sama
temen lo yang copo, bayyy” kata alifia lalu pergi bersama yang lain.
@UKS WANITA
Vando P.O.V
Gue bantuin Brenda tiduran
di kasur UKS.
“vando care bgt ya sama
brenda, lo tau kan vando itu gimana aslinya?” bisik alvi kepada fia, fia
mengangguk setuju.
Gue nengok ke alvian, “gue
denger vi” alvi hanya nyengir lalu memberi isyarat pada fia untuk keluar. “em,
bren gue ke kelas duluan ya sekalian ijinin lo okey” kata fia
“iya gua juga ya bren,
van” kata alvi menyusul.
“lah lah, terus gue?” kata
Brenda
“kan ada gue bren” kata
gue
“huuhhh”
“bren, kaki lo luka ya? Oh
mungkin ke pentok kali ya tadi?”
“…”
“bren,”
Brenda menutup matanya
sambil menggeleng, “gue phobia darah van”
gue hanya tertawa kecil,
“jagoan sih iya, tapi phobia darah”
Brenda mukulin gue pake
bantal, dia gak tau kalo kasur di UKS roda kaki pada kasurnya sensitive dengan
gerakan yang cukup kuat alhasil kasur UKS itu terdorong dan Brenda jatuh.
“aaa, vandoo”
BRUUGHH
Brenda P.O.V
Gue jatoh, malu banget
pasti kalo vando liat gue jatoh gini, eh tapi gue kok gak ngerasa sakit ya?
Kaya ada yang nahan tubuh gue? . Gue coba buka mata gue perlahan. HAH gua bener2
kaget sama apa yang ada di depan mata gue, vando? Posisi gue persis di atas
vando dengan kedua tangan vando nahan bahu gue dan gue bertumpu pada sikut gue
yang nahan tubuh gue di lantai.
“VANDO? BRENDA?” gue sama
vando nengok ke sumber suara. Tiara? Dia habis dar UKS pria, Buru2 gue bangun.
“lo berdua?” wulan nunjuk
gue sama vando bergantian. “gue…emm”
“tadi Brenda jatoh terus
gue nahan dia, eh gue ikutan jatoh. Lo jangan mikir yang macem2 ah” jelas
vando. Tiara langsung nyamperin vando, “lo gapapa kan van? Lo ga dia apa2in kan
sama cewe itu? Tar lo kaya france lagi”
Gue hanya menatap sinis
tiara, tiara pun keluar dengan vando dan diikuti wulan. Sedangkan gue kembali
pada posisi gue, istirahat di UKS.
Normal P.O.V
@KELAS X1
“ah bête gue sama guru
kaya dia” keluh tama
“sst diem tam, tuh guru
galak” sahut tyas yang di sebelahnya
“tapi gua bosen yas, dia
jelasin udah kaya dongeng tau” tama melipat kedua tangannya dan menyenderkan
tubuhnya di kursi.
“iyasih haha”
“TYAS, TAMA KENAPA KALIAN
BERISIK HAH?” kata sang guru, pak suardi
Tyas menepuk dahi nya,
“mati lah gue”
“berisik amat sih” kata
tama
“KALIAN BERDUA, HORMAT
PADA BENDERA SAMPAI BEL ISTIRAHAT KE DUA”
“HAH??” tama dan tyas
terkejut
“IYA CEPATT” seru pak
suardi sangar
“ciyuss? Enelan?” katanya
barengan lagi
“CEPAAATTT”
“hahaha, sukur lo tam,
pingsan pingsan lo” tawa hadi
“yee temen kesusahan juga
lo malah di ketawain” bela Yolanda
@UKS WANITA
Fia menghampiri Brenda di
UKS, di lihatnya Brenda hanya menatap langit2 dengan tatapan kososng, Brenda
tak menyadari kedatangan alifia. Tak lama vando datang diikuti alvian,
“Brenda kenapa?” tanya
alvi pada fia, fia hanya mengangkat bahu tanda tak mengerti.
Vando berjalan mendekati
Brenda, “bren..!”
Brenda sadar dari
lamunannya “hah? Eh vando, fia, alvi. Kapan dateng?”
“daritadi kali, lo aja
yang ngelamun, lamunin apasih bren?” tanya fia mendekati Brenda.
“ah gapapa” kata Brenda
mendudukkan posisinya.
“lo udah bisa jalan bren?”
tanya vando. Brenda mengangguk.
“gue mau keluar ah, bosen
disini” kata Brenda.
Akhirnya mereka pergi dari
UKS, saat berjalan dikoridor…
“itu adek gua bukan sih?”
kata Brenda menunjuk seseorang di dekat tiang bendera.
“lah iya itu adek lo bren
ama tyas, ck sama si ketua osis. Samperin yuk”
______
“yas, lo tuh malu2in gue
aja tau gak di hukum kaya gini!” bentak france
“suka2 gue! Masalah buat
lo?! Lo aja sering tuh ribut disekolah, berantem sama kak Brenda, dan parah nya
lo cari ribut tapi lo yang malu kena tendang cewe! Lo kira tingkah lo gak malu2in
gue sebagai adek lo?! Ketua osis macam apa lo?! Sampah!!” caci tyas.
France geram dengan
perkataan adiknya, jelas malu, banyak siswa memperhatikan mereka karna suara
tyas cukup keras tadi.
“berani ya lo ngomong gitu
sama gue” tangan france siap menampar tyas.
“CUKUP KAK!!” tama menahan
tangan france
“heh apa lo ikut campur
urusan gue?! Mau sok2an belain tyas hah? Lo inget, dulu lo yang nyakitin tyas
Cuma2 gara2 hal sepele? Lo gak bisa berhubungan lama sama tyas Cuma gara2 lo
harus pindah ke luar negri hah? Dan….” bentak france,
Tidak Cuma tama, tyas dan
Brenda yang kaget, kaget karna france akan bilang seperti itu. Semua orang yang
melihat, termasuk dhena, Yolanda, hadi, vando, alvi dan fia kaget.
“ja..jadi selama ini
kalian berdua udah saling kenal? Hah tama? Tyas?” ucap dhena tak percaya,
matanya sudah berkaca2. Yolanda yang memang peka’ terhadap temannya yang satu
ini menyadari bahwa dhena menyukai tama.
-flashback 2tahun lalu-
Disebuah taman
“hmm, tyas”
“iya, knapa tam?”
“a..aku” kata tama gugup
sambil memegang kedua tanga tyas
“iya kamu knapa tam?”
“aku, mau kita……putus”
DUAARRRR
Seketika tyas membelakkan
matanya, hatinya? Cur..hancur berkeping2.
“maafin aku yas, aku hari
ini harus pergi ke amrik, ada tugas orang tuaku disana, aku sama kak Brenda
juga harus ikut. Hubungan kita gak bisa terus berjalan yas kalo begini, maafin
aku. Mungkin saat ini aku orang paling jahat yang udah nyakitin perasaan kamu,
di tanggal 29 ini. Anniversary 1year, tapi Happy Failed Anniv yas. Maafin aku,
aku harus pergi. Aku sayang kamu”
Tama mengecup kening tyas,
lalu ia pergi meninggalkan tyas. Tyas diam seribu bahasa. Perlahan sungai kecil
mengalir di pipinya. Cuaca yang tidak mendukung mengawali harinya tanpa tama,
Hujan membanjiri kota Jakarta. Wajah tyas terbasahi oleh air hujan, air mata
sudah tak terlihat lagi di wajahnya karna hujan yang membasahi dirinya.
“TAMA KAMU JAHATTTT”
teriak tyas.
~~
Semenjak saat itu tyas
menjadi anak yang agak pemurung dan suka melawan kata2 kakak nya yang selalu
membujuk dan menghiburnya. Kakak nya sungguh prihatin dengan keadaan tyas karna
hancur di putuskan oleh tama, itu pun juga merubah sifat kakak nya menjadi
seorang yang seperti sekarang ini, untuk menunjukkan kepada tyas, jangan
menjadi orang yang lemah! Tapi kakak nya salah!!
-flashback off-
“CUKUP FRANCE!! JANGAN DI
TERUSIN” Brenda angkat suara.
“bren, udah lo jangan cari
masalah lagi” kata fia. Brenda tak mengubris kata2 fia
“apa lo ikut2 hah? Ini gak
ada urusannya sama lo, lo anak pemilik sekolah. Gausah sok2 jagoan deh, siapa
sih lo ikut campur aja? oh, lo mau ngadu ya ke nyokap bokap lo, kalo gue ribut
lagi disekolah hah?” kata france
“gue gak loser ya yang
bisanya ngadu!! Lo dalam masalah kalo lo berurusan sama tama!” kata Brenda dgn
tatapan tajam.
“emang dia siapa lo hah?”
balas france dgn tatapan tajam.
“dia adek gue!!”
“oh, dia adek lo? Pantes
sama nyolotnya kaya lo!” kata france nyolot.
“gua bisa ya cabut
predikat lo sbg ketua osis!”
“wow! Silahkan kalo itu
mau lo mah, gua udah gak peduli, yuk ky cabut, males gua disini” kata france
mengakhiri perdebatan.
“tyas, sorry” kata tama
spontan memeluk tyas
“yas, jujur gue belum bisa
lupain lo, nama lo masih ada di hati gue” kata tama dalam.
Tyas hanya bisa diam, ini
yang dia rindukan, tama.
Dhena hanya bisa berpura2
tegar melihatnya. Sesungguhnya hati gadis ini cukup perih melihatnya, tapi apa
yang arus dia lakukan? Marah, menangis? Sudah tak ada gunanya.
Lama2 murid2 pada bubar,
“Brenda kemana?” tanya alifia.
“hah? Bukannya tadi masih
disini?” kata alvian.
“gua cari brenda” kata
vando langsung pergi
“fi.. lo ngerasa gak sih
ada yang berubah dari vando?” tanya alvian
“iya vi, vando care banget
sama Brenda, setau gue vando itu dingin banget sama cewe, tapi semenjak Brenda
dateng……”
“gua rasa dia suka sama
brenda”
“hmm, gue gatau lah, kita
liat aja nanti”
___
Tiara dan wulan hanya
memperhatikan semua kejadian dari jauh, “gausah gue bertindak, si Brenda juga
udah ancur tuh haha” tawa tiara
“lo benci banget ya tir
sama Brenda?” tanya wulan
“ya, sangat benci. Dia
udah ngambil perhatian vando” kata tiara
Vando masih mencari Brenda
ke seluruh penjuru sekolah, sampai akhirnya ia lelah dan menuju kantin. Dia
lihatnya seorang gadis menunduk di meja kantin “tuh dia” vando menghampiri
Brenda.
“bren” kata vando duduk
disamping Brenda
“ya?” kata Brenda
mendongakkan kepalanya
“lo kenapa? Kok ngilang
gak bilang2?” tanya vando
“gua capek…”
“capek kenapa?”
“capek sama masalah yang
terus menerus dateng ke gue, dan itu semua gara2 ketua osis sialan” kata Brenda
tanpa ekspresi.
“AWW, vando! Lo kok nyubit
gue sih?!” kata Brenda mengelus tangannya yang dicubit vando
“lo jelek kalo lagi kaya
gitu, dan gua gak suka liatnya. Udahlah bren, masalah kaya gitu dibawa santai
aja, kan ada gua, alvian sama alifia. Let yourself flow oke?”
Brenda pun memeluk vando.
“jangan tinggalin gue sendirian”
Vando membalas pelukan
Brenda, perlahan airmata Brenda pun mengalir.
‘vando, cara lo ngomong
kaya tadi knapa mirip sama dia?’
“ekhm…” sebuah suara yang
membuat vando dan Brenda melepas pelukannya.
“anak pemilik sekolah main
peluk2an ya di kantin? Haha bagus banget”
“masalah buat lo?” kata
Brenda, Brenda pun langsung pergi.
“lo kenapa sih tir
gangguin Brenda terus? Apa salah dia sama lo?” bentak vando.
“van, gua gak akan rela ya
cewe manapun yang deket sama lo dan ngambil perhatian lo. Van gua masih sayang
sama lo” matanya mulai berkaca2
“sayang sama gua? Kalo
sayang kenapa lo dulu selingkuh dari gue? Itu yang namanya sayang? Lo juga
berubah tir! Gua gak suka sama sifat lo yang sekarang!” vando pun beranjak
pergi.
Tiara menangis, dia
menyesal atas perbuatannya dulu.
-flashback 1tahun lalu-
Sudah 1jam vando menunggu
tiara di taman, tapi tiara pun tak kunjung datang.
“tiara, lo kemana sih kok
belum dateng?” gumam vando. Vando memilih untuk tetap menunggu.
Percuma, sudah 1jam dia
menunggu lagi tiara pun tidak datang, akhirnya vando memutuskan untuk kerumah
tiara.
Sesampainya dirumah tiara,
vando masuk dan dia cukup kaget dengan apa yang dia lihat.
“jadi gini ya, 2jam aku
nunggu kamu di taman, ternyata kamu lagi asik2an sama cowo lain, sampe
pegang2an tangan lagi. haha”
Spontan tiara melepas
tangannya dari laki2 lain itu. Dia langsug menghampiri vando.
“vando, kamu salah paham,
dia…”
“udahlah tir, aku rasa
hubungan kita sampe disini aja, makasih atas 6bulan hari2 kita. Permisi!” vando
pergi dari hadapan tiara.
“van, van tunggu! Vando…
rivando!” tiara tertunduk, dia menangis sejadi2nya.
Laki2 yang tadi bersama
tiara pun menghampiri tiara, “tir..”
“pergi..pergi” kata tiara
sambil terisak. Laki2 itu memeluk tiara. “maafin gue tir”
“enggak, gue yang salah!
Hiks, vandoo”
-flashbackoff-
Bel pulang telah berbunyi,
tama dkk segera pergi kerumah tama.
“yaudah lo bertiga duluan
aja pake mobil hadi. Gua sama dhena naik sepedah aja.” kata tama
“tar kalo udah sampe rumah
lo kita ngapain?” tanya Yolanda
“paling diusir sama kakak
gue, wkwk ya lo pada masuk lah atau nunggu diluar oke?”
“yadeh”
Hadi, Yolanda dan tyas
sudah jalan dengan mobil milik hadi. Tinggallah dhena dan tama.
“yuk dhen”
Selama diperjalanan
pulang, tama dan dhena hanya diam2an.
“tam… emang dulu tyas itu
pacar lo?” tanya dhena agak ragu.
“iya dhen, gue sayang
banget sama tyas. Tapi karna keluarga gue harus pindah ke amerika ya gue
terpaksa putusin tyas, gue gakbisa longdistance dhen. Waktu gue mutusin tyas
itu rasanya berat banget dan gak rela. Tapi ya gitu deh”
“hmm, apa lo gak mau buka
hati lo tam? Cari cewe lain gitu?” tanya dhena lagi
“gak dulu deh dhen, gue
masih sayang banget sama tyas”
Dhena hanya mengangguk,
dalam hatinya sedih karna tama belum bisa move on.
@RUMAH FRANCE
France membanting tubuhnya
di sofa, dia mengacak acak rambutnya.
“HAH, kayaknya semenjak
ada Brenda disekolah ini gua dapet masalah terus. Vando juga, tuh anak lama2
makin nyolotin! Tiara juga, masih aja ngejar2 vando. Apacoba bagusnya vando!”
kata france ngomel sendiri.
Drrtdrrtdrrt… ‘yoga call’
“halo? Yoga? Weyy apa
kabar bro? hha iya gue baik. Hah? Lo mau balik ke indo? Kapan? Besok? Wahh seru
nih. Oke besok gua jemput ya pulang sekolah. bye”
@RUMAH BRENDA/TAMA
“kakak lo mana tam?” tanya
hadi
“siapa?” tanya tama
“bego lo, ya ka Brenda
lah” kata hadi sambil noyor kepala tama
“hehe, becanda. Napa lo
nanyain kaka gua?” tanya nya jail
“suka kali” sahut dhena
yang sedang asik mainin hp nya
“yee sembarangan, gue udah
punya Yolanda nih. Hhe jangan marah ya beb” kata hadi
“iya gapapa” Yolanda
“iya ya, kok kakak gua
belom balik ya?” kata tama
“yee dia balik nanya -_,-”
kata hadi
“sama ka vando kali tam,
biasanya kan mereka berdua. Atau sama ka alvi sama ka fia” ujar tyas
“hmm, bener juga sih kata
lo”
“eh tam, ka Brenda sama ka
vando kok deket ya? Emang mereka udah kenal lama?” tanya Yolanda
“kagak yol, mereka baru
kenal pas ka Brenda baru pindah disini” sahut dhena lagi
“jangan-jangan………” kata
hadi gantung
“apa?” sahut semuanya
“itu…”
“apaan?”
“mereka saling suka lagi”
“ah ga mungkin di, ka
vando lo tau sendiri pribadinya gimana? Cuek bebek” kata dhena
“hati orang siapa yang tau
dhen” sahut tama
“yasih”
Besoknya di Bandara
“mana yoga ya?” france celingukan
nyariin yoga, tiba2 ada yg menepuk bahunya. Dia menengok
“sorry, are…”
“yoga??”
“france?” tanyanya sambil
menaikka satu alis nya
“iya bro ini gua. Wes
tambah ganteng lo hahah” tawa france
“iyalah gue gitu”
“eh udah yok masuk mobil”
Mobil..
“kemana nih kita?” tanya
france
“kerumah gue aja lah
langsung, eh france SMA Pelita Bangsa dimana?” tanya yoga
“SMA gue tuh bro, gak
begitu jauh lah kalo dari komplek kita” jawab france
“ohh soalnya gue bakal
sekolah disana, asik ga sekolahnya? Orang2nya?” tanya yoga lagi.
“asik sih, tapi yaa
semenjak kedatangan sang pemilik sekolah hidup gue kacau mulu, belom lagi si
pasukannya dia haahh ribut mulu idup gue” france curcol
“yee itu mah idup lo,
mungkin idup gue bakal lebih indah disekolah dibanding elo wkwkwk” kata yoga.
Alvian sedang mencari2
buku, tapi bukan buku yang ia cari tapi komik.
Brenda yang sedang di
gramedia juga pun melihat alvian, dan menghampirinya.
“weyy al, ngapain lo?”
kata Brenda, dan melihat apa yang alvian cari ‘komik? Sejak kapan?’
“eh bren, haha engga lagi
bosen aja gue nyari2 buku” katanya gelagapan
‘ada yang aneh, apa ya? Ah
gapenting’
“ohh, emm eh al. gue mau
nanya2 sama lo tapi gue tunggu di café green ya dahh” kata Brenda langsung
pergi.
@Cafe Green
“maksud lo bren?” tanya alvian
“iya, vando tuh dulu
pernah pacaran sama tiara apa engga?” tanya Brenda lagi
“lo knapa nanya2 gituan?”
tanya alvian
“soalnya tiara gasuka bgt
gitu gue deket sama vando, siapa tau aja karna masih sayang jadi gasuka kalo
vando deket2 sama cewe lain kaya gue gitu” jelas Brenda
“iya, bren. Tapi dulu
vando pacaran sama tiara Cuma buat yaa gitu lah” jelas alvian gantung dan bikin
Brenda makin penasaran.
“gitu gimana al? ah lo
yang jelas dong ngomongnya jangan stengah2” kata Brenda
“yaa, dulu waktu masih SMP
vando pernah pacaran sama org, dan org itu ninggalin vando karna mesti ke
Amerika sama keluarganya, kaya tama sama tyas gitu. Nah karna vando gamau sedih
terus, dia mau cari penggantinya. Dan dia dapetin tiara, tapi ternyata walaupun
udah berusaha keras buat sayang sama tiara ttep gabisa bren. Nah pas itu kira2
setahun lalu pas banget ada kejadian yg buat vando mutusin tiara, tiara ke-gep
selingkuh. Jadi lah mreka berdua putus” jelas alvian panjang lebar
“tiara selingkuh? Sama
siapa? Trus cewenya vando sblum tiara siapa?” tanya Brenda
“gue juga kurang tau deh
bren, vando gamau ngungkit2 itu lagi, stiap gue tanya kaya gitu atau bahas
tentang itu pasti dia marah” kata alvian
“ceritanya vando sama kaya
gue, tapi posisi gue di ceweknya” kata Brenda
“ketauan selingkuh?” tanya
alvi polos
“gak lah dodol”
“terus?._.”
“gue ninggalin cowo gue ke
amerika” kata Brenda
“karna keluarga lo?”
“iya keluarga gue dan
sodara gue pindah kesana”
Dari kejauhan, seseorang
memperhatikan Brenda dan alvian.
Besoknya disekolahan..
Kelas Brenda dan kawan2
sedang ribut karna akan kedatangan murid baru, benar saja taklama pun guru
mereka Bu Dian membawa seorang murid.
“anak-anak diam!”
“YOGA?!?!?!” kaget Tiara,
Brenda dan Rivando
“Tiara, Brenda, Rivando!
Diam kalian”
‘brenda? Gue kangen banget
sama lo bren. Akhirnya gue bisa liat lo. Tapi tiara? Vando? Knapa ada mreka
juga?’ batin anak baru itu. Yoga.
“perkenalkan nama kamu”
“perkenalkan nama saya
Yoga Achmad, mohon bantuannya”
“baik yoga kamu bisa duduk
di sebelah kanan brenda”
Perasaan Brenda pun tak
karuan, senang?
Begitupun tiara yang
pernah punya masalalu pahit dengan Yoga.
[istirahat]
“bren, gue ke Perpus dulu
ya sama alvian. Lo gapapa kan?” tanya alifia
“gapapa fi. Masih ada
vando kok yg nemenin gue” senyum Brenda pada alifia
“ok, dah bren” alifia dan
alvian pun pergi
“dih siapa yang mau
nemenin lo? pede” kata vando
“hehe, canda kali van!
Biasa dong muka lo. Udah yuk kantin” Brenda pun berdiri dari kursinya.
Namun saat ingin pergi
dengan vando seseorang menahan tangannya
“bren..”
“yoga? Knapa?” perasaan
Brenda semakin gak karuan. Deg2an rasanya
[perpustakaan]
Alifia lagi nyari2 buku
sejarah.
“mana coba bukunya?
Elahh.. hah? Apanih? Komik? Kok bisa? Conan lagi” alifia mengambilnya. Heran
kenapa ada komik di perpustakaan? Dibukanya halaman pertama.
‘buat lo fi, liat ke
sebelah kanan deh’
Alifia pun melihat
kesebelah kanannya. Tampak alvian melambaikan tangan padanya dan tersenyum. Fia
membalas senuman alvian dan menghapirinya.
“buat gue al? waah thanks
ya :D”
“anytime fiJ, eh udah ketemu fi
bukunya?”
“belom al, bantuin gue
makanya”
“haha yaudah gue bantuin
cari”
[kelas]
Yoga mendekati Brenda,
memegang wajah Brenda dan jarinya menyusuri setiap lekuk di wajah Brenda.
“lo tau gak bren alasan
gue balik ke Indonesia?” tanya yoga
Brenda hanya diam,
menunggu jawaban laki2 yang ada di hadapannya itu. Sesungguhnya dia sangant
rindu laki2 itu. Sekarang mereka ada dalam jarak yang sangat dekat.
“gue kangen sama lo bren,
gue pengen cari lo. Tapi skarang kita udah bertemu bren” kata yoga.
Terdengar sangat berat
suara yoga dan nafasnya sangat terdengar di telinga Brenda. Yoga memiringkan
wajah nya dan…
“hett… apa2an nih!” vando
memisahkan Brenda dan yoga.
Brenda baru tersadar. Dia
menunduk
“yuk bren ke kantin” vando
menarik tangan Brenda.
Tiara mengintip dari
jendela, “bagus, kalo ternyata Brenda sama yoga udah saling kenal dan mereka berdua bisa
deket lagi. Vando bisa jadi milik gue lagi. Siapa tau aja yoga bisa diajak
kerjasama sama gue” senyum tiara licik
[kantin]
“nah jelasin bren!”
“gua gatau van, gue
bingung van, bingung” Brenda menggeleng2kan kepalanya.
“knapa? Knapa yoga harus
ada lagi dihidup gue?” kata Brenda matanya mulai berkaca2.
“bren? Kok lo? Lo knapa?
Yoga emang siapa lo bren?” tanya vando makin bingung, apalgi melihat mata
Brenda sudah mulai berkaca2 ingin menangis.
“yoga dulu cowo gue van
waktu masih smp, dan gue ninggalin dia. Sama kaya tama van. Gue sayang banget
sama dia. Gue gabisa lupain dia van, sampe sekarang. hiks” Brenda mulai
menangis.
Vando memeluk gadis itu,
cukup sakit hatinya mendengar perkataan spontan Brenda tadi.
‘jadi cowo yang lo maksud
kmaren sama alvian itu yoga bren?’ batin vando.
Brenda melepas pelukan
vando.
“sorry van. Oh ya, lo
knapa tadi juga kenal sama yoga pas yoga dateng tadi?” Brenda menghapus
airmatanya.
“selingkuhannya tiara
dulu” jawab vando datar.
“HAH?? Jadi… tiara…”
“kenapa bren?”
“ah gapapa van, lupain”
“seandainya yoga ngajak lo
balikan. Lo mau ga?” tanya vando, cukup sulit sebenarnya untuk menanyakan hal
itu.
“gatau van. Sbenernya gue
udah nemuin pengganti yoga van, tapi knapa yoga mesti hadir lagi di hidup gue?
Bikin gue bingung van” Brenda menghela nafas.
“pengganti yoga? Siapa?”
tanya vando makin penasaran.
“hmm…” Brenda memegang
kepalanya.
‘kepala gue sakit banget’
“bren, muka lo pucet. Lo
knapa?” vando panic
“gapapa, van…temenin gue
ayo”
[kelas tama]
“sialan. Bikin gossip aja.
siapa sih dia?” kata tama kesal
“ka tiara tam, ya gasuka
gitudeh sama kakak lo” Yolanda
“gue tau ka yoga itu
masalalunya kakak gue, yatapikan gak gitu lah gausah disebar2 gitu kalo kak
yoga hampir nyium kakak gue. Ck ah” tama melipat kedua tangannya.
“udahlah tam” kata dhena
“sabar gimana hah?! Gua
harus kerjain dia” senyum tama licik
[BEL MASUK]
“udah masuk, Brenda mana
ya?” kata alifia
“vando juga mana coba”
kata alvian.
“ilang kok kompakan” sahut
tiara
“bacot lo ah” kata fia.
Drrt..drrt
From: Brenda
Fi, izinin gue sama vando ya
hehe bilang gue sakit kek. Gue mau cabut, tar pulang skolah lo krumah gue aja
sama alvian skalian bawain tas gue sama vando, oke? :D
“hhh kebiasaan” respon fia
stelah membaca sms Brenda, dia hanya membalas
‘iya, lo hati2 ya bren. Gue takut lo stress grgr gossip yg hampir
kissing ama yoga wkwk trus bunuh diri lagi’
“knapa fi?” tanya alvian.
“gapapa, eh tar kita
pulang skolah krumah Brenda ya”
“siip”
‘vando? Brenda? Mereka
pacaran?’ batin yoga
[taman]
“bren…”
“ya van?”
“yg lo bilang tadi, cowo pengganti
yoga di hati lo siapa?” tanya vando
Brenda diam, angin yang
berhembus . rambut panjangnya pun ikut tertiup angin sore itu. Vando masih
menunggu jawaban Brenda. Brenda tersenyum menghadap vando.
“elo van”
“gue?” vando mendelik
“iya van, perhatian lo ke
gue itu yang buat gue merasa lo tepat buat gantiin yoga. Tapi van, skrg gue
bener2 bingung sama perasaan gue” kata Brenda yang tadinya tersenyum langsung
datar.
Brenda mengalihkan
pandangannya dari vando, ia menghadap danau yang terbentang di taman itu.
Perlahan Brenda menitikkan air matanya.
“van, gue sayang banget
sama lo. Bukan sayang sebagai temen, lebih dari itu van. Tapi gue gabisa nebak
hati lo van. Gatau knapa rasanya gue pengen banget ngungkapin ini smua ke elo.”
Kata Brenda, tatapannya kosong.
Vando berdiri dibelakang
Brenda, memeluknya dari belakang, meletakkan kepalanya di pundak Brenda.
“van..?” Brenda bingung
“hmm…” ucap vando
sekenanya. Ia membelai rambut panjang brenda
“lo kenapa? Lo gapapa van?”
tanya Brenda, tapi ia masih diam atas perlakuian vando itu
“hmm…” kini vando mencium
tengkuk leher Brenda.
“geli ah van” ucap Brenda yang mulai merinding atas perlakuan vando, ia
kini berbalik menatap Vando. Vando pun langsung mencium bibir Brenda. Awalnya
Brenda hanya diam, tapi lama kelamaan dia membalas ciuman vando.
“gue juga sayang sama lo bren, semenjak gue liat lo main
piano. Gue udah suka sama lo bren. Dan sekarang gue sayang sama lo bren.” Kata
vando.
“makasih van, gue…” tiba2 brenda pingsan, vando menahan
tubuh brenda.
“bren..bren.. brenda”
[depan rumah
brenda]
“brenda belom
pulang tam? Dia gak kabarin lo emang?” tanya fia pada tama
“enggak kak, gua
juga khawatir sama dia takut penyakitnya kambuh” kata tama masih belom sadar
Fia dan alvian melotot kaget
“a..apa tam? Penyakit?”
kata alvian
“ups.. enggak
kak maksud gua itu..”
“jelasin tam!”
paksa fia
TIN TIN
Mobil vando
datang, vando cepat2 keluar mobil dan membawa brenda
“kak vando,
kakak gua kenapa?” tanya tama panik
“udah tar gua
jelasin mending lo bantu gua, buka pintu tam” kata vando
“bren lo kenapa
sih?” tanya vando sedih melihat brenda terbaring di sofa.
Well open up your mind..hp tama bunyi. Mama calling.
“Halo ma”
“Halo tama, tama sayang. Mama sama papa hari ini
juga mau ke LA, kira2 bulan depan mama sama papa pulang, kamu bilang sama kakak
kamu ya sayang, bilang vando sama dhena juga. Oh iya jaga kakak kamu jangan
sampe kecapekan, mama gak mau denger kalo dia sakit.”
“Hah? Kok gak
pulang dulu sih ma? Iya Kak brenda pasti baik2 aja, tapi mah...”
“Gak bisa sayang, ini urusan mendadak. (maaf bu
tiketnya) oh iya ini, yaudah gitu aja ya tama, love you dear”
“Love you too,
bye”
“ada apa?” tanya
vando yang melihat raut wajah tama melas
“orang tua kita”
kata tama membanting tubuhnya di sofa sebelah sofa tempat brenda
“hm kapan
balik?” tanya vando yg sudah mulai mengerti
“bulan depan”
“eh iya van,
brenda kenapa bisa gini?” tanya fia
“mungkin dia
kecapekan, dia ngapain aja hari ini?” kata tama
“hm belajar,
ribut sama france, trus tadi masuk uks karna jatoh, marah2 sama france dan
terakhir pergi sama vando” kata alvian menghitung jarinya mengingat kegiatan
brenda disekolah tadi
“dia ngajak lo
kemana kak? Biar gua tebak, danau?” kata tama
“iya, lo kok
tau?” tanya vando
“danau itu
tempat favorite kakak gua, waktu kecil dia suka main sama gua disana, dan juga
tempat favorite kakak gua sama kak yoga
dulu dan tempat gua mutusin tyas dulu di tamannya”
“yoga sama
brenda ada hubungan apa?” tanya fia penasaran, alvian sudah melihat expresi
vando saat tama menyebut nama yoga dan brenda.
“dulu mereka
pacaran, dan berhenti pas keluarga besar gua pindah ke Amerika,” jelas tama.
“hampir sama
kaya kisah gua sih? Gua ditinggal ke amerika”
“eh iya tam, lo
sekarang jelasin maksud omongan lo tadi, brenda punya penyakit apa?” tagih fia
“pe..penyakit?”
vando makin bertanya2.
“Leukimia” jawab
tama datar
“lo serius tam?
Stadium berapa?” vando panik sendiri
“...” tama diam
“sejak kapan?”
tanya alvi
“sejak dia kelas
6SD ka”
Vando lemas,
alvi dan fia tak menyangka. Di balik ke ceriaan brenda dan ke beranian brenda
terhadap france, dia menyimpan beban seberat ini.
“hmm..” brenda
terbangun memegang kepalanya yang pusing, semua langsung bersikap biasa.
Brenda
membenarkan posisi dia duduk di sofa. Vando langsung duduk di sofa dan memeluk
gadis itu. Semua bingung termasuk brenda yang baru sadar dari alam bawah
sadarnya.
-=-=-=-=-
Yoga berjalan
kearah rumah brenda, rumah mereka hanya berbeda 3 rumah, yoga sempat menanyakan
alamat nya pada tama tadi. Dia membawa setangkai mawar merah, ia tersenyum dan
memutar2 bunga itu dengan ibu jari dan telunjuk nya.
“gua pasti
dapetin lo lagi bren”
Sesampainya
didepan rumah brenda, yoga heran kenapa ada mobil dan itu bukan milik orangtua
brenda, dan mengapa pagar rumah terbuka? Yoga masuk dan memasuki teras rumah
brenda, 5 langkah sampai didepan pintu yoga kaget dengan apa yang dia lihat,
vando dan brenda.
“vando?” brenda
bingung, brenda menatap teman2 dan adiknya seolah bertanya –vando kenapa?-
mereka hanya mengangkat bahu.
“gua sayang sama
lo bren” suara vando agak serak.
Brenda membalas
pelukan vando, “iya van gua juga sayang sama lo, lo kenapa? Lo nangis ya?”
Vando melihat
banyangan dari arah pintu, dia melepas pelukan brenda, “ngapain lo?” itu yang
terucap dari bibir vando saat melihat siapa yang datang
Semua berbalik
arah kearah pintu termasuk brenda
“yoga?” kata
brenda pelan lalu menunduk.
Yoga masuk dan
menarik tangan brenda tapi vando menahannya
“mau apa lo?”
“gua pinjem
bentar” kata yoga datar
“buat apa?
Lepas!” vando berusaha menahan brenda.
“atas dasar apa
lo larang2 gua? Lo siapanya brenda?” kata yoga
Vando langsung
diam, tama juga diam saja. Dia tau kakaknya butuh waktu berdua dengan yoga.
Yoga mengajak
brenda pergi ke danau.
“kenapa lo gak
nahan brenda van?” tanya alvi
“bener kata
yoga, gua bukan siapa2nya” katanya terduduk lemas di sofa.
“hak lo tuh
lebih besar dari yoga, apa status yoga? Cuma mantan van. Elo? Elo gak sadar
tadi apa yang lo ucapin berdua? Lo sama2 saling sayang van, brenda tau perasaan
lo ke dia, pasti dia ngerti kenapa lo nahan dia” jelas fia.
“tapi kak, ka
yoga sama kakak gua butuh waktu berdua. Mereka pernah menjalin hubungan, saling
sayang dan susah dipisahin, sampe mereka pisah cukup lama, mereka butuh waktu
kak” timpal tama.
Fia mendengarnya
ikut duduk disebelah vando, alvi disebelah tama. Mereka berniat menunggu brenda
sampai pulang, bahkan menginap. Besok libur dan mereka langsung izin pada orang
tua, begitupun dhena, datang ke rumah brenda dan diberi kejelasan karna
orangtuanya.
[danau]
“bren,” yoga
memulai pembicaraan setelah beberapa menit mereka diam2an
“iya?” brenda
menoleh kearah yoga yang duduk disebelahnya.
“gimana keadaan
lo sekarang?”
“masih sama kayak
dulu Ga, penyakitan” katanya miris
“jangan ngomong
gitu lah bren, lo pasti sembuh” kata yoga
“sembuh lo
bilang? Udah lama Ga, dari gua SD dan sekarang gua udah SMA, kalo bukan karna gua tegar dulu mungkin lo
udah gakbisa liat gua lagi, tapi lama2 gua capek Ga begini mulu, bergantung
sama obat, apalagi kalo gua udah drop. Gua mesti kemo berkali2, sembuh sebentar
sakit lagi,” kata brenda sedih, siapapun yang melihatnya juga pasti akan
menangis. Brenda mengeluarkan airmatanya
“gua iri Ga sama
lo, lo sehat, bisa ngelakuin apapun. Gua juga iri sama Tama, dia bisa sepedahan
bebas, main basket. Kadang gua sedih banget liatnya Ga” brenda menangis semakin
menjadi, yoga mnyandarkan brenda di bahunya.
“justru gua iri
jadi elo bren, lo kuat. Buktinya lo masih bisa bertahan kan sampai saat ini?
Bren, tuhan udah rencanain sesuatu buat lo nanti. Banyak bren yang sayang sama
lo. Ada tama, orangtua lo, sahabat2 lo, ada gua bren, dan...dan vando” kata
yoga.
Brenda menghadap
yoga, “kenapa bren?”
Brenda
tertunduk, “maaf, maaf buat semuanya. Saat gua pergi dari lo, saat yang paling
bikin gua terpuruk. Maaf banget Ga”
Yoga menghapus
airmata brenda, di tatapnya mata gadis itu, tatapan sayu dari seorang brenda.
“selama lo pergi
dari gua, Cuma satu yang gua harapkan bren. Berharap lo jadi milik gua lagi,”
Brenda
menjauhkan wajahnya dari yoga, “entah Ga”
“kenapa? Apa lo
gak mau sama gua lagi bren?”
“gua ragu”
“ragu kenapa?
Sama cinta gua? Gua masih sayang banget bren sama lo.” Jelas yoga cepat
“gua ragu untuk
memilih lo atau,..”
“Rivando”
Brenda terdiam,
yoga menatapnya lagi. “gak sampai disini bren, gua bakal terus berusaha supaya
lo ada sama gua lagi, dan bikin lo gak ragu lagi untuk milih gua” yoga
tersenyum, dipeluknya gadis yang dicintainya itu.
Tapi yoga
merasakan tubuh brenda bergetar, dilihatnya brenda. Wajahnya pucat, dia juga
kedinginan, yoga melihat brenda masih memakai seragam sekolahnya, dipakaikannya
jaket nya pada brenda dan mengantar brenda pulang.
[di rumah
brenda]
“kak brenda kok
belom pulang ya?” tanya dhena pada siapa saja yang mendengar. Tak ada yang
menjawab. Alvi dan fia menonton TV tapi tidak konsen, begitupun tama dan vando
yang daritadi hanya diam memikirkan hal yang sama, brenda.
Tok tok tok..
Dibukanya pintu.
“brenda?” vando menarik
brenda kepadanya
“muka lo pucet
bren, lo kenapa?” tanya fia.
Vando mentap
yoga tajam, dan langsung menutup pintu tanpa berkata sepatah katapun. Vando
membawa brenda ke kamarnya.
“kak lo udah
minum obat?” tanya tama
“belum tam hehe”
“lo bren, masih
aja nyengir. Gak tau apa kita khawatir” cibir alvi
“yaah, maaf deh
alvi tayangg” kata brenda mencubit kedua pipi alvi bergaya anak kecil.
“jangan kelamaan
kak, tar ada hati yang tersakiti” tawa tama melirik vando dan fia yang hanya
memberi expresi diam dan menatap cuek brenda alvi. Dhena hanya terkikik melihat
sang kakak.
HAHAHAHA
MINGGU PAGI.
Tiara lari pagi
di jalan sekitar taman, dia melihat yoga sedang duduk sendirian di tepi danau
dekat taman. Tiara menghampirinya.
“yoga”
“eh tir...”
“lo masih sayang
sama brenda?” yoga hanya mengangguk
“brendanya?”
“mungkin”
“gini, maksud
gua. gua mau nawarin lo kerjasama sama gua, biar lo dapetin brenda dan gua bisa
dapetin vando” senyum tiara licik
“maksud lo?”
[dirumah brenda]
“van, bangun
van” alvian membangunkan vando yang tidur di samping ranjang tempat brenda
tidur. Ya, vando memang menemani brenda, takut brenda terjadi apa2.
Bukannya vando
yang terbangun, tapi brenda. Brenda pun kaget, dia tidaktau semalam vando tidur
di kursi seperti itu. Brenda mengisyaratkan alvian untuk keluar.
Brenda duduk
dipinggir ranjangnya, disebelah kursi vando. Dia mengusap rambut vando.
“lo pasti capek
banget ya van? Makasih ya lo udah nolongin gua sejauh ini, makasih udah sayang
sama gue, gue sayang banget van sama lo. Walau belum sepenuhnya van, karna
yoga.”
‘dan entah gua
emang belum bisa melupakan yoga, gua harap lo bisa bantu gua’ Brenda mencium
kening vando.
Vando memang
memejamkan mata, tapi dia tidak lagi tertidur. Dia hanya malas bangun saat
dibanguni oleh alvian tadi. Dia mendengar semua ucapan brenda, termasuk kalimat
terakhirnya.
Brenda
mengguncangkan tubuh vando pelan, vando hanya pura2 seperti orang baru bangun
tidur.
“hmm bren, lo
udah sehatan?” melihat brenda sudah tersenyum duduk disebelahnya.
Vando berdiri,
begitupun brenda. Brenda melihat wajah vando yang penuh peluh entah karna
saking capeknya atau apa.
“ lo keringetan tuh van” ujar Brenda
sambil mengelap keringat yang menetes di wajah Vando
dengan tangannya. Vando pun menatap Brenda, ia
pun memegang tangan Brenda yang sedang mengelap
wajahnya.
“ I realy love you” ujar Vando
sambil menatap Brenda dalam. Brenda hanya
tersenyum. Vando pun mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Brenda.
Tangan Vando menaruh tangan Brenda di
pinggangnya, Saat ini dewi asmara pun sedang menghampiri kedua anak muda yang
akhirnya berhasil mengenal kata cinta lagi dengan orang yang
berbeda dari masalalunya. Brenda
menutup matanya perlahan, perlahan rasa hangat itu pun hadir di bibir Brenda, Vando pun
semakin mendekatkan Brenda kedalam pelukannya, Brenda pun
membalas pelukan Vando, Vando
mencium bibir Brenda, Brenda pun
membalas ciuman Vando. Dirangkulnya leher Vando
dengan kedua tangannya. Keduanya hanyut dalam suasana penuh cinta. Perlahan Brenda
melepaskan bibirnya dari bibir Vando, ditatapnya Vando.
“ I love you too “ ucap Brenda, Vando hanya
tersenyum dan mendekap Yolanda ke dalam pelukannya.
‘Yoga maaf, tapi kali ini aku rasa aku telah
menemukan cintaku yang sebenarnya, walau aku masih bimbang
untuk memilih, entah mengapa aku lebih nyaman dengan vando, walau aku masih
menyayangimu juga, yoga’ batin Brenda.
Mendapatkan pelukan hangat dari sesorang Vando,
sekarang adalah hal yang paling diharapkan oleh Brenda.
Karena cintanya telah kembali, hadir dalam sebuah cinta yang baru, cinta dengan
masa depan yang lain, yang berbeda dari sebuah cinta di masa lalunya. Cinta Vando, ya
Cinta seorang Rivando Aviaresky!
Rupanya Alvi, fia, tama dan dhena yang ingin melihat
keadaan brenda pun tidak jadi masuk karena adegan tersebut.
“Astaga, kakak gua ckck” komentar
dhena
“sumpah, kak bren...lo” tama pun
menggeleng.
Tapi alvi dan fia hanya tersenyum
melihat kedua temannya.
Mereka berempat pun tidak mau
mengganggu acara vando dan brenda, mereka turun untuk sarapan pagi.
Tak lama brenda dan vando turun dari
lantai atas, tiba-tiba terlintas sesuatu di fikiran brenda, dia memanggil
alvian.
“al, alvi. Keluar bentar deh, berdua
aja”
Vando, fia, tama dan dhena pun
terheran-heran.
[diluar]
“lo serius bren? Dan lo tau
darimana?” tanya alvian.
“iya, gua serius. Lo mau bantu gua
kan? Gua tau gua ketemu lo di toko buku dan nyari-nyari komik dan besoknya dia
cerita ke gua kalo dia dikasih komik dari lo. Jadi gimana? Ada untungnya juga
buat lo”
“hm peka banget lo jadi cewe. Oke
gua bantu lo” senyum alvian.
Semenjak
kejadian itu, disekolah pun brenda tak mau menemui Yoga, walau sudah berkali2
yoga mendekatinya, membujuknya dan bertanya mengapa sikap brenda berubah
seperti ini. Brenda tak ingin kembali kemasalalunya, walau dia belum melupakan
yoga sepenuhnya. Dia takmau terus terpuruk dengan yoga, karna baginya, vando
dan teman-temannya sudah cukup.
ISTIRAHAT.
“yas, kantin
yuk” ajak tama pada tyas.
“tapi tam, gue
belom selesai nyat...”
“udah ayok” tama
langsung menarik tangan tyas.
Hadi, dhena dan
yolanda hanya bingung melihat tingkah tama. Termasuk dhena, hatinya sakit
melihat orang yang dicintainya bersama perempuan lain, tapi dia sadar akan
status nya dengan tama, hanya sebatas teman. Wajar kalau tama baik kepada tyas,
karna tyas pernah menjadi bagian dari masalalunya tama. Tapi tetap saja hati
tak bisa di bohongi.
Yolanda yang
melihat perubahan expresi dhena makin yakin kalau temannya ini menyukai tama.
...
Brenda dan fia
melihat alvian dan vando latihan futsal. Fia hanya senyum2 sendiri, brenda
menatap arah pandang mata fia, dan tertuju pada...
“alvian?” tanya
brenda
“alvian kenapa?”
fia langsung menengok kearah brenda.
“hha, lo suka
sama alvian kan?” tanya brenda sok menyelidiki sambil menunjuk fia.
“ih brenda apaan
sih enggak kok” alifia hanya tersenyum malu2.
“ahh bohong,
mukalo merah fi serius deh haha”
Fia melihat bola
yang ditendang alvi melesat cepat kearah...
“BRENDAA.......”
BRUuukk...
[UKS]
Alvian berada di
sebelah ranjang brenda, dia merasa bersalah sekali. Jelas, alvi takut brenda
kenapa2, dia tau brenda sedang sakit. Dia memegangi tangan brenda, mukanya
sangat panik. Alvi juga takut vando menyalahkannya jika terjadi apa-apa dengan
brenda, mengingat vando sangat menyayangi brenda.
“brenda maaf..”
alvi terus mengulang-ulang kalimat itu
Tama datang
karna dipanggil fia, vando izin fia, brenda, alvi dan dirinya untuk tidak ikut
pelajaran. Mereka bertiga masuk bersamaan. Fia sedikit kaget, tapi berusaha
biasa dan tetap masuk, begitupun tama yang benar2 panik, dia tak peduli dengan
alvian. Tapi vando, dia berhenti diluar sejenak dan hanya masuk sampai
dibelakang alvian. Alvian pun juga tak peduli dengan teman2nya yang masuk.
“ka alvi, kakak
gua kenapa?” muka tama sudah memelas. Alvi hanya menggeleng.
Jemari brenda
bergerak, “bren? Brenda? Lo gapapa?”
“kak?”
Brenda
mendudukkan posisinya, dia menyadari alvian masih memegang tangan kanannya,
brenda turun dari ranjang dibantu alvi “lo mau ngapain sih bren, lo jangan
banyak gerak dulu apa” tangannya sambil memegangi brenda. Brenda belum
menyadari kehadiran vando yang dibelakang alvian.
Tiba-tiba tama
diam ‘he? Ka alvi kenapa? Cuma sekedar khawatir dan merasa bersalah apa gimana?
Kagak sadar ada kak vando kali ya?’
Brenda merasakan
kepalanya pusing, dan... tiba-diba brenda ambruk dipelukan alvian.
“BRENDA!”
Vando langsung
mengambil alih brenda, membawanya pulang. Diikuti alvi dan fia. Tama tidak
ikut.
Vando mengemudi
dengan kecepatan tinggi, terlihat sekali raut wajah cemas pada vando. Rasa
bersalah alvian semakin besar.
[kamar brenda]
“ahh, kepala
gue. Alvian...” brenda tersadar, nama yang pertama disebut alvian.
Hati vando mencelos,
tapi dia berusaha pisitive thinking.
“brenda, maafin
gua bren. Gua gak tau. Maafin gua, gua takut lo kenapa-kenapa. Maaf bren maaf”
mata alvian berkaca-kaca.
“alvian, alvian
dengerin gue. Gue gak papa al, udah lo gausah merasa bersalah gitu. Lo gak
salah, semua kejadian tadi tuh gak disengaja al, oke?” senyum brenda, alvi
memeluk brenda dan membisikkan sesuatu “akting lo keren bren, gua yakin vando
jealous banget. Lo sekarang udah yakin kan?”
“iya al, thanks
ya. Dan gua juga yakin fia suka sama lo al,”
Alvi melepas
pelukannya. Giliran vando mngambil alih. Vando membelai rambut brenda,
tatapannya sayu. Alvi dan fia meninggalkan mereka berdua. Brenda mendudukkan
posisinya.
Tiba-tiba saja
vando memeluknya.
“ehh, van,
vando?” brenda kebingungan
“gua khawatir
sama lo bren, lo gapapa kan?” suara serak vando sangat terdengar
“maaf ya van”
vando melepas pelukannya
“gua janji bren,
gua bakal jagain lo” ucap vando mantap, brenda tersenyum dan mengangguk
--
Fia dan alvi
menunggu diruang tengah.
“vando sama
brenda sosweet banget ya, envy gue” ucap fia tak sadar.
“eh fi,”
“ya al?”
“lo jealous ya
tadi liat gua sama brenda?” senyum alvi jahil
“eh, eh
eng..enggak kok, apaan sih lo al” fia gelagapan.
“masa sih?”
“engga, eh kok
lo tadi perhatian banget sama brenda?” tanya fia,
“tuh kan lo jealous”
“ihh serius
alvian”
“ya jelas lah
fi, brenda itu sakit dan dia sahabat gua, gua juga pasti merasa bersalah sama
vando, vando kan sayang sama brenda, kalo brenda kenapa2 gara-gara gua, pasti
vando juga marah sama gua, gua udh sahabatan sama kan fi? Gua juga gamau vando
jadi dingin sama gua grgr itu” jelas alvi.
“iya, gua
ngerti. hoam”
“lo ngantuk ya
fi?” tanya alvi
“hmm ya” fia
sudang ngantuk, lelah rasanya juga. Alvi menyandarkan kepala fia di bahunya.
BESOKNYA.
Vando melarang
brenda sekolah dulu, alvi juga. Vando dan fia pun juga, mereka mengantar dhena
dan tama dan membeli makanan untuk cadangan sebentar.
“bren, ini
makanannya. Loh bren? Mana tuh anak? Ah nyusahin gua lo bren” alvi meletakkan
makanannya dan mencari brenda di balkon kamar brenda, dibukanya pintu dan
dilihat brenda sedang berdiam diri, alvi menghampirinya
“bren,”
“eh alvi,” kata
brenda sedikit mengusap kepalanya
“kenapa bren?”
“tendangan lo
mantep juga ya kemaren”
“yah maaf deh
bren gua gak tau kalo bakal kenceng, tapi bren kemaren itu gua beneran panik
liat lo kaya gitu, sumpah bren takut banget gua” alvi sambil melihat kepala
brenda, jarak mereka sangat dekat sekali.
Vando yang
datang tak lama melihat dan mendengar perbincangan brenda dan alvi, ujung
bibirnya ditarik membentuk senyuman ‘sekarang lo udah yakin kan bren kalo
sayang gua tulus sama lo’ vando masih menyaksikan alvi dan brenda.
“sakit al, pelan
dong lo”
“haha maaf bren,
ah gak papa kok ini” alvi mengusap kencang kepala brenda yang terasa sakit.
“alviaaannn,
lo.. ihhh” brenda memukul alvi pelan
“hehe udah bren
udah, maaf deh”
“hmm, dingin yah
al, ah mendung pantes aja anginnya dingin” brenda mengusap kedua lengannya.
“sini gua peluk
sebagai ganti yang kemaren” alvi sudah memeluk brenda dari belakang.
“ahaha alvi,
thanks ya”
Vando sudah
malas melihatnya, dia menghampiri fia saja didapur. Jealous sih, tapi dia sudah
tau alasan brenda sudah senang. Dia menghiraukan alvi dan brenda, dia yakin
alvi hanya berusaha menjaga brenda sebagai sahabatnya.
“hm al, udahan
ah peluk-peluknya tar fia liat aja” kata brenda.
“tar bren,” kata
alvi singkat, brenda bingung dengan alvi tapi dia hanya diam saja.
‘tuhan, apa yang
gua rasain. Gak mungkin kan kalo tiba-tiba gua jadi sayang sama brenda begini,
ini freak banget. Tapi brenda emang cewe yang baik dan bikin orang yang
disekitarnya nyaman, tapi gimana vando?’ batin alvi. Alvi menyandarkan
kepalanya di pundak brenda.
“al?”
“gua pasti
jagain lo bren” kata alvi
“iya al, thanks
ya” brenda menghadap belakang, melihat alvi. Dia meng-iya-kan perkataan alvi,
karna sebagai sahabat memang sudah harus saling menjaga.
Jarak alvi dan
brenda sangat dekat, brenda masih belom menyadari, dia hanya biasa saja menatap
alvi sambil tersenyum. Sedangkan alvi menatap brenda penuh perasaan, sayang.
Sorenya brenda
jalan sore di danau, yang sebelumnya telah memohon-mohon pada vando untuk
keluar rumah. Tiba-tiba yoga menghampirinya, tapi brenda menghindar.
“bren, plis bren
tunggu” brenda pun diam
“ikut gue,” yoga
mengajaknya ke bawah pohon rindang.
“mau apa lo Ga?”
kata brenda jutek
“lo kenapa bren
jauhin gua gitu? Apa salah gua?” yoga minta kejelasan brenda
“untuk apa Ga?
Untuk apa lo kembali lagi?” ucap Brenda yang
kini duduk dibawah pohon rindang bersama Yoga. Di
taman ini, danau yang dulu pernah menjadikan tempat kenangan
terindah untuk Yoga dan Brenda.
“ Gua masih sayang
sama lo, selamanya.”
“sayang?? Hahaha… lucu.” Tawa Brenda
“Gua mohon kasih gua
kesempatan. Gua pengen kita
bisa kaya dulu lagi“ ucap Yoga
“gak mungkin bisa..” ucap Brenda pelan
“kenapa? Kenapa gak bisa? Lo masih
sayang sama gua kan bren? Iya
kan?” tatap Yoga berharap pada Brenda.
“maaf Ga, Gua gak
bisa. Hubungan kita sudah selesai beberapa tahun
yang lalu.” Ucap Brenda berdiri dan beranjak
pergi.
“Brenda… apa karena Vando?”
ucap Yoga yang juga berdiri itu.
“ …………” Brenda terhenti, dan terdiam.
“apa karena lo menyayangi
Vando? Apa lo lebih sayang Vando
daripada gua? Kenapa? Kenapa diam Bren? Apa
kata-kata gua benar?” Ucap Yoga
begitu tegas dan menusuk hati Brenda. Perlahan mata Brenda mulai
berkaca-kaca.
“gua gak ngerti apa yang lo omongin” ucap
Brenda pelan, ia mulai berjalan lagi meninggalkan Yoga..
“berarti kata-kata gua
benar, iya kan? lo gak menyayangi Vando, lo hanya
jadikan dia pengganti gua. Karena gua yakin
lo sama seperti gua,
selamanya kita hanya punya satu cinta.” ucap Yoga.
“CUKUP YOGA!! CUKUP!! gua benci
lo!” ucap Brenda
membalikkan badannya, ia menatap Yoga,
airmatanya tak terbendung lagi.
“maaf Bren, maafin gua” Yoga
menarik Brenda kedalam pelukkannya.
“kenapa? Kenapa lo harus
kembali? Kenapa lo harus kembali saat gua sudah
sedang berusaha melupakan lo? gua benci
lo, gua
ben….” isak tangis Brenda terhenti saat tiba-tiba Yoga
mencium bibir Brenda. Brenda tak
menolak ciuman itu, berlinang airmata Brenda
merasakan kehangatan yang dulu pernah ia rasakan. Yoga
memeluk erat Brenda, ditempat kenangan mereka.
“maafin gua bren, gua janji
gua akan perbaiki semuanya. Gua mohon
kasih gua kesempatan sekali lagi” ucap Yoga
memeluk Brenda.
‘maaf… Vando maafin gua, gua gak tau apa yang
sebenarnya ada dihati gua’ batin Brenda, kini Brenda berada dalam dekapan Yoga kembali
Orang yang sedari tadi mengikuti brenda pun langsung
pergi, tak menyangka. Hancur, itu yang dirasakan. Dia hanya memilih untuk diam.
BESOKNYA DISEKOLAH
Tama sedang di kantin berdua dengan tyas.
“lo kok gak makan tam?” tanya tyas
“bisa gak kita kayak dulu lagi yas?” ucap tama pelan,
tapi cukup terdengar di telinga tyas.
“sekali lagi tam?” tama menggenggam tangan tyas, dia
memajukan tubuhnya. Tyas hanya bisa menutup matanya dan menunggu apa yang akan
dilakukan tama, rasa hangat sudah terasa di bibir tyas, tama memiringkan
kepalanya...
“WOYYY” yolanda, hadi dan dhena datang, tama dan tyas
hanya salah tingkah. Dhena hanya pura-pura tegar.
“ah, ganggu aja lo berdua” tama kesal dan hanya melipat
kedua tangannya.
“tar aja ditempat yang sepi, ini tempat umum tam, Bu
batagor satu” kata hadi sambil duduk didekat tama dan meminum lemon tea milik
tama.
“copet dasar” kata tama mengambil kasar lemon tea nya
“uhuk, weh pelan tam haha”
PERPUSTAKAAN
“nah tuh dia bukunya, ah daritadi kek,” barusaja brenda
akan mengambil buku, ada tangan yang mengambilnya duluan.
“yah alvian..” brenda ngambek.
“haha gausah ngambek bren, nih bukunya” tawa alvi.
“ih rese” kata brenda pelan
“duduk yuk”
“hm, bren gua mau nanya deh”
“iya tanya aja”
“lo masih sayang sama Yoga?” tanyanya hati-hati, brenda
pun berusaha biasa saja.
“kita omongin nanti pulang sekolah di cafe green”
[kelas]
Fia menghampiri meja vando dan menarik kursi brenda agar
lebih dekat dgn vando
“van gua mau nanya deh, lo ngerasa gak sih alvi sekarang
deket sama brenda?” tanya fia serius
“knapa? Lo jealous?” tanya vando biasa saja, vando masih berusaha
menganggap kalau alvi masih berakting dengan brenda. Tapi hatinya juga
bertanya-tanya.
“serius ah van,”
“iya gua juga ngerasa, tapi gua berusaha positive
thinking, mereka berdua juga sahabatan kan fi, dan mungkin alvi juga masih
merasa bersalah jadi pengen jagain brenda” jelas vando.
“tapi van, gue...” raut wajah fia murung. Vando mendekati
fia dan berlutut didekat fia.
“iya fi gua ngerti, tapi fi lo jangan mikir yang
macem-macem. Fi, lo pikir gua gak bertanya-tanya kenapa mereka deket? Gua juga
jealous fi,” vando menenagkan sahabatnya yang hampir menangis. Fia memeluk
vando, vando sudah tau lama fia mencintai alvi. Dia mengerti sekali perasaan
fia. Fia melepas pelukannya
“thanks ya van” senyum fia
[cafe green]
“jadi bener?” brenda hanya mengangguk.
“lo Cuma jadiin vando pengganti yoga dong?” tanya alvian
membuat brenda melotot.
“maksud lo al?”
“gua liat lo sama yoga pas di danau, gua disuruh vando
jagain lo, ya gitulah gua liat dan denger semuanya” jawab alvi datar.
“gak, gak gitu al. Gua bener2 sayang sama vando, gua
emang belom bisa lupain yoga sepenuhnya, tapi gua gak sejahat itu, gak mungkin
gua jadiin vando pelampiasan” jawab brenda cepat, ia tak mau alvi salah paham.
“haha iya bren gua ngerti, gausah panik gitu.”
Vando, fia, tama dan dhena menunggu alvi dan brenda
disekolah
“coba lo sms kakak lo tam”
To: Ka Brenda
Kak brendaaaaaaa, lo
sama ka alvian dimana?
From: Ka Brenda
Lo berempat duluan aja,
gua lagi sama alvian^^
“kita disuruh duluan aja”
Fia dan alvi sekarang juga ikut tinggal dirumah brenda,
“vandoooo” tiara datang menghampiri vando
“apasih tir”
“pulang bareng yuk”
“kagak, awas ah gua mau balik”
Tama melihat tali sepatu tiara sedikit melintang tak
terikat, atak jahilnya kambuh. Dia injak sedikit ujung tali sepatu tiara yang
tak terikat itu.
Vando masuk ke mobilnya, saat tiara ingin menyusul.
BRUKK
“HAHAHAHAA” tawa vando tama fia dan dhena pun meledak,
wulan yang baru datang pun membantu tiara
“muka lo bagus tir, cantik banget haha” tawa fia, muka
tiara terkena kubangan air. Tiara langsung menengok ke tama.
“lo...adek nya brenda. Sama aja lo kaya kakak lo” tiara
menunjuk-nunjuk tama.
“awasin tuh tangan lo, jorok! Eh denger ya ka tiara, lo
ada masalah sama kakak gua, itu problem juga buat gua. haha ayok ka vando,
pulang”
[cafe green]
“eh bren ikut gua yuk”
“kemana?”
Alvi langsung menarik tangan brenda, mereka pergi
menggunakan taxi. Taklama mereka sampai dirumah yang besar, hampir sama dengan
rumah brenda dan vando. Brenda kebingungan mengapa alvi mengajaknya kesini.
Rumah siapa ini?
“rumah siapa al?”
“rumah gua, ayo masuk”
‘rumah alvi? Bukannya alvi itu..’
Saat sampai di dalam brenda masih kebingungan.
“duduk bren”
“al, maaf sebelumnya. Bukannya lo orang...”
“iya, gua tau pasti lo bingung. Ini rumah asli gua bren,
rumah yang selama ini gua tempatin itu rumah anak-anak pinggiran jalan yang
kurang mampu. Gak ada yang tau kehidupan gua yang sebenarnya kecuali vando, fia
dan sekarang elo.”
“tapi kenapa elo gak bilang ke orang-orang kalo lo sebenernya
orang kaya al? Biar lo juga gak di ejek-ejek france lagi”
“gak bren, gua pengen jadi orang biasa aja hehe”
CTARRRR
“haaa alvian gua takut petir” brenda memeluk alvi.
“bren? Haha, lo jagoan tapi takut petir” alvi mengusap
rambut brenda.
1 New Message, Rivando Ganteng
Brenda melihat layar HP alvi
“rivando ganteng?”
“iya itu vando sendiri yang ngasih namanya di contact gua
haha”
From: Rivando Ganteng
Al, lo sama brenda ada
dimana? Udah mau ujan ini.
Awas sampe brenda
kenapa-kenapa
To: Rivando Ganteng
Di rumah gua, tenang bro
dia gua jagain kok.
“bawa obat gak bren? Diminum gih”
“eh iya lupa.” Brenda meminum obatnya.
CTARRRR
“dasar petir, kenapa sih lo kenceng-kenceng banget kalo
bunyi” kesal brenda. Alvi merangkul brenda.
“dasar penakut hahah”
“ih alvian apaan sih” brenda memukul alvi pelan, “udah ah
gua ngantuk” brenda terlelap dalam pelukan alvi.
Vando dan fia menyusul alvi kerumahnya, mereka takmau
membawa dhena dan tama. Saat sampai dirumah alvi mereka berdua kaget. Brenda terlelap
diplukan alvi, begitupun alvi yang terlihat sangat lelah.
“be pisitive thinking” senyum vando, dia membangunkan
brenda.
“emm, van” jawab brenda masih terlihat ngantuk, vando
mengankatnya, meletakkan tangan kanan brenda melingkar di lehernya dan membawa
brenda ke mobil.
“al, alvi bangun” fia membangunkan alvi.
“kenapa bren? Eh, fia. Sorry sorry gua kira brenda.
Brenda mana?” dia kaget yang dihadapannya ini fia. Dengan cepat alvi memeluk
fia, fia kaget setengah mati, dia membalas pelukan alvi. ‘fia maafin gua, gua
gak mau lo tau kalo gua sayang banget sama brenda, maaf gua bikin lo berharap
banget sama gua gini, maaf fi maaf’
“ehm..” vando berdehem, niatnya ingin memanggil fia dan
alvi, vando tersenyum ‘ya, alvi emang sayangnya sama fia, gak mungkin beneran
suka sama brenda’
--
“tam, menurut lo lebih baik jujur apa bohong?” tanya
dhena yang sedang mengganti-ganti channel tv pada tama yang sedang asik main
psp nya.
“ya jujur lah dhen” jawab tama
“walaupun soal perasaan?” tanya dhena meyakinkan,
pandangannya beralih pada tama.
“iya”
“tam,”
“hmm”
“gua suka sama lo”
-GAME OVER- game yang di mainkan tama pun bersamaan
dengan omongan dhena.
Tama diam sejenak,
“dhen? Lo bercanda kan?” dhena menggeleng.
“lo tau kan gua masih sayang banget sama tyas, gua..gua
gak bisa bales perasaan lo” tama langsung pergi ke kamarnya meninggalkan dhena.
‘gua berusaha jujur tam’
BESOK PAGI
“bi, bikinin aku susu dong” kata brenda,
“tumben bren” kata alvi. Brenda hanya nyengir
“iya non”
Vando, alvi, fia, brenda dan dhena sedang memakan sarapan
mereka.
“tama mana bren?” tanya vando.
“gak tau, gak biasanya dia kesiangan” sahut brenda
menggigit roti terakhirnya. Tak lama tama turun dari atas dan melewati mereka
semua dengan cepat.
“tam, gak bareng?” tanya alvi, tama hanya diam dan
memakai sepatunya.
“lo gak sarapan?” tanya brenda, tama masih diam.
“ini non susunya” kata bibi.
“gak jadi bi, buat bibi aja” brenda langsung bangkit dari
kursinya, menarik tas nya dan menyusul tama yang sudah selesai memakai sepatunya.
Buru-buru brenda memakai sepatu dan menyamai langkahnya dengan tama.
“tama kenapa dhen?” tanya fia yang tau kalau dhena teman
tama, dhena mengangkat bahu.
“tam,”
“apa?”
“gua tau lo ada masalah” kata brenda sambil tetap
berjalan menuju halte
“gak” brenda berhenti dan memegang bahu adiknya, tama tak
menatap brenda.
“tam, gua kakak lo. Gua yang jagain lo dari kecil kalo
mama papa pergi. Gua tau persis lo lagi ada masalah. Sekarang cerita sama gue”
[SEKOLAH]
“tama kok belom dateng dhen?” tanya hadi
“kenapa nanya ke gua, bisa ke tyas” jawab dhena datar.
“maksud lo dhen? Kenapa harus gua? kan lo yang tinggal
serumah sama dia”
Dhena mendekati tyas dan menunjuknya “lo kan cinta
masalalunya!” ucapnya penuh penekanan.
“bener” ucap yolan
“bener apanya yol?” tanya hadi
“dhena emang suka sama tama, setiap tama sama tyas
berdua, dan pas tama nolongin tyas dari kakak nya, gua liat tatapan dhena kaya
tatapan kesal dan jealous” jelas yolan
[KEDAI ICE CREAM]
“ya gua kan bingung kak, nih ya. Lo sama ka vando aja
deket, saling cinta saling sayang. Lo kalo kawin sama ka vando, apa iya gua
sama dhena nyusul juga? Kan freak banget” jawab tanya sambil memakan ice cream
cokelat nya
“trus apa yang mau lo lakuin? Diemin si dhena? Jauhin
dia?” tanya brenda, mereka memutuskan untuk tidak sekolah hari ini.
“gua gak mau php, jauhin sih engga. Cuma gamau terlalu
care banget” jawab tama
“arrgh”
“kak lo kenapa? Hah?” tama mendekati kakak nya.
‘ya tuhan jangan sekarang’
BRUKK
[RUMAH SAKIT]
Vando masih terjaga. Fia, dhena dan tama pulang kerumah.
Alvi duduk di sofa memandang brenda dan vando. ‘lo sama vando kayaknya emang
susah di pisahin ya bren’ alvi bangkit dari sofa dan memutuskan untuk
meninggalkan rumah sakit. Dijalan ia bertemu Rahma ‘mati gua’
“hai alvian” sapa rahma
“mau apa lo?”
“santai dong al, gua bukan mau nembak lo lagi kok. Gue
kan udh punya cowok” pamer rahma
“syukurlah, siapa? Emang ada yang mau sama lo? haha” ejek
alvian sambil berjalan.
“ish alvi, adalah. Si resky. Oh ya lo mau kemana?”
“engga, tadi abis dari RS nganterin brenda. Lo sendiri?”
“gua baru balik dari sekolah grgr libur dadakan tadi.
Brenda sakit apa al?” tanya rahma
“demam. Eh gua boleh cerita sama lo?” jawab alvi bohong
“anytime al”
Lalu mereka pergi
[RUMAH BRENDA]
“lo gimana sih tam, masa gitu aja lupa” kata fia.
“sorry kak, tadi gua abis kesel. Trus curhat sama dia,
keterusan deh ampe lupa sama kesehatan dia. Makan ice cream lah dia” jelas tama
sedikit menyesal
Dhena menuruni tangga dan melirik tama sebentar.
“kak, gua ke kamar dulu ya mau prepare jenguk ka brenda”
‘lo kenapa sih tam’
[CAFE GREEN]
“hah? Lo serius al? Brenda kan sahabat lo, trus vando?”
respon rahma setelah mendengar cerita alvian.
“itu yang gua bingungin rahma”
“trus lo nyerah gitu aja al?” tanya rahma, alvi hanya
diam.
“lo bisa al, mereka belom ada status. Lo bisa hadir di
tengah tengah mereka dan rubah semuanya” kata rahma
“apa bisa? Mereka saling sayang rahma, dan sekarang vando
selalu disamping brenda”
“lo cari cara kek supaya vando sibuk”
Alvi masih memikirkan perkataan rahma. Apa bisa? Vando
sahabatnya. Haruskah alvi melakukan hal itu hanya karna seseorang yang baru
hadir di kehidupan mereka.
BESOKNYA.
Alvi membangunkan Tama, dhena dan fia yang menginap
dirumah sakit dan bergegas untuk sekolah. Tapi vando menyuruh alvi untuk
menggantikan posisinya sementara untuk menjaga brenda, karna harus ada sedikit
urusan yang harus ia kerjakan disekolah. Kesempatan bagus untuk alvian.
Alvi sedang berbincang-bincang dengan brenda, brenda
belum lama sadar, dia juga tak terlalu banyak bicara dan tertawa, dokter
memasuki ruangan brenda
“Brenda, bisa ikut saya keruangan? Kamu juga nak, ikut
saya” kata dokter pada alvi dan brenda, dokter sengaja mengajak alvi supaya ada
yang menemani brenda saat dia tau keadaannya
@ ruang dokter.
Dengan senyum ramah tapi maksa dokter menyambut Brenda dan Alvian.
“ silahkan duduk Brenda dan....!” suruh dokter dengan nada rada
nggak enak.
“alvian dok” jawab alvi.
“akhirnya kenapa saya dok? nggak papa kan? dokter sih
kebanyakan acara!” cerosos Brenda seenaknya tapi berhenti pas diliatin Alvian.”
Hhe..maaf dok !” lanjut Brenda sambil nyengir. Liat ekspresi Brenda yang
tetep ceria tapi seenaknya sendiri raut muka dokternya
jadi tambah gak enak.
“gimana hasilnya dok ?” tanya Alvian yang
mulai nggak enak liat ekspresi dokternya.
“silahkan anda baca!” kata dokter sambil ngulurin
amplop coklat yang didepannya ada logo sama nama rumah sakit. Alvian buka
pelan2 amplopnya, terus dia baca pelan2 dan
baca bukan Cuma sekali buat meyakinkan kalo yang dia baca itu bener. Setelah baca raut muka Alvian berubah jadi sedih, kertas yang dia baca sedikit basah sama air mata.
baca bukan Cuma sekali buat meyakinkan kalo yang dia baca itu bener. Setelah baca raut muka Alvian berubah jadi sedih, kertas yang dia baca sedikit basah sama air mata.
“gak mungkin dok !” Kata Alvian
“saya juga berharap begitu, tapi hasil tes
laboratorium di rumah sakit ini dijamin kevalitannya.” Jawab dokter. Brenda jadi
bener2 bingung. ’Kok gue kaya liat sinetron
ya?!’ pikirnya.
“Al, lo kenapa? Gue kenapa al ?” Brenda
ikutan kawatir. Tangan Alvian yang masih gemeteran ngasih kertas yang dia baca ke Brenda. Brenda baca
kertas yang bertuliskan namanya itu pelan2. Brenda nunduk lemes baca kalimat terakhir leukimia
stadium 4.
“ini beneran dokter ?” tanya Brenda
pelan berusaha sekuat mungkin biar dia nggak down buat Alvian sahabatnya. Dokter ngangguk yakin.”Kok bisa?” lanjutnya masih belum bener2 percaya.
“sampai sekarang kami balum tau penyebab penyakit
kamu, bisa saja karena gaya hidup yang kurang sehat, radiasi, atau faktor
keturunan.”
“saya masih bisa sembuh kan dok ?”
“kesempatan sembuh itu pasti ada nak, kamu bisa
malakukan kemoterapi dan pencangkokan sumsum tulang belakang, saya akan
memberikan obat untuk menghambat pembentukan sel darah putih di tubuh kamu.”
Jawab dokter datar.
“cangkok sumsum tulang belakang dok ?” tanya Alvian yang
akhirnya buka mulut.
“iya ! kita bisa mengambil sumsum tulang belakang dari
keluarga atau orang yang cocok dan kita transplantasikan ke sumsum Brenda.”
Jelas dokter.
”Brenda, ada beberapa pantangan buat kamu, jangan merokok,
minum sembarang obat atau minum minuman keras, jaga makanan kamu dan yang
paling penting kamu tidak boleh kecapekan, karena kalau kamu kecapekan sedikit
kondisi kamu bisa langsung drop.”
“kalau soal rokok dan yang lain saya percaya Brenda bisa
jaga dok, tapi urusan kedua Brenda orangnya
gak bisa diem dok,” Jawab Alvi mengingat Brenda berantem dengan France
“ini buat kebaikan kamu sendiri Brenda,
kondisi kamu sekarang tidak sekuat dulu.”
“saya usahain deh dok ! Masalah kemo, saya pikir2 dulu
ya dok, masih mikir efek sampingnya.” Jawab Brenda sekenanya.
“ini resep yang harus ditebus, dan
kalian bisa konsultasi kapan saja.”
“baik dok! kami permisi dulu.” pamit Brenda
terus berdiri dari kursinya, Spontan
Alvian peluk Brenda dan
ngusap lembut kepala Brenda.
“Brenda, Gua pasti
jagain lo.” Ucap Alvian
“Al, lo boleh sedih sepuas lo sekarang,
tapi Gua minta setelah ini lo jangan sedih dan lo jangan bilang fia maupun vando soal ini, Cuma lo yang
tau al dan tama , jadi Cuma lo dan tama yang bisa bener-bener suport gua saat
ini” kata Brenda pelan.
“iya Bren, gua janji! tapi lo juga harus janji sama gua kalo lo bakal
sembuh !”
“ pasti Gua bakal sembuh al”
“tapi bren, soal
fia dan vando mereka punya hak buat tau.”
“tapi gua nggak mau mereka sedih dan nganggep gua gak bisa ngapa2in,
gua gak bisa bayangin ancurnya mereka kalo mereka tau keadaan gua sekarang.”
Jawab Brenda sambil nunduk.
“iya Gua janji! sekarang kita tebus obat lo dulu!” ajak Alvian sambil
senyum.
“hayu..” jawab Brenda semangat.”Permisi lagi ya dok, maaf
jadi tempat drama remaja deh ruangan dokter.” Kata Brenda
sambil nyengir.
”Jangan kapok ketemu saya ya dok! Bakalan sering ketemu
kayanya kita dok! hhe..” Alvian sama dokter yang tadinya tegang, senyum lagi
denger kata2 Brenda barusan, walaupun senyum2 miris.
“jangan telat minum obat ! jangan kecapekan !” pesan
dokter.
“siap dokter ! boleh jewer deh kalo saya sering kumat
!” jawab Brenda seenaknya.
[RUMAH BRENDA]
@ kamar Brenda.
Brenda duduk di ujung tempat tidurnya sambil liatin bungkusan yang isisnya
beberapa botol dan beberapa bungkus obat yang dia pegang di tangan kiri, tangan
kanannya pegang amplop hasil cek labnya. Pikirannya dipenuhi
banyak pertanyaan,
tuhan apa salah kalo sebenernya saat
ini saya takut banget sama penyakit ini yang bisa ngambil
nyawa saya kapan saja? Apa salah kalo sekarang saya ngrasa kalo
saya udah nggak ada artinya, saya bakal Cuma
jadi orang yang ngrepotin banyak orang? Hal yang paling saya benci dari dulu! Ngrepotin orang lain! Mama, papa, Tama apa gue
masih sanggup buat banggain dan bahagiain kalian? Buat jadi yang terbaik buat
kalian?
Sesuatu yang dia tahan dari tadi akhirnya leleh juga.
‘minimal gak ada yang liat kalo gue lagi hancur
apalagi nangis!’ pikir Brenda sambil usap air matanya. Dia liat jam diding kamar
yang bentuknya Matahari, jam ½ 7 waktunya makan malam.
Dia siap2 dan pastiin kalo matanya gak sembab, untungnya emang enggak. Dia
turun bawa obatnya.’lama bener ya gue merenung?!’ pikirnya.
@ ruang makan.
Vando, alvi, fia, tama dan dhena udah siap di meja makan sambil nungguin Brenda.
Mereka liatin Brenda yang tetep seperti biasanya, semangat, mereka liatin Brenda
dengan tatapan yang susah diartikan.
“kenapa? Kok liatinnya gitu banget? gua tambah
keren ya? Atau tambah cantik malah?” tanya Brenda pura2 gak ngerti
sambil duduk di kursinya dan naro obatnya di depannya.
“kepdan lo !” ceplos Tama.”Gue salut
sama lo kak ! lo hebat !” lanjutnya.
“ hha..baru tau lo? Akhirnya lo sadar juga!”
“ emang urat pd lo kepanjangan ya? baru dipuji gitu
aja kesenengan!” Tama sewot.
“ iya kali! Hehe”
Setelah selesai makan.
“Bren..” panggil alvi pelan, Brenda menghentikan kegiatannya, minum
obat, dia liatin alvi.
“hmm..” jawab Brenda pelan.
“lo kemo ya” suruh alvi hati2. Brenda
nunduk. ”gimana bren?”
Tama pun datang
“Al, kasih gua waktu mikirin itu ya?” jawab Brenda
pelan.
“kak, gua tau lo udah dewasa
buat nentuin jalan lo kak, kita bakal dukung semua keputusan lo, tapi ini buat lo juga kak! Penyakit lo gak main2, tadi kak alvi habis tes darah buat cari tau apa sumsum kita cocok buat lo, dan kalo gak bisa nggak ada jalan lain buat lo kecuali kemoterapi.”
“ heuhh..” Brenda menghela napas panjang. ”gua ijin keluar
sebentar, cari angin.” Pamit Brenda pelan, “eh iya, mama papa jangan sampe tau kalo penyakit gua makin parah. Tadi di
kamar gua di telpon mama, mereka balik belum tentu bulan depan, bisa lebih. So,
waktu lama itu bisa gua gunain untuk berobat sampe sembuh sampai nereka pulang.
Oke gua pergi” Brenda pun langsung pergi
“hati2 bren” pesen alvi.
Di taman langit tempat yang dituju Brenda.
Taman langit itu tempat pribadinya Brenda sama
Yoga selain danau waktu mereka pacaran, dia sama yoga yang sering kesini, tempatnya gak jauh dari rumahnya.
Taman langit itu padang alang2, kalo siang angin bakal
bertiup kenceng, tapi kalo malem malah nggak banyak angin, kenapa dibilang
taman langit, itu nama kesepakatan Richard sama Yoga, soalnya
waktu mereka pacaran, di tempat ini mereka bisa ngrasain kalo langit itu
deket banget sama mereka.
Brenda juga gak ngerti kenapa perasaannya bawa dia ke tempat itu. Brenda
tiduran di rumput sambil liat bintang dilangit yang lagi banyak2nya.
“udah berapa lama gue gak kesini ya? Yoga masih inget
tempat ini gak ya?” Brenda ngomong ke dirinya sendiri. Brenda atur
napasnya biar dia tenang, dia stel lagu dari ipodnya, dia
gak milih lagunya, asal main aja, dia merem minta jawaban dari tuhan. Macem2 lagu diputer, dan nggak sengaja semua lagu itu ngasih inspirasi ke Brenda. Hatinya makin yakin pas denger suaranya sendiri sama Yoga dulu, waktu Yoga lagi terpuruk2nya saat meu
ditinggal Brenda ke USA, jangan
menyerah. Brenda nyanyi2 kecil.
Tak ada manusia yang terlahir
sempurna
Jangan kau sesali sgala yang telah
terjadi
Kita pasti pernah dapatkan cobaan
yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya
lagi
Syukuri apa yang ada hidup adalah
anugrah
Tetap jalani hidup ini melakukan
yang terbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar dan tak
kenal putus asa..
“ gue tau, gue bakal lanjutin hidup gue! Brenda
bakal tetep jadi Brenda yang dulu! Gue bakal tetep berusaha jadi yang terbaik
buat kalian semua yang gue sayang dan sayang sama
gue.” Tekat Brenda mantab. Setelah itu Brenda pulang.
gue.” Tekat Brenda mantab. Setelah itu Brenda pulang.
@ rumah Brenda.
Brenda langsung katemu Tama.
“bro, ada yang lupa gue omongin sama lo” kata Brenda samangat
sambil duduk di kursi sebelah Tama.
“apaan ?”
“lo jangan sampe ngomong kesiapapun tentang penyakit gue. Terutama
sama Vando dan ke temen2 gue.”
“tadi ka alvi udah bilang! kenapa? Cepat atau lambat mereka juga
pasti tau kak! Kalo mereka gak tau siapa yang bakal jagain lo kalo gak ada gue sama ka alvi? Mama papa gak dirumah kak”
“gue bisa jaga diri gue. Gue juga tau
cepat atau lambat mereka bakal tau, apalagi kalo gue udah kemo, pasti fisik gue
bakal ada perubahan, tapi mudah2an gue tetep cantik deh! Eh,
tapi pasti tetep cantik, gue mah diapain aja cantik! tapi buat
saat ini gue belom mau ngasih tau mereka, ngerti
nggak lo ?”
“lo mau kemoterapi kak ?” tanya Tama memastikan.
“iya! Gue juga belom bosen idup.” Jawab Brenda
sekenanya.
“syukur deh kalo gitu” kata Tama agak
seneng.
“gue tidur dulu bro! Lo jangan ngeluh ya kalo gue
repotin !” Brenda jalan keluar kamar Tama.
“iya! Asal loe nggak sering2 aja ngrepotin gue!” jawab
Tama sambil benerin tidurnya.
Keesokan harinya pas jam istirahat.
Brenda memang memaksakan untuk
masuk sekolah. Dia tidak ikut vando fia dan alvi ke kantin, dia bawa makanan
dari rumah. Setelah selesai, tiara menghampiri brenda.
“ngapain lo?”
“jangan harap dapetin vando ya
bren! Vando Cuma punya gua, ngerti?”
“gak”
“nyolot lo,” tiara siap menampar
brenda, tapi ditahan yoga
“jangan main kasar, pergi lo”
Tiara sewot dan pergi. Yoga
menarik kursi vando mendekati brenda.
“gua tau bren,”
“tau apa?” Brenda berusaha biasa
saja pada Yoga, masih ingat betul kejadian saat dengan yoga.
“penyakit lo semakin parah” ucap
yoga pelan, “gua gak akan diam aja bren, gua bakal terus jagain lo”
“makasih”
“minum obat lo sana” yoga tau jam
segini brenda harus minum obat, karna dulu dia juga sering mngingatkan brenda. Benar,
brenda hampir saja lupa. Vando yang ingin masuk kelas terhenti diluar kelas,
‘gua kalah cepat sama yoga’
[PERPUSTAKAAN]
Fia minta ditemani alvi sehabis
dari kantin tadi, alvi menurut saja. Alvi ikut membantu fia mencari buku fisika
kelas 11. Tiba2 fia bertanya
“al, lo suka sama brenda”
BRUkk. Buku yang alvi pegang
tejatuh, “kenapa al?”
“enggak, gapapa fi. Gak kok gua
gak ada rasa apapun sama brenda”
“tapi gua liat semakin hari lo
semakin care sama dia?”
“emang gak boleh? Diakan sahabat
gua juga fi. Dia juga lagi sakit. Kalo gak ada vando, pasti gua jagain dia lah,
eh fi gua kekelas duluan”
Tama dari tadi Cuma diem, gak bawel dan nyeplos aneh2 kaya biasanya, jam
istirahat juga dia gak ke kantin, satu yang dia pikirin, Brenda. Tyas, dhena, hadi sama yolan juga jadi
bingung, kali ini tama ada
masalah apa?
“lo kenapa lagi tam?” tanya Yolan
mengintrogasi.
“gue gakpapa” jawab
France.
“tapi kok lo dari tadi diem? Sakit gigi lo?” tambah Hadi yang niatnya membuat tama tertawa, tapi tak berpengaruh
pada tama.
Pulang sekolah brenda pergi
dengan alvi. Vando dan yang lainnya pulang duluan, yang sebelumnya alvi izin
membawa brenda.
[mobil]
“makan es krim yuk! Biar adem pikiran gue, stres gua mikirin penyakit” Usul Brenda.
“Tapi bren, lo kan....!"
“sekali-kali al,
plis. Mumpung si vando gak liat. Di depan ada kedai eskrim enak banget. Gua
suka kesana sama tama” jawab brenda cepat
“lo denger es krim semangat banget sih bren? Senengan mana denger kata es krim
sama denger kata Alvian? haha”
“enak tau! Cuma orang bego yang gak doyan es krim,
em..buat lo sama es krim, tinggal mood gue aja! Sekarang gue lebih seneng dan
lebih mood denger kata es krim.” Jawab Brenda yang udah kumat bawelnya.
“jadi mending es krim ni daripada gue?”
“untuk saat ini sih gitu al heheh!”
“rese loe! Aturan kalo lo anggep gua sahabat, gue salalu berarti dong buat lo, kapanpun, ini malah es krim lagi
saingannya.” Alvi bercanda.
“aturan darimana tu? Kayanya gue belum teken kontrak
buat tu aturan deh?”
“rese lo!”
“lo yang rese buat aturan gak jelas!”
“rese!”
“rese!”
“lo!”
“lo”
“lo!”
“terserah deh!”
“ udah nyampe, mau turun nggak lo?” tanya Alvi sambil buka
pintu mobilnya.
Mereka masuk ke kedai es krim, bangunannya masih jadul
banget. Setelah pesen Brenda sama Alvian duduk di meja deket stage kecil yang diatasnya ada
piano.
“Al, loe tau gak cita2 gue?” tanya Brenda sambil liatin piano di meja.
“setau gue loe pengen jadi pianist terkenal, bener gak
?” tanggap Alvian sambil ikut liatin piano di meja.
“ kok lo tau?”
“tar gue bilang gue gak tau, lo ngambek sama gue.”
“ya lo tau dari mana?”
“banyak sumber, termasuk tama, kapan2 loe
main buat gue ya!” pinta Alvian.
“iya deh.”
“lo kalo punya cita2 kejar yang bener, gue juga pengen
liat loe konser pardana, dengan bintang tamu penyanyi muda yang sangat berbakat
Alvian Riza Dwiantama.”
“tumben ceramah loe mutu? Tapi belakangnya tetep aja
narsis!”
“hha..lo aja yang nggak pernah meresapi omongan gue”
“Al gue boleh tanya sesuatu nggak sama lo?” tanya brenda
belom jadi Alvian jawab pembicaraan mereka dipotong
sama pelayan yang nganterin pesenan. Setelah pelayannya pergi.
“ boleh.” Jawab Alvian disambung nyuap es krimnya.
“kalo seumpama gue jadi cewe penyakitan
dan gak bisa diandalin, kalo gue gak secantik sekarang, gue jadi lebih jelek dari
sekarang, lo masih mau temenan sama gue?” tanya Brenda becanda setengah serius.
“lo mau gue jawab jujur atau jawab yang bikin lo
seneng?”
“kalo bisa yang jujur tapi nyenangin gue!”
“gue gak mau temenan
sama lo.” Jawab Alvian
becanda tapi nadanya serius. Brenda melotot.
”gak lah! Gue sayang sama lo bren, gue janji
gue bakal tetep terima lo jadi temen gue
gimanapun keadaan lo, kalo gue Cuma mau lo yang perfect
dan gak mau terima kekurangan lo namanya gue gak Cuma
obsesi dan itu artinya gue egois.”
“jawaban loe asik dah Al! terus apa
yang bakal lo lakuin kalo seumpama gue udah penyakitan total dan gak bisa apa-apa ?”
“lo jangan ngomong gitu bren. pertanyaan lo aneh2 mulu?!”
“pengen tanya aja sekali2, lo jawab dong!”
“gue bakal tetep berusaha jadi temen yang
terbaik buat lo, mungkin jawaban gue gak nyambung sama pertanyaan lo, tapi apa
kita bakal tau apa yang bisa kita lakuin di depan?”
Brenda Cuma senyum denger jawaban Alvian. Alvian hanya nyengir.
Brenda Cuma senyum denger jawaban Alvian. Alvian hanya nyengir.
“gak tau kenapa kalo gue liat lo gue pasti inget
sapi.” Kata brenda spontan.
“eh, enak aja lo nyamain gue sama sapi?!”
“beneran deh! Apalagi kalo lo lagi cengar-cengir!
Hhi..”
“mending gue kaya sapi daripada lo kaya kebo, suka
pasang tapang bloon walopun aslinya emang bloon, malesan lagi!”
“enak aja loe katain gue kebo?! Dasar sapi jelek!!”
“kebo!”
“sapi!”
“kebo!”
“sapi!”
“bentar al! Kok lidah gue enak ya panggil lo
sapi, gue panggil lo sapi ya? Itung2 panggilan gitu?!”
“ye..nama bagus2, Alvian, lo ganti sapi! Ogah! Dasar kebo!”
“ sapi..sapi..wleek..” ledek Brenda kaya
anak kecil.
“ abisin yuk es krimnya keburu sore!”
[RUMAH BRENDA]
“arggghh” erang brenda.
“bren, lo kenapa?” tanya vando
disebelahnya yang sedang nonton tv
“gakpapa kok van” brenda menahan
sakitnya, dan menundukkan kepalanya.
“bren gapapa? Serius lo? Tadi lo
kenapa ngerang gitu?”
Brenda melihat ke arah pintu
masuk, Tama yang baru datang dr luar melihat mimik wajah brenda sudah memohon
untuk membantunya. Tama mengerti.
“kak, ajarin gue dong. Gue ada PR
fisika nih”
“eh yaudah, yuk ke kamar gue! Van
gue ngajarin tama dulu ya” senyumnya
“tapi bren...”
“gue gakpapa van. Yuk tam”
[KAMAR BRENDA]
“tuh kan, coba tadi gak ada gue, abis
lo ketauan kak vando! Kalo seandainya kak vando tau pasti kan dia bakal bantuin
lo kalo gue atau ka alvi lagi gak ada” kata tama setelah memberi brenda obat.
“tapi nyatanya gue terselamatkan.
Iyakan?” brenda nyengir
Tama salut dengan kakak nya, disaat
seperti ini, dia masih bisa tertawa dan bercanda.
“kenapa sampe sekarang lo gak ngeluh sama sekali sih
kak? gue pernah baca tentang penyakit lo dan itu kalo kambuh itu sakitnya luar
biasa, kaya ditindes tronton, efek leukimia itu bisa kambuh dibagian tubuh
manapun.”
“soalnya gue belom pernah ngrasain ditindih tronton,
gimana gue bisa bilang kaya ditindih tronton, lo kok malah tau rasanya tam? Yang gue
tau Cuma satu, gue gak bakal sembuh kalo gue ngeluh terus2an.” Jawab brenda.
“Apa lo nggak pernah ngrasain sakit?”
“sakit? Banget! Lo taukan kalo penyakit gue ini bisa
kambuh dengan berbagai reaksi, kadang kepala gue kaya diremes2, kadang badan
gue tiba2 lemes, perut gue mual banget, badan gue kaya pengen copot semua,
paling ringan pegel2, tapi gak usah dipikirin! Kalo lo gak ngrasain juga gak
bakal ngerti, tapi jangan sampe deh lo ngrasain!”
“sabar ya kak! gue yakin lo pasti sembuh!”
“amin.” Jawab brenda.
Keesokan siangnya.
[KANTIN]
Sedang diadakan penghitungan perolehan suara pemilihan
ketua osis. Tama yang mencalonkan diri
berusaha biasa. Tama ditemenin Hadi nunggu
pengumuman dikantin sambil makan kacang dengan santainya tapi tetep ngarep kalo
dia yang jadi. Dan..jeng..jeng.. diakhir perhitungan guru yang menjadi saksi
memberikan pengumuman dari speaker.
“dan akhirnya ketua osis SMA Pelita Bangsa tahun ini adalah Harry Pratama, dan pelantikan akan dilaksanakan pada upacara
bendera hari senin”
“siapa tadi bro?” tanya Tama yang bener2
nggak denger.
“Harry Pratama.” jawab Hadi datar, masih nggak nyadar kalo yang
dipanggil itu sohibnya.
“em..” tanggap Tama juga datar, gak nyadar kalo itu
namanya.”Hah? Siapa tadi bro? Harry Pratama? Itu nama gue kan?” kata Tama girang setelah sadar kalo itu namanya.
“oh iya! Selamat bro!” kata Hadi girang juga
setelah itu dia peluk Tama.
“ France mamen..loe jadi ketua osis bro!” sorak vando yangbaru
dateng abis jadi saksi perhitungan, diikuti brenda, fia dan alvi
Terus dia peluk Tama bergantian.
“Hadi gue masukin kabinet gue ya!?” tawar Tama belagak
kaya presiden.
“gaya lo bro!” kata Hadi, Vando sama
Alvi sambil noyor Tama.
“ tapi boleh deh! Itung2 berbakti pada nusa dan
bangsa.” Tambah Hadi.
“ heh! Lo mau jadi pengurus osis doang! Bukan
mau jadi mentri.” Kata Tama.
“biarin! Siapa tau dari pengurus osis gue bisa jadi
pengurus negara?!”
“gue amin aja dah! Sukur kalo tu mimpi kecapaian!”
kata Tama.
Tyas, Dhena sama Yolanda dateng ke kantin nyariin Tama buat kasih
selamat.
“Tama, selamet ya! jaga tanggung jawab lo!” ucap Yolanda
sambil nyalamin Tama.
“makasih yol..” jawab Tama sambil
senyum.
“selamat ya Tam!” Tyas ngulurin
tangannya.
“iya yas, makasih ya!” jawab Tama sambil
jabat tangan tyas.
“jangan disalahgunakan kepercayaan yang dikasih buat
lo ya Tam!” nasehat Tyas sambil senyum.
“beres cantik,.” Jawab Tama sambil
mainin alisnya.
“hoek...hoek..” Hadi sama Dhena pura2
pengen muntah.
“apa loe berdua? Ngiri?”
“ najong dah omongan lo, jiwa playboy lo dasar!”
Setelah itu semua anak yang ditemui Tama ngucapin
selamat.
“bro, pegel tangan gue, gue pinjem tangan lo dong?!”
Bisik Tama ke Hadi.
“derita lo deh bro!” bisik Hadi sambil
terkekeh
__
“kenapa bisa adeknya brenda ya yg jadi ketua osis?” tanya
france pada resky
“gue gaktau, emang kenapa? Lo gak rela lepas jabatan?”
tanya resky
“gimana rela, gua gakbisa nyuruh2 lagi dong”
“bukannya bagus? Coba aja lo pancing2 emosinya si Tama,
kalo dia emosi fikirannya gak jernih dan bisa menjelekkan nama dia. Abis deh
cacian dari temen2. Ta gak?”
“bener banget ide lo, haha high five bro” tos.
“hai sayang” rahma datang.
“yaelah kacang lagi deh gua” kata france.
“hmm haha, oke deh france dadah”
[taman sekolah]
“resky“ panggil rahma
“ya sayang?”
“kamu kenapa benci sama vando alvian fia dan brenda?”
tanya rahma hati-hati
“kamu kenapa nanya gitu?” tanya resky
“gapapa, mereka kan orang-orang baik. Knapa kamu sama
france suka jahatin mereka?”
“aku gaktau juga, setiap orang yg france benci, pasti
rasa itu nular ke aku juga.”
bersambung
No comments:
Post a Comment